Ketika pulang kampung kemarin, saya sampai di kota kelahiran saya dan turun dari bus sekitar jam 5 pagi kurang sedikit. Dari pemberhentian bus masih beberapa kilometer lagi untuk mencapai rumah saya. Karena masih cukup pagi, saya tidak ingin membangunkan kakak saya untuk sekedar menjemput. Toh saya nanti bisa naik ojek di jalan masuk ke desa tempat orang tua saya tinggal.
Setelah berjalan kaki sekitar setengah jam, saya sampai di jalan masuk menuju kampung saya. Ternyata pangkalan ojek masih sepi, dan tidak ada tanda-tanda kendaraan yang lewat. Akhirnya saya putuskan untuk berjalan kaki saja, toh hanya beberapa kilometer jaraknya.
Sambil berjalan kaki dan menikmati udara pagi yang sangat segar, saya sedikit bernostalgia dengan jalan yang saya lewati. Dahulu kala, ini jalan yang saya lewati sehari-hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Sekarang jalannya di-cor beton karena aspal tidak mampu menahan pergerakan tanah yang labil.
Lalu lewatlah seorang bapak-bapak dengan becak dan seikat batang pohon bambu yang ditaruh di atasnya. Bambu tersebut akan dibawa ke pasar bambu yang letaknya tidak jauh dari pasar kota. Saya sempatkan untuk mengambil gambarnya meskipun hasilnya kurang sempurna, maklum matahari belum terbit dan lampu kilat di kamera tidak seberapa kekuatannya.

Saya jadi ingat jaman kecil dahulu, mulai jam 2-3 pagi jalan di depan rumah sudah ramai dengan suara orang yang lewat di situ. Mereka adalah penjual sayuran, penjual ayam, dan penjual apa saja termasuk penjual bambu seperti pada foto di atas. Bedanya adalah jaman dahulu bambunya dipikul/dipanggul di atas pundak.
Satu batang pohon bambu dipikul dari rumah menuju pasar bambu, jaraknya kurang lebih 10 kilometer (banyak yang lebih jauh lagi). Berangkat jam 2-3 pagi dan sampai pasar bambu sebelum terang. Entah berapa uang yang didapatkan dengan memikul beban seberat itu, dengan jarak 10 kilometeran dan pengorbanan bangun pagi-pagi buta. Untung sekarang ada becak. Selain tidak perlu memikul, jumlah bambu yang bisa diangkut juga semakin banyak.
Selain ketemu penjual bambu tersebut, saya juga nemu buah yang nampaknya enak tapi ternyata tidak, di pinggir jalan.

Saya termasuk manusia dengan sistem navigasi jelek. Meskipun telah melewati suatu jalur berkali-kali –apalagi kalau nebeng atau mbonceng– tidak akan menjamin bahwa saya ingat jalan tersebut, terlebih lagi jika di tempat-tempat baru. Karena itu saya sangat menggemari teknologi positioning karena teknologi tersebut sangat membantu saya.

Segera saya keluarkan senter kecil yang selalu saya bawa kemana saja –sebagai EDC, bersama sebilah pisau lipat– dan saya buka aplikasi Google Maps di handphone. Setengah pesimis sebenarnya, mengingat saat itu saya berada di daerah Gunung Merapi, mana mungkin Google mengenali daerah ini.



