Kebiasaan buruk saya -dan beberapa orang yang saya temui- atau mungkin saya yang salah menduga saja akibat rasa cepat puas dan tidak menyelesaikan sesuatunya dengan tuntas. Selesai tapi belum final.
Beberapa kali kalimat “sementara gitu dulu” sudah sering saya pakai dan saya dengar di lingkungan tempat kerja. Alhasil, pekerjaan memang tuntas tapi dengan “penampilan” ala kadarnya. Pasang kabel di jaringan komputer misalnya, yah asal nyambung dulu soal rapi atau ga itu soal nanti, yang penting bisa nyambung, toh demikian tidak ada yang komplain -setidaknya sampai troubel berikutnya- dari yang bersangkutan.
Tentu, hal seperti itu tidak berlaku bagi mereka yang memuja “wow” tapi bagi mereka pemuja “aha” hal seperti ini sih biasa. Prinsip Si “Aha” sih yang penting hasil, dan tidak se-sempurna Si “Wow”. Si Wow yang kelihatan parlente, tentu beda dengan Si Aha yang acak-acakan, tidak teratur, tapi yang penting HIDUP.
Di sisi lain, tentu saja kita butuh keduanya. Si Aha tentu saja akan mengalami sedikit hambatan ketika PDKT sama cewek, kecuali saat akal “AHA”-nya keluar. Yah kalo “AHA”-nya baik sih ndak jadi soal, kalo “AHA”-nya ilmu pelet, dukun dan sebagainya? Ya itu sih urusan si Aha sama Sang Gebetan, toh dukunnya yang untung dapet mahar.
Si Wow, meski penampilan oke, cewek yang mau sama dia sampe ngantri dan sering dapat sanjungan “Wow kereeen”, tapi apa jadinya ketika motor yang dipake macet karena busi mati keplepek akibat terendam air hujan? Ga mau kotor ah, gengsi to ya. Gengsi, itu dia penyakitnya.
Jadi apa salahnya kalau pake “Sementara gitu dulu”? Ya ga salah, sementara sampe jadi sementahun juga ga ada salahnya. Tinggal berharap saja, seperti BOM waktu, kesementaraan tadi semoga menjadi masalah di masa mendatang. Lho kok seneng? Ya gpp, berarti kontrak bakal diperpanjang karena kelak dipake lagi untuk memperbaiki.
Sementara gitu dulu ceritanya, tiba-tiba saja saya inget kalau punya blog. Ya, setelah dapet tagihan dari juragan hosting karena hampir aja domain ini masuk masa tendang tenggang saya jadi inget login sama password blog ini. Mohon maap, kalau tulisan ini masih seperti tulisan-tulisan sebelumnya, TIDAK JELAS.

Pagi itu dengan diselimuti sedikit mendung yang menggelayut di langit Jogja, mengantarkan kami ke salah satu tempat bersejarah di kota itu. Saya yang ditemani oleh dua orang sahabat saya
Taru Martani tidak diambil sebagai nama tanpa makna. Seperti orang jawa pada umumnya, sebuah nama selalu memiliki makna tertentu. Taru atau (n)daru bermakna daun, sedangkan martani berarti kehidupan. Jadi arti dari Tari Martani adalah daun (tembakau) yang memberikan sumber kehidupan. Tentu saja ini bagi petani tembakau dan karyawan pabrik. Bagi perokok (aktif maupun pasif) daun tersebut justru akan mengambil kehidupannya.
Setelah ruangan mesin strip dan campuran, ruang berikutnya adalah ruang pembuatan kepongpong cerutu dan juga mesin pres. Jadi setelah kepongpong cerutu dibuat selanjutnya akan di pres menggunakan mesin pres. Baru kemudian diberi label sesuai dengan rasa dan produknya.
Dengan membayar IDR 15000 per orang, kita sudah bisa menengok dapur cerutu buatan Indonesia yang melegenda hingga mancanegara dan mendapatkan bingkisan beberapa produk cerutu untuk dibawa pulang.
