Saya secara sengaja mengontaminasi darah saya dengan nikotin, sejak SMP. Tepatnya SMP kelas dua. Saya lupa, itu di awal kelas dua, pertengahan, atau akhir. Awalnya coba-coba, karena melihat teman yang lebih dulu mengisap lintingan tembakau. Terlihat gagah, jantan ….
Di kamar teman saya, sebatang rokok Gudang Garam International soft pack yang sebungkus harganya Rp 350 - saat itu - saya ambil. Deg-degan. Saya bakar ujung rokok itu. Saya isap asapnya. Batuk-batuk. Saya isap lagi. Lumayan sukses, meski mulut jadi terasa pahit. Habis sebatang.
Belum puas. Saya masih ingin merokok. Bersama satu teman, saya pergi ke penjual rokok di pojokan kampung dekat rumah teman saya. Beli rokok Bentoel dua batang. Satu untuk saya, satu lagi untuk kawan saya. Saya lupa harganya. Saya bakar lagi lintingan tembakau itu, saya isap asapnya, sampai habis.
Dari coba-coba, saya mulai berubah menjadi perokok. Tapi intensitasnya masih jarang. Biasanya, saya merokok saat menonton film di bioskop, bersama kawan-kawan, atau sendiri. Di Wonosobo, kota di mana saya tumbuh, merokok di bioskop tidaklah dilarang. Untuk perokok pemula yang takut ketahuan orang tua, itu malah jadi tempat yang aman untuk mengisap racun.
Masa SMA, aktivitas merokok bahkan dilakukan tak jauh dari lingkungan sekolah. Biasanya saat istirahat, seusai menyantap nasi di kantin yang ada di luar halaman sekolah, saya - juga kawan-kawan sekolah - merokok, meski sedikit deg-degan takut ketahuan guru.
Masa kuliah, saya seolah tak terkekang. Hidup jauh dari orang tua, membuat saya merasa lebih bebas. Mengisap tembakau tanpa takut ketahuan. Namun saya tetap tidak berani merokok di rumah, ketika pulang kampung.
Pertengahan masa kuliah, saya baru berani merokok di rumah saya. Bapak ibu sudah tahu. Dan tidak memarahi. Hanya menyarankan, kalau bisa tidak usah merokok. Kalaupun merokok, jangan terlalu banyak. Saya cuma nggah nggih nggah nggih saja, diwejangi seperti itu.
Akhir masa kuliah, saya mulai jadi perokok hampir berat. Tiap ujian, bahkan menjelang ujian skripsi, asap menjadi teman baik saya saat belajar.
Masa kerja, saya mulai menjelma menjadi perokok berat. Meski ada yang kelasnya lebih berat dari saya, sanggup menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Saya, sehari tidak sampai sebungkus. Tapi tetap saya katakan perokok berat, meski dalam situasi tertentu, saya betah tidak merokok seharian, bahkan seminggu. Tapi itu sangat situasional.
Sebagai perokok, saya itu termasuk asbak. Berbagai merek, bisa diterima mulut saya. Seperti asbak, yang tidak pernah menolak puntung rokok merek apapun.
Di awal karir merokok, Gudang Garam International - sering juga disebut Gudang Garam Filter - jadi pilihan. Bentoel juga.
Lalu berderet. Marlboro, Lucky Strike, Sampoerna King, Djarum Super, Sampoerna A Mild, LA Light, U Mild, Star Mild, Dji Sam Soe dan entah berapa banyak lagi merek rokok yang pernah saya isap. Sampai tingwe, ngelinting dewe, juga saya lakoni.
Dalam kondisi tertentu, saya bahkan mengatakan diri saya, sepur alias kereta api. Mulut ngebul terus. Merokok terus. Biasanya terjadi, saat dalam situasi jenuh menunggu, baik saat tugas peliputan atau dalam situasi lain, yang membuat saya bosan. Kalau dada mulai terasa sesak, biasanya agak saya turunkan intensitasnya.
Berkali-kali, saya ingin berhenti merokok. Tapi selalu susah. Ketika saya sakit, rokok saya tinggalkan. Lalu muncul niat, setelah sembuh tidak merokok lagi. Tapi biasanya, niat itu hanya bertahan beberapa hari. Saya tetap merokok dan merokok lagi, menikmati racun secara sengaja.
Saya tahu, apa risiko yang saya hadapi dengan mengisap lintingan tembakau itu. Saya sadar. Tapi saya sulit lepas. Mungkin bisa dibilang, kecanduan saya lumayan akut.
Sampai sekitar tiga pekan lalu. Ketahanan tubuh saya menurun. Saya sakit. Meriang, panas dingin, pusing, pilek. Ciri-ciri sakit flu. Batuk juga sesekali. Awalnya batuk biasa. Kemudian muncul dahak.
Selang dua hari, saya periksakan ke dokter. Saya sampaikan keluhan yang saya rasakan. Dokter tanya, apakah saya perokok. Saya jawab, iya, tapi sudah dua hari tidak merokok karena sakit. Perokok berat? Saya jawab, tidak terlalu berat.
Setelah pemeriksaan, dokter meminta saya tidak mengonsumsi gorengan. Banyak minum susu, cukup istirahat, cukupi vitamin. Tapi dia tidak menyampaikan, apa penyakit yang saya derita. Kemudian dia meminta saya mengambil obat yang sudah disediakan, agar penyakit saya sembuh.
Sampai saya tiba di kamar kos, saya belum tahu apa penyakit saya. Yang saya tahu, saya sakit flu. Kemasan obat saya buka. Saya baca petunjuk mengkonsumsi. Dari label yang dipasang, saya tahu, jenis obat itu untuk mengobati sakit apa.
Kemudian, saya kaget ketika membaca label salah satu obat yang saya terima. Di label itu tertulis, bronkitis. Welah, saya sakit bronkitis? Walah … walah, saya tidak menyangka.
Setelah saya sembuh dari sakit dan bisa beraktivitas normal, saya cari tahu tentang penyakit bronkitis. Ada sejumlah penyebab, salah satunya asap rokok.
Sejak itulah, sudah lebih dari tiga pekan ini, saya tidak merokok. Sudah lebih tiga pekan ini, paru-paru dan jantung saya bebas asap.
Berat? Sudah pasti. Namanya perokok berat, tiba-tiba saya berkeputusan, berusaha tidak merokok. Sering, saya tiba-tiba ingin merokok. Keinginan yang kuat. Apalagi jika saya terpapar asap rokok yang diembuskan kawan-kawan saat ngobrol.
Yang paling berat adalah setelah makan. Sudah menjadi ritual bagi perokok, untuk mengisap nikotin sehabis makan. Rasanya sangat nikmat. Lengkap.
Namun, sudah lebih dari tiga pekan ini, saya berusaha keras untuk tidak melakukannya. Agak tersiksa memang.
Saya tidak tahu, sampai kapan bisa bebas asap seperti yang sudah saya alami selama lebih dari tiga pekan ini. Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi.
Saya cuma berusaha, untuk saat ini, menjalankan fase bebas asap ini sebaik mungkin. Dan nyatanya, memang napas terasa lebih lapang karena rongga dada tidak terkontaminasi asap. Tapi ya itu tadi, pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya.