Sungkeman adalah sebuah sikap hormat dalam posisi berjongkok dan menghaturkan sembah kepada orang tua atau orang yang dituakan.
Sungkeman ini merupakan sebuah tradisi masa lampau yang hingga kini masih di lestarikan dan di lakukan khususnya bagi masyarakat jawa. Sungkeman berarti menunjukkan sebuah dharma bakti seorang anak kepada orang tua atas segala usaha yang di lakukan dalam memelihara dan membina serta memberikan kasih sayang dari kecil hingga dewasa.
Dalam hari raya idul fitri, acara sungkeman juga di pergunakan sebagai usaha permintaan ma’af dari orang yang lebih muda kepada orang yang di tuakan atas segala kesalahan yang sudah dilakukan. Sungkeman bisa juga di pergunakan sebagai usaha seorang anak/anak muda untuk meminta restu atau do’a kepada orang tua.
Dalam prosesi acara sungkeman, posisi berjongkok merendahkan diri serta sikap tangan yang menyembah, hal ini bukan berarti bahwa kita benar-benar dalam artian menyembah orang tersebut, melainkan hanya sekedar sebuah tata cara saja. Karena hanya Tuhan sajalah yang wajib di sembah.
Acara sungkeman bisa dilakukan kapan saja tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Yang paling sering di lakukan orang-orang, acara ini di laksanakan pada saat Hari Raya Idul Fitri setelah sholat, dan juga pada saat acara Pernikahan.
Tuhan tidak akan memberikan ma’af kepada seseorang jika orang yang di zolimi tersebut belum memberikan ma’af, khususnya kesalahan kepada orang tua. Dan do’a orang tua merupakan salah satu do’a yang manjur bagi putra-putrinya.
Oleh karena itu, selagi kita masih sempat di berikan kebersamaan dengan orang tua, maka pergunakanlah untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka. Juga, mintalah do’a dan restu agar kehidupan kita di dunia ini mendapatkan rakhmat serta hidayah dari Tuhan S.W.T.
.::he509x™::.
