Jagoan super bukan hanya milik seorang superhero. Terhipnotis dengan sosok super seorang Joker dalam sekuel Batman : The Dark Knight, memberikan kepada saya kesan lain dari seorang Heath Ledger yang dulu dicap sebagai homoseksual karena film Brokeback Mountain. Tidak kalah dari sosok super seorang Batman, justru Joker menjadi fokus perhatian banyak penonton film ini, karena berbagai kegilaan dan ide simpatiknya yang menggambarkan rumitnya sebuah sistem sosial politik dan kekuasaan di kota Gotham.
Film itu memang cocok dengan tagnya yang “Untuk Dewasa”. Jangan harap menemukan adegan panas selain ciuman hangat antara Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal) dan Bruce Wayne (Christian Bale). Tetapi akan banyak adegan panas dengan ledakan dan api yang diciptakan tokoh super Joker. Selain ledakan super, juga rencana-rencana super yang dieksekusi dengan cara super, menunjukkan kecerdasan super sang tokoh badut super psiko tersebut.
Kata “super”, demikian terngiang-ngiang kata ini hingga saya melacak sekali lagi dimana pernah menemukan tautan terbaik soal “super”. Super yang bermakna sama dengan yang saya tangkap dalam film tersebut, berada di atas batas subjek dari sosok super itu sendiri, dalam film tersebut subjeknya adalah si Joker.
Yang paling dekat yang saya ingat adalah istilah yang diusung Nietzsche, Eubersmensch. Dalam bahasa inggris diartikan sebagai “overman” maupun “superman”. Tapi itupun tidak mewakili maksud dari Nietzsche sendiri. Superman, selain sudah terpatok dengan image tokoh super dalam komik, juga berarti mempunyai konotasi kesempurnaan dan batas. Padahal Nietzsche selalu menentang hal ini. Sementara itu overman mempunyai konotasi beyondness, yang bisa diartikan “di seberang” atau “zona berbeda”. Ini pun juga dikecam Nietzsche. Bahasa Indonesia mengartikan secara lebih sederhana, Euber berarti “di atas”, dan Mensch adalah “manusia”. Terjemahan yang menurut saya lebih luas maknanya, “Di atas Manusia”.
Istilah Eubermensch muncul pertama kali dalam Also Sprach Zarathustra, sebuah karya puitis Nietzsche yang terbit 1885. Bercerita tentang seorang guru di Persia lebih dari 2500 tahun lalu. Tentunya tokoh ini menjadi tempat Nietzsche untuk membeberkan gagasannya.
Salah satu terjemahan yang tercatat dalam esai Seno tentang Eubermensch, adalah dari St. Sunardi :
“Lihatlah, aku mengajarkan Eubermensch kepada mu. Eubermensch adalah makna dunia ini. Biarlah kehendakmu berseru : Hendaknya Eubermensch menjadi makna dunia ini. Aku mengingatkan ini kepadamu, saudara-saudaraku, tetaplah percaya pada dunia dan jangan percaya pada mereka yang berbicara kepadamu tentang harapan-harapan di balik dunia ini. Mereka ini adalah para pengracun, entah mereka tahu atau tidak.”
Jelas saja Nietzsche menjadi musuh gereja kala itu. Pernyataannya tentang Eubermensch adalah bentuk penolakan peran agama, dan dengan sendirinya juga Tuhan, dalam eksistensi manusia di muka bumi. Manusia tidak bisa memangku tangan dalam doa dan berpaling pada bintang-bintang di langit karena itu adalah bentuk ketidakberdayaan. Untuk menjadi Eubermensch, seseorang harus melampaui sebuah proses “menjadi di atas”, yang berarti mencipta, berkreasi.
Salah satu manifestasi dari pemikiran Eubermensch adalah kekuatan. Nietzsche menyebutkan manusia harus terus menerus menggapai limit penderitaan dan konflik dalam dirinya sebagai bentuk aktualisasi kekuatan. Dan kekuatan disini banyak yang mengartikan sebagai “kekuasaan”, walau Nietzsche sendiri tidak menekankan pada konsep kekuasaan, tetapi lebih kepada “kehendak untuk berkuasa” (der Wille zur Macht). Yang jika boleh saya perpendek, bahwa Eubermensch sendiri adalah sebuah konsep yang lahir karena pemikiran bagaimana manusia selalu memiliki kehendak untuk berada pada kekuasaan.
Adolf Hitler, keliru menerapkan konsep Eubermensch pada kekuasaannya. Karena ternyata dia sendiri malah terjebak pada konsep Eubermensch yang mencari superioritas, dominasi dan keunggulan manusia (yang kemudian dia terjemahkan dalam ras-ras unggul). Hasilnya? sebuah tragedi kemanusiaan yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia.
Jika menilik kepada pelajaran dasar sosiologi, mungkin anda masih ingat bagaimana manusia diberikan istilah “ego”, yang berarti “saya”. Saya dengan interprestasi tidak ada “anda”, “dia”, “kita” atau “mereka”. Ego lahir karena suatu upaya melahirkan kesempurnaan individu, yang tidak memiliki relasi terhadap apapun. Konsekuensinya adalah ego harus hadir sebagai sosok sempurna tanpa tanding. Padahal kenyataannya, sejauh apapun kesempurnaan dikejar, ternyata justru kita merasa semakin sadar kesempurnaan masih terlalu jauh.
Joker mencoba memanfaatkan pemahaman ego dalam manusia dan Eubermensch. Dia menciptakan berbagai laboratorium sosial untuk membuktikan bahwa kondisi ini ada dalam setiap manusia. Bukan hanya manusia, tetapi juga sistem yang dibangun manusia. Bagaimana kehendak berkuasa para elit kota Gotham yang bekerjasama dengan mafia-mafia dan media telah menciptakan Eubermensch versi mereka sendiri. Joker hanya datang untuk mengajarkan Eubermensch dagelan ciptaan tersebut ternyata sangat rapuh, dan memiliki batas. Sebuah Eubermensch yang bisa dipatahkan dengan sebuah rencana dari agent of chaos yang tanpa afiliasi apapun, murni kriminal dan ahli dalam mengotak-atik ranah sosial politik. Karakter serupa yang mengingatkan saya pada agent of chaos lainnya, yaitu “V” dalam V for Vendeta.
Nasib baik kota Gotham yang menghadirkan seorang ksatria malam ala Batman. Membuka kedok-kedok kejahatan kekuasaan tersebut dengan sendirinya, karena tugas-tugas kecilnya dari awal cerita adalah memberantas kriminal kecil yang sebenarnya merupakan sebuah sebab akibat dari sistem kekuasaan yang rusak di kota Gotham. Semakin indah ketika akhirnya Joker hadir melengkapi pertempuran Batman untuk mendidik kota Gotham, dari sekedar perampok dalam gang-gang gelap hingga membuat petinggi-petinggi kota gerah.
Keadaan Indonesia juga tidak jauh berbeda dengan kondisi kota Gotham. Dari pelaku hukum sampai pemerintahnya berada dalam jaringan kekuasaan yang keliru. Mungkin bukan keliru dalam arti salah membaca Zarathustra, tetapi memang dikelirukan untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompok. Saya mendadak membayangkan seandainya Joker adalah sebuah ideologi tersendiri, yang dipahami dengan baik oleh sekumpulan manusia Indonesia. Eubermensch yang murni ala Nietzsche tanpa batas.
Peran Joker di negeri ini mungkin tidak bisa diambil begitu saja. Karena memang cerita Batman dan Joker cuma imajinasi penulisnya dalam komik, susah untuk ditiru dan di terapkan. Tetapi jujur, saya khawatir jika seorang dalang kriminal seperti Joker malah hadir menjelang pemilu di Indonesia. Lebih sial lagi jika si Joker Pemilu ini hadir sebagai afiliasi kekuasaan tertentu. Entah berapa banyak setingan chaos yang bisa diciptakannya untuk yang keuntungan afiliasi-nya.
Kekuasaan memang sesuatu yang harus diurus dengan serius. Wajar kalau banyak partai politik mendadak jadi serius mengurusi negara setiap menjelang pemilu. Karena mempertahankan Eubermensch dagelan adalah hal yang serius bagi mereka. Dan seperti dalam film, Joker hadir karena tidak suka dengan hal-hal berbau serius tetapi berkedok badut eubermensch. Saya yakin dia bakal datang dengan kulit putih dan pisau lipatnya kalau partai-partai politik itu mendadak menjadi sok serius. “Why so serious?”
–o0o–
Sangat idealis memang jika membahas sebuah film fiksi penuh aksi “tidak mungkin” sebagai cerminan kehidupan. Tetapi seperti juga buku, esai, cerpen dan puisi, film juga sebuah bentuk karya seni visualisasi dari sastra yang ditelurkan oleh pemikiran seorang tokoh sentral, entah penulis naskah, atau seorang penulis skenario. Kolaborasi itu akan lengkap dengan arahan sutradara yang memahami maksud cerita atau sastra tersebut. Dan film yang bagus adalah sebuah film dengan pesan yang akurat dan mampu ditangkap penonton apa maksudnya, dan lebih baik jika mampu menggerakkan. Paling tidak itu pandangan saya tentang sebuah karya seni seperti film, membuat saya tergerak melacak lebih dalam istilah eubermensch.
Mungkin saya kelewatan “sok tahu” membicarakan film sejauh ini. Lebih atau kurangnya pandangan saya soal film, anda mungkin bisa tanyakan langsung kepada Mas Iman yang baru saja riset sampai ke pinggiran Yogyakarta untuk filmnya yang berdurasi 90 detik.