
Hasil oret-oretan sendiri menyambut Piala Dunia 2010
3817 items (3252 unread) in 65 feeds

Hasil oret-oretan sendiri menyambut Piala Dunia 2010
Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.
Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?
—
Sabtu, 1 Mei 2010
Pagi, saat saya meliput seminar “Mind Over Matter” di SBM ITB, pesan singkat Imoth masuk. “Ngajar jam berapa hari ini?” tanyanya. Waduh, saya malah lupa bikin janji dengan anak-anak. Untungnya, Imoth ada rencana ngajar Sosiologi sore itu, jam 4. “Saya ikut saja,” kata saya. Sore jam 4 tidak membuat janji saya dengan Imas, bubar: makan di Raffel Ciwalk jam 1. Saya pesan barbeque, dia crispy. Saya makan pesanan saya, saya cuil juga punya dia. Untungnya, dia yang bayar kali ini.
Sehabis makan dan jalan kaki menemani Imas pulang, saya menumpang Cicaheum – Ciroyom dari RSHS sampai Simpang, lanjut Ciburial – Ciroyom. Sampai di Mentari, rumah Bu Dewi sedang dipenuhi tamu: ibu-ibu muda serta anak dan suaminya. Rupanya sedang ada acara liliwetan. Mungkin keluarga atau teman lama, saya gak begitu ngerti. Belum ada Imoth, baru ada Santi. Bu Dewi segera datang ke saya, dan bilang, “Kak Arfah, temenin wartawan PR dulu, lagi duduk di depan. Ajak ngobrol. Gak enak ih, saya lagi banyak tamu juga.” Saya lihat satu laki-laki di teras depan, rambut tipis dan tegap. Saya lihat dia masih nelpon. Saya tunggu saja dari ruang tamu.
Namanya, Agus. Saya panggil Mas Agus. Kami mulai ngobrol. Tentang Boulevard, tentang Berkala. Tentang tulisan saya yang tidak dimuat di rubrik Literasi. Tentang Bu Puji yang selalu dia wawancarai via telepon jika ingin tahu data kualitas udara (Dia sempat menanyakan nomor kontak Bu Puji dan Bu Driejana, wah saya lupa beri tahu. Nanti saya tanyakan dulu nomor kontak Mas Agus di Bu Dewi, nanti saya beri kamar nomor kontak kedua dosen saya itu). Tentang Dewi FIKOM Unpad yang dulu sempat wawancarai saya soal pers kampus merambah dunia maya, dan juga ingin memberitakan Mentari setahun lalu tapi tidak jadi. Tentang Ikram yang sudah sibuk di Jakarta, dan saya lupa bilang bahwa Ikram sempat ngajar Kimia di Al-Huda.
“Apa yang melatarbelakangi Arfah memasuki dunia pendidikan non-formal?” tanyanya. Dia mulai masuk ke substansi berita, dan saya tidak bisa melepaskan nama Puti dalam jawaban saya. Saya cerita awal saya masuk Taboo, awal saya masuk Mentari. Saya agak lupa, tampaknya saya beri tahun yang salah. “Tidak ada niatan apa-apa. Semua hanya karena ingin, kebetulan ada yang ngajak. Mahasiswa yang lagi punya energi banyak. Ingin ketemu anak-anak, ingin mengajar, ingin punya kegiatan selain ngampus,” kata saya. “Pada akhirnya apa yang buat Arfah bertahan?” tanya lebih lanjut. “Karena saya senang mengajar, saya senang bersama mereka.” Dia lalu meluncurkan pertanyaan-pertanyaan filosofis, seperti saya orang yang sedang tumbuh di tengah komunitas gerakan. “Apa artinya pendidikan buat Arfah?” tanyanya. Saya bingung. “Apa ya, saya sulit kalo ditanya hal-hal yang sifatnya definitif. Saya ga begitu ngerti. Saya hanya mengerti, itu pun setelah saya terjun di sini, bahwa mereka butuh itu. Apalagi saya yang SMP 2, yang SMA 5, yang ITB, yang dapat beasiswa, mengecap pendidikan yang kata orang-orang keren. Saya lalu bingung kenapa beasiswa atau pendidikan berkualitas tidak ditujukan bagi mereka yang justru dianggap tidak pintar.” Selanjutnya dia menanyakan siapa-siapa saja relawannya, siapa-siapa saja muridnya. Bagaimana kondisi akademik anak-anak. Bagaimana UAN mereka (Saya jawab seadanya, seperti kabar yang saya dapat beberapa hari sebelumnya, dari Mbak Anug dan Kak Angga: Santi dan Melly lulus. Hani tidak lulus di Sosiologi dan Bahasa Indonesia, Anis tidak lulus di Bahasa Indonesia. Belakangan saya tahu Ceceng lulus UAN. Saya tidak bisa menjelaskan dengan baik apa itu UAN, apa saja ketidakadilan yang diakibatkannya, bagaimana ujian itu menjadi proyek besar dinas pendidikan. Saya hanya bisa mengajar, bilang saya sebelumnya. Untungnya dia menimpali, “UAN itu benar-benar kacau,” dan saya tidak merasa tidak perlu berpanjang-panjang soal ini). “Jika saja ada Puti, Mas Agus bisa dapat obrolan seru,” kata saya.
Di tengah kami ngobrol, ada anak kecil di sampingnya yang selalu ngajak dia bicara. Perempuan, mungkin usia 4 tahun. Dia anak dari salah satu tamu Bu Dewi. “Nanti ya kita ngobrol,” katanya ke perempuan kecil itu sambil senyum. Perempuan itu sudah begitu nyaman dengan Mas Agus, karena sebelum saya datang, Mas Agus mengajaknya main. Kali ini, dia sedang kerja, dan ingin kerjanya selesai. Hihihi. Belakangan, saya tahu dia sedang meliput pendidikan non-formal untuk berita yang akan dimasukkan di website Pikiran Rakyat. Dia melakukan pemetaan aktivitas tersebut di Bandung. Sebelumnya, dia ketemu dengan Bunda dan Pak Gamesh di Ciroyom. Dia pun sudah ketemu dengan Om Rahmat dan Mbak Ika di Taboo, Dago Pojok.
Anis datang. Hani juga datang. Lalu Imoth. Lalu Mbak Anug dan Kak Angga. Wah, Sabtu sore pada lengkap. Saya lalu kenalkan mereka dengan Mas Agus. Mas Agus bisa tahu, bagaimana bentuk dan rupa para pengajar yang sudah saya sebutkan namanya di tengah wawancara tadi. Mas Agus lalu jemput Mas Haekal, fotografer Pikiran Rakyat. Mas Haekal datang, foto-foto ruang hijau, yang saya baru sadari sudah tidak hijau lalu. “Sudah dari tahun lalu, Kak Arfah, kita cat ulang jadi biru gitu,” kata Bu Dewi yang akhirnya bisa ikut nimbrung setelah tamu-tamunya pulang. Di ruang belajar itu, Imoth sedang sibuk ngajar Sosiologi ke Hani. Anis yang seharusnya hari itu belajar Bahasa Indonesia sama saya, sibuk di dapur. Bantu Bu Dewi beres-beres piring dan gelas. Saya pun sedang malas. Hihihi, gak jadi belajar kita hari itu.
Sisa minum liliwetan disajikan. Kami senang. “Jarang-jarang loh Mas Agus, ada minuman gini,” kata saya sambil senyum. Sirup pakai kolang-kaling. Nikmat. Mas Haekal terus foto-foto Imoth yang sedang ngajar, sementara Mas Agus kembali wawancara Pak Lala. Belakangan saya tahu, Mas Agus sudah datang Kamis sebelumnya. Bu Dewi dan Pak Lala sudah cerita panjang lebar. Saya baru sadar, dia sempat mengkonfirmasi beberapa hal yang mungkin saya jawab beda dengan apa yang dia peroleh sebelumnya. Tak jadi soal.
Ketemu dengan Mbak Anug, Mas Agus memperoleh jawaban yang lebih emosional jika sudah menyangkut UAN. “Mbak Anug ini suka berurusan dengan birokrasi Diknas, apalagi kerjanya juga begitu, jadi lebih ganas kalo sudah bicarain UAN,” kata saya. Dia cerita dia pun punya teman yang sama dengan Mbak Anug: tidak setuju UAN. Dia cerita lebih lanjut tentang Tere, mantan penyanyi yang kini bergerak di DPR. “Dia teman saya. Dia suka mengajar. Jika nanti sesekali saya datang ke Mentari, ajak Tere sebagai individu, boleh?” “Jelas boleh, Mas. Ga usah nyanyi. Ajak anak-anak main aja. Bikin gelang atau kalung dari manik-manik atau kerajinan lain yang dia bisa. Nyanyi mah depan saya saja,” canda saya sambil ketawa.
Sewaktu Mas Haekal dan Mas Agus pulang, mendaki setapak menuju parkiran golf, saya temani. Karena saya yakin dia kenal temen-temen komunitas sastra, saya bilang, “Saya anggota Mnemonic.” Dia lalu menimpali, “Oalah, eta-eta keneh.” Kami lalu ngobrol singkat, sebab saya tidak begitu tahu banyak, soal kabar teman-teman Mnemonic. Tentang Deni. Tentang Teh Puji Bale Pustaka. Tentang ASAS. Tentang Daunjati. “Bagaimana nanti kelanjutan Mentari? Harus kalian pikirkan, kan. Tidak selamanya kalian di sana,” tanyanya. “Ya begitulah, kami terlampau senang di sini. Tapi kami pun selalu memikirkan itu, dan kami pun selalu gagal bergenerasi,” jawab saya. Mereka lalu melaju dengan satu motor, sebelumnya dia catat nomor kontak saya. Mungkin dia salah ketik atau saya salah sebut sebab missed call-nya gak nyampe.
Sekembalinya saya ke Mentari, saya jadi berpikir. “Kayaknya saya tahu nama panjang Mas Agus,” Beberapa jam kemudian saya sms satu temen Mnemonic. Dia tanya, “Ngobrol apa aja dengan Gusrak, Fah?” Oalah, saya baru yakin, Mas Agus yang wawancara siang tadi Agus Rakasiwi. Seperti Galih. **

Sore gerimis, saya hendak mengisi pulsa di sebuah konter pulsa di pinggiran Yogyakarta. Motor saya berhentikan, dan mata saya langsung sibuk melihat daftar harga pulsa di dinding konter itu. Beberapa detik kemudian saya sebutkan pulsa yang ingin saya beli sambil memalingkan wajah ke si penjual. Rupanya si mas penjual pun sedang sibuk sendiri, memperhatikan televisi yang menyiarkan laporan langsung berita dari Kongres Partai Demokrat di Bandung.
Gelagapan si Mas penjual menjawab permintaan saya “eh, 11 ribu, Mas”.
“Lagi seru yo, Mas?” sahut saya sambil ikut memicingkan mata ke televisi.
“Iya. Andi kalah di putaran pertama, Mas” jawabnya cepat.
Wah, ini rupanya yang bikin dia serius amat menonton televisi. Putaran pertama pemilihan Ketua Demokrat ternyata menyingkirkan Andi Malarangeng yang paling heboh kampanye dan koar-koar nya di berbagai media. Saya sendiri lebih akrab dengan nama seorang “Andi”, dari pada Anas, atau kuda hitam seperti Marzuki Ali. Telaknya, Marzuki Ali yang belakangan mencalonkan diri, justru memecah belah suara untuk kedua calon lainnya. Ini memang seru kalau ditonton di warung kopi.
Andi naik sebagai calon dengan rumor mendapat dukungan SBY. Bukan cuma rumor, toh dia memang dekat dengan Big Boss dalam 2 periode ini. Belum lagi melihat kiblat seorang anak SBY. Namun, bukan Demokrat namanya kalau tidak berlaku demokrat. “Pilihlah dengan hati nurani masing-masing”, demikian ucapan SBY yang ditayangkan berulang-ulang oleh televisi dan media lainnya.
Tetapi babak drama berlangsung beda, Andi kalah di leg pertama. Berita televisi pun kembali heboh. Seorang Andi kalah?Waw. Ini baru putaran pertama, lho. Jujur saja, bagi saya, stasiun-stasiun TV lokal kita memang paling jago mendramatisir dongeng politik seperti ini. Lihat saja penjaga konter HP pun menonton dengan serius, sama seriusnya dengan ketika dia menonton tim Thomas dibantai Cina 2 minggu lalu.
Putaran pertama seorang Anas yang santun dan kalem, menohok Andi menjadi peraih suara terbanyak. Marzuki Ali yang baru mendeklarasikan diri di hari kamis, tiba-tiba terbang ke posisi 2 menempel ketat Anas. Andi? Saya yakin tidak akan lebih baik dari 15% untuk “bukan jawa” satu ini, walaupun masa kampanye di tambah seminggu lagi. Delapan puluh dua suara Andi akan di”hibah”kan ke Marzuki Ali pada putaran kedua. Perhitungan matematis, Marzuki Ali pasti menang. Tapi, sekali lagi ini panggung politik, “1+1 bisa saja bukan 2″ kalau kata Bang Ruhut.
Sebelum pulang saya melihat Andi diwawancara, dia mengakui kekalahan ini sebagai sebuah koreksi atas kurang dekat hubungannya dengan “Grass root” Partai Demokrat sendiri. Saya pulang dari konter itu dengan pikiran bermacam-macam. Ada sedikit senyum sinis tersungging. Ini bisa jadi cerita menarik jika sinisme saya benar.
Malam harinya, saya dapat kabar dari pacar, Anas jadi ketua demokrat. Kabar yang aneh untuk malam senin dari seseorang pacar. Masak seorang pacar yang cantik justru mengabari saya berita politik. Saya justru menunggu kabar yang biasa-biasa saja, seperti misal : makan malam dengan apa, tesisnya yang sudah sampai bab berapa. Atau minimal berita gosip selebritis sajalah, jadi saya tidak kuper-kuper amat untuk bergaul dengan pecinta gosip seantero tanah air.
Tapi itu bukan berarti pula saya salah memilih pacar. Karena mungkin bagi sang pacar yang tinggal di Bandung, yang 2 malam sebelumnya memaki-maki kemacetan malam minggu kota Bandung semakin diperparah kongres PD itu, bisa berarti berita ini layak naik tayang sebagai Gosip panas. Akan lebih panas jika seorang Cut Tari jadi presenter siaran langsungnya. Bisa pula jauh lebih panas dari “pager ayu” yang dihadirkan di perlehatan kongres. Atau pelesiran super panas di malam minggu sebagai hiburan kongres.
Berita itu pun panas sampai ke kuping saya. Sekali lagi saya diperalat oleh media dan partai politik. Seketika saya bisa merasakan panasnya aura kekecewaan pendukung MU setelah Munchen menaklukkan MU di perempat final Piala Champion. Menang secara matematis, tetapi tetap saja skor lolos sebagai juara tidak berubah, baik itu leg pertama – maupun leg ke dua. Putaran kedua, tetap Anas sang juara.
Sebagian dari kita bisa terlalu serius menikmati sandiwara dalam Piala Champion. Lihat saja treble yang spektakuler justru bisa jadi tiket kepergian manager ber-ego tinggi seperti Mourinho. Diego Milito yang dulunya biasa-biasa saja, tapi justru jadi pahlawan muka Italia di kancah Eropa. Dan lebih dramatis lagi, juaranya tim Eropa dimenangkan oleh sebuah tim Italia yang tanpa pemain Italia sama sekali pada start line up -nya.
Sedikit persamaan dengan politik negeri ini yang juga bisa bersandiwara seperti sepak bola Eropa. Saya terlalu sinis memang, jika tidak dikatakan kurang ajar. Tidak cukup bukti jika ada sandiwara dalam sebuah panggung demokrat(isasi) negeri ini. Tetap saya melihatnya bisa demikian.
Ditengah persiapan perjalanan Kongres PD, saya melihat ini sebuah aksi kampanye politik yang terang-terangan, padahal pemerintahan periode ini belum juga jalan setengahnya. Kuncinya ada pada strategi politik demokrat, pintar melihat media yang haus berita. Sehingga kongres “lokal partai” seperti kemarin, justru tidak meninggalkan kisah kekalahan sama sekali. Yang ada adalah sebuah berita kemenangan strategi politik skala nasional untuk tabungan masa depan, sekaligus pengaman periode politik saat ini.
SBY boleh berbangga dengan kesuksesan ini. Perannya sebagai Big Boss yang santun dan demokrat sejati ter’cap’ kuat di jidatnya hanya dalam 2 hari saja. Seorang muda seperti Anas dalam kursi PD 1 semakin meng-gol-kan label Partai Demokrat sebagai “partainya anak muda” -yang mungkin setengahnya pada 2014 sudah beranjak tua. Nama Anas pun melangit dikenal oleh khalayak. Dan Andi yang sportif dengan pengakuan kekalahannya, mengingatkan acara termehek-mehek akan pengakuan dosa. PD seperti melabelkan diri bahwa mereka masih memiliki calon-calon kuat di 2014. Bagaimana dengan Marzuki Ali? Beliau adalah kuda hitam. Yang saya tangkap itu justru masih lebih baik daripada mejadi kambing hitam.
Ongkos kampanye Andi yang luar biasa besarnya juga bukanlah kerugian seorang Andi, bukan pula kesalahan strategi seorang Andi. Apalagi melihat dukungan saudara nya yang jagoan menciptakan strategi media bagi partai PD di masa lalu. Ongkos politik dari kekalahan Andi Malarangeng, justru sebenarnya sebuah ongkos politik dari strategi PD pada keseluruhannya.
Sekali lagi PD unggul dalam strategi media untuk politik mereka. Mendapat simpati dari khalayak akan drama demokrasi yang mereka ciptakan, padahal kampanye pemilu masih 4 tahun lagi. Dan mereka tidak perlu memiliki stasiun televisi.
Ibu saya yang seorang simpatisan demokrat di kampung pun bisa menitip pesan lewat telepon dengan bangga, “Lihat tuh, SBY itu memang adil orangnya. Kamu jangan ga ikut pemilu lagi tahun depan”
—
Gamabar dari Artikel Kompas : SBY Jadi Penentu Ketua Umum.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/07/03511714/sby.jadi.penentu.ketua.umum
Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.
Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?
—
Minggu, 25 April 2010
Jika saja saya bangun lebih awal, saya pasti tiba di Mentari tepat waktu. Tapi jika pun benar begitu, saya tidak akan ketemu Bambang hari itu. Sehabis saya makan di Pagi Sore, kami jumpa. Tidak sengaja. Dia tertawa. Saya juga. “Habis dari sampling sampah,” katanya. Setelah wisuda kemarin, dia memang masih meneruskan proyek dosen. Saya tahu dari Safrul dia dibayar murah per bulan. Bagi saya, itu hanya cukup hidup seminggu lebih. Syukur-syukur bisa dua minggu. Tapi saya pun tahu betul dia orang baik. Saya tahu betul dia mengerti bahwa segala sesuatu tidak melulu duit. Dan kami sama-sama mengerti bahwa tidak baik membicarakan itu lebih lanjut.
“Saya sudah pengen nikah,” katanya. “Hayo, cepat jadi Paman Gober,” balas saya. Jika saja bisa secepatnya jadi komisaris, jadi deh. Direktur dulu tak apalah. Istri satu, istri dua, gak masalah. Nanti menikah di pulau khusus. Bulan madu di negara lain. Sudah tak kenal lintas provinsi lagi, apalagi lintas kota dalam provinsi. Sudah kaya, kita. Sudah kaya. Harus kaya. Kami sama-sama tertawa. Lama kami ngobrol sambil berdiri di mulut Jalan Kinang Pananjung, sampai dia mengingatkan saya untuk ke Mentari, juga mengingatkan saya untuk suatu sore bisa ke Ayam Merdeka. Makan bersama. Saya bersyukur bisa kenal Bambang. Saya bisa bikin daftar panjang apa saja yang membuat saya berani bilang bahwa dia orang baik, meski itu hanya soal omongan dan tandak-tanduknya dalam momen jumpa tak lama itu. Moga benar bahwa orang baik selalu diberkahi.
Di angkot Ciroyom – Ciburial, saya menyadari bahwa penumpang angkot ini selalu menarik. Hari itu, saya seangkot dengan tiga ibu yang bawa belanjaan. Bahkan satu dari mereka bawa tiga plastik besar. Saya intip, isinya puluhan sachet kopi yang bersambung, belasan susu kotak murah ukuran kecil, dan keripik-keripik lima ratusan yang biasa digantung di sisi-sisi dinding warung. Saya mengerti bahwa sang ibu punya warung di Ciburial, dan bawaannya adalah barang-barang yang akan dia jual. Saya jadi ingat, setiap kali saya naik angkot ini agak siangan, biasanya ada pemuda yang bawa keranjang biru bekas jualan tahu. Mereka adalah orang-orang yang berusaha dengan modal kecil. Seangkot dengan mereka, saya merasa sangat sejahtera. Kini, saya pun mulai berderu bersama hidup.
Saat di angkot, satu sms masuk. Dari Bu Dewi, menanyakan posisi saya dimana. Saya bilang sedang di angkot, sebentar lagi sampai Kordon. Bu Dewi hari itu ada keperluan di luar. Dia pamit lewat sms, dan berpesan buat nitip anak-anak. Sampai saya di Mentari, satu setengah jam lebih dari yang seharusnya, sudah ada Ita, Ika, Iwan dan Hardi. “Meuni lila ditungguan teh,” keluh Ita. Saya jadi merasa gak enak, mesti ia bicara dalam konteks bercanda. Maaf, kata saya. Mulai minggu depan, saya tidak boleh terlambat. Karena saya telat, Wendy sudah keburu pulang. Dia ada acara lain, kata Ita.
Ita, Ika dan Iwan masuk ruang hijau. Hardi nongkrong saja di sofa di ruang depan. Di ruang hijau, kami mulai belajar bahasa Prancis. Saya belum sempat men-download Campus 1 Mèthode de français CLE International. Jadinya, saya bawa saja buku grammaire du français. Materi di laptop pun sudah lumayan, pikir saya.
Di awal belajar, saya merasa perlu mengenalkan ciri-ciri bahasa Prancis ke telinga mereka. Saya perdengarkan mp3 orang Prancis ngomong. Saya perkenalkan pula bagaimana Celine Dion saat menyanyi dalam bahasa Prancis. Juga Carla Bruni. Penting pula rasanya mengajarkan mereka kata atau kalimat sederhana dalam bahasa Prancis. Seperti bonjour jika ingin menyapa orang lain saat siang, au revoir jika ingin mengatakan sampai jumpa, atau merci untuk berterima kasih. Susah awalnya, sebab orang Sunda seperti mereka agak rumit melafalkan f, p dan v. Repot jadinya saat membaca vous vous appelez comment? jika ingin menanyakan nama seseorang. Kita harus terus berlatih. Setiap kata mereka lafalkan masing-masing, depan saya, juga depan teman-teman mereka.
Karena mereka sudah tingkat SMA, saya jadinya mengajarkan konsep sujet atau subjek dalam bahasa Prancis. Berbeda dengan Indonesia yang hanya mengenal dia sebagai kata ganti orang ketiga tunggal siapa pun, dalam bahasa Prancis ada untuk dia laki-laki, il, juga dia perempuan, elle. Sama dengan konsep mereka sebagai kata ganti orang ketiga jamak. Dalam Prancis, ada ils untuk laki-laki semua, ada elles untuk mereka perempuan semua. Belakangan mereka mengerti bahwa saat mereka campur laki-laki dan perempuan, kita harus menggunakan ils. Konsep patriarki tidak hanya berlaku di dunia nyata, tapi juga di bahasa. Hehehe
Untuk kata kerja pertama yang saya ajarkan adalah être, to be dalam bahasa Inggris. Saya minta mereka catat dan hafalkan. Setiap kali sujet bertemu être, être akan berubah sesuai sujet yang ada di depannya: suis untuk je, es untuk tu, est untuk il/elle, dan seterusnya. “Jadi jika Ita mau bilang saya seorang pelajar, Ita bisa nulis je suis étudiante. Tapi kalo Iwan yang ngomong, nulisnya je suis étudiant,” kata saya sambil menulis di papan tulis (“Kutip dalam Prancis ditulis begini « » bukan begini “”,” kata saya. “Kakak pernah ke Prancis?” tanya mereka tiba-tiba. Maunya saya begitu). “Kenapa beda?”, tanya mereka. Dalam bahasa Prancis, konsep lelaki-perempuan, masculin-feminin, tidak hanya berlaku di sujet, tapi juga di setiap kata benda. Salah satunya kata benda “pelajar”.
Kalimat je suis atau semacamnya bisa juga diikuti dengan nama, nom, seperti je suis Ika, je suis étudiante. “Kalau mau bilang dia sopir angkot, gimana Kak?” tanya Ita sambil ketawa nunjuk Iwan. Saya bingung sebab angkot yang seperti kita kenal, tidak ada di Prancis. Tentu saja pusat bahasa mereka tidak merasa perlu kata baru untuk sesuatu yang mereka tidak kenal, seperti kata jalan layang, fly over, tidak ada padanannya dalam bahasa Prancis. Saya bilang saja, “chauffeur du taxi untuk sopir taksi atau chauffeur du transport en commun untuk sopir angkutan umum, tidak hanya angkot, tapi juga berlaku untuk bis. Kendaraan yang dipakai umum pokoknya,” jelas saya. “Lieur, etudiante we ah,” balasnya. Khusus untuk kata benda, saya berpikir, mungkin ada baiknya nanti kami belajar kosa kata sederhana, vocabulaire, baik masculin atau feminin. Masing-masing bikin daftar, sambil bermain. Bagaimana cara bermainnya, saya belum dapat ide.
Sambil saya masih menulis, saya bilang, “Sujet dan être tidak hanya bisa dilanjutkan dengan profesi, profession, tapi juga kebangsaan, nationalité.” Mereka lalu asik mengarang seperti je suis japonaise, et il est sundanais. Sama dengan profession seperti étudiant(e), nationalité pun kata benda yang menganut konsep masculin-feminin. Ada japonais, ada japonaise. Ada français, ada française. Ada indonésien, ada indonésienne. Saya bikin kolom untuk memudahkan mereka. Kolom untuk sujet, kolom untuk être. Juga sedikit daftar profession dan nationalité.
Untuk latihan, saya beri mereka soal yang saya ambil dari buku grammaire du français. Misi hari ini adalah mereka tahu bagaimana menggunakan être untuk sujet apapun. Sekalipun sujet adalah nama orang. Saya tulis soal semacam ini :
Katia ______ russe.
atau
Vous ______ Madam Dupuis? Vous ______ mon professeur?
Ruang kosong tiap soal mesti mereka isi dengan turunan être, tergantung sujet yang ada di depannya. Dari tiap soal, mereka juga mengenal kosa kata baru dan bagaimana cara melafalkannya. “Ih sama mirip kayak bahasa Inggris ya,” komentar Ita soal kata-kata dalam bahasa Prancis. Setiap soal mereka kerjakan. Satu demi satu saya panggil buat mengisi ruang kosong soal di papan tulis. Sempat bingung saat sujet-nya seperti Peter, Hugo et John. “Sujet il yang diganti nama satu orang laki-laki, sama saja dengan ils yang diganti dengan nama lebih dari satu orang laki-laki,” jelas saya, dan mereka mengerti.
Beberapa soal menarik, saya coba ke mereka. Seperti ini:
Maria et Julie ______ françaises.
Bill et moi ______ en vacances.
Tu ______ chez moi ce soir, Latika?
Dari soal pertama di atas, mereka dapat mengenal bagaimana pembentukan kata benda jamak untuk masculin dan feminin (français, française, françaises). Jika fokus pada sujet, tanpa melihat apa yang ada setelah ruang kosong (untuk sejauh ini), mereka pun dapat mengerti bukan hanya nom, profession, dan nationalité yang mengikuti je suis atau semacamnya, tapi juga kondisi, tempat berada, apa yang sedang dilakukan dan banyak hal lainnya (en vacances, sedang berlibur, atau chez moi, di rumahku). Saat mereka mengerjakan soal yang berbentuk pertanyaan sederhana, saya meminta mereka menjawabnya dengan ya, oui, dan tidak, non, sekaligus lengkapi dengan satu kalimat Prancis yang sederhana, seperti ini:
Vous êtes française?
Non, je suis allemande.
Mereka orang-orang cerdas. Mereka hebat. Saya jadi beri mereka pekerjaan rumah. Soalnya setipe dengan apa yang kami kerjakan di ruang hijau. Misinya masih sama, mengerti bagaimana kita menggunakan être untuk setiap sujet. Ada beberapa soal sujet-nya bukan orang atau nama orang, tapi benda, seperti:
La banque ______ ouverte?
Soal semacam itu membantu mereka untuk mengerti bahwa sujet bisa juga benda. Apakah masculin atau feminin, bisa dilihat article (le untuk masculin, la untuk feminin) yang ada di depannya. Suatu saat nanti kami belajar article.
Senang hari itu belajar Prancis. Saya sampai tidak memerhatikan anak-anak lain mulai datang. Ada Santi, Hani, Anis, Maman. Anis datang dengan pacarnya. “Cinta lama bersemi kembali,” kata Santi. Ada Siti, Yani, dan sepupu Yani bernama Dewi. Ada rombongan Ipah, Icha, Tata, Anti dan 4 anak kecil, mungkin baru kelas satu atau dua. Karena saya masih ngajar Prancis saat itu, Anti dan Icha mengajar 4 anak kecil di papan tulis di ruang depan. Sehabis Prancis, Icha pengen belajar Prancis juga. “Kenapa gak ikut yang tadi?” tanya saya. “Orang gede itu mah, Kak,” jawabnya. Saya jadinya ngajar Prancis lagi. Selain Icha, ada Anti, Ipah dan Tata juga. Karena mereka masih kelas 6 SD dan 1 SMP, saya hanya mengenalkan beberapa kosa kata Prancis dan bagaimana cara melafalkannya. Mereka aktif. Saya bikin saja mereka saling berinteraktif. “Bonsoir, Anti” atau “Merci beaucoup, Icha” . Mereka ketawa tiap melihat dan mendengar Tata ngomong. Mulutnya monyong, dan Sunda dia masih sangat kental. Saya senyum-senyum saja.
Teh Nur datang ke Mentari. Minggu lalu dia memang kontak saya ingin datang. Mau memperkenalkan sepupunya ke saya, yang belakangan saya tahu namanya Teh Reni. Dua minggu lagi, Teh Reni mau ikut tes Akademi Perawatan. “Dua tahun terakhir saya ikut tes SNMPTN, pilih Unpad, gak lulus. Sekarang mah Akper aja. Jadinya minta Kakak ajarin,” katanya. Selain Matematika, ada IPA Terpadu, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang akan ia kerjakan di tes masuk nanti. Saya bilang, Teh Reni bisa ikutan belajar sama anak-anak yang mau SPMB. Ada Hardi, Santi dan Hani. “Materinya pasti gak jauh beda. Rencananya mereka mau belajar tiap sore. Nanti Teh Reni kontak Bu Dewi aja, nanya jadwal benernya kapan. Saya sendiri hanya bisa ngajar Sabtu atau Minggu,” jelas saya.
Teh Nur sendiri sudah fokus jadi pengajar Taman Kanak-Kanak di Ciburial. Dia sempat ikut belajar Matematika di Mentari, untuk ngejar ujian Paket C. Waktu itu, Teh Nur rajinnya minta ampun. Tiap hari saya mau ngajar, dia udah nongkrong lebih dulu. Dia ikut belajar di kelas persiapan UAN tahun lalu, bersama 2 anak SMA Al-Burhan, saya lupa namanya. Mereka lulus dan katanya mau traktir saya ngebakso, belum jadi-jadi. Sekarang dua anak itu kerja di toko baju di Ciwalk. Salah satunya adik Pak Lala. Saya gak menyangka, belajar sore sampai maghrib itu sudah setahun yang lalu. Wah, makin tua ya saya. Hehehe. Alhamdulillah, sekarang Teh Nur sudah punya ijazah SMA. “Kak Arfah katanya mau ikut bacaan cerita buat anak-anak di TK saya, mana atuh, ditungguin teh?” tagihnya. Saya jadi malu.
Sore itu, Teh Reni ikut belajar. Kebetulan Yani, yang sedari tadi diam saja, ternyata punya PR Matematika. “Sekalian kalo begitu, ama Teh Nur buat ingat-ingat lagi,” kata saya. PR Yani tentang deret aritmatika dan barisan geometri. Juga barisan geometri tak hingga. Hardi beri saya buku latihan soal yang dilengkapi materi. Saya baca sebentar, lalu ngajar. Saat belajar rumus Sn, saya iseng. Saya kerjai mereka. Coba cari S1, S2, S3 atau S4 yang sebenarnya dapat diperoleh dengan hanya menjumlahkan deret yang tertulis, tapi mereka gak tahu. Saya minta mereka mencarinya lewat rumus. Belakangan mereka kesal setelah tahu ada cara yang lebih mudah. Saya pikir baik juga isengin mereka, agar tahu bagaimana memakai rumus Sn, mengerti konsep Sn, dan biasa berhitung. Hari itu, setelah konsep dan rumus aritmatika dan geometri selesai dipelajari, sekaligus mengerjakan 4 soal, kepala sudah panas. Mereka ijin pulang. Saya bilang ke Teh Reni untuk datang sore-sore saja, biasanya ada yang belajar. “Kontak Bu Dewi dulu,” kata saya. Dua minggu menuju tes Akper sebentar lagi.
Hari itu, saya pulang sama Santi dan Hardi. Saya ngobrol sama Hardi soal kerja dia, tentang rencana dia masuk politeknik. Polman dekat, bisa juga jadi pilihan, kata saya. Santi sendiri sudah semangat ingin kuliah di perfilman STSI. Dia bahkan sudah bertanya, “Dari sini kalo mau ke Buah Batu, naik apa aja, Kak. Ongkosnya berapa, Kak ?” Mereka penuh semangat. Senang jika nanti melihat mereka bisa kuliah. **
Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.
Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu?
—
Minggu, 18 April 2010.
Saya tiba di Mentari sekitar jam 10.30. Sudah ada Ika yang lagi temenin si kembar menggambar. Ada Jeje yang lagi ngambek minta jajan. Ada perempuan kecil juga yang belakangan saya tahu namanya Pia, kelas dua SD. Begitu saya datang, Ika pergi ke rumahnya ambil buku matematika. “Ada PR,” katanya. Habis itu saya kelimpungan. Saya ajari Ika trigonometri, saya beri soal perkalian dua dan tiga untuk Jeje dan Pia. Untung si kembar tidak ikut nimbrung. Mereka sibuk sendiri, entah bikin apa. Saya ketemu Bu Dewi dan Pak Lala, akhirnya. Mereka senang saya kembali, saya pun senang bisa mengajar lagi. “Kerja di sini, cari istri di sini juga,” kata Bu Dewi sambil tertawa. Saya amin saja.
Ada murid datang satu lagi. Belakangan saya tahu Ita namanya. Setingkat sama Ika, kelas satu SMA. Tapi beda sekolah. Karena Ita datang di tengah kami belajar trigonometri, Ita jadi ikut saja. “Sin cos ini mah dilewat sama guru, jadi saya ga ngerti,” kata Ita saat saya menjelaskan sin yang depan per miring. Saya jadi merasa perlu menjelaskan tentang total jumlah sudut dalam segitiga. Kebetulan ada soal di buku Ika tentang itu. Kami jadinya belajar menghitung salah satu sudut segitiga jika dua sudut lainnya diketahui besarnya. Saya lalu mengenalkan konsep segitiga siku-siku yang punya sudut 90 derajat, konsep garis yang punya sudut 180 derajat. Saya visualisasikan dengan kedua tangan saya.
Kami lalu belajar bagaimana mencari nilai sisi vertikal segitiga siku-siku jika nilai sisi horisontalnya diketahui, dan nilai sudut di hadapan sisi vertikal juga diketahui. Saya mengajarkan bagaimana menggunakan tangen untuk solusinya. Untuk mencari nilai sisi miring, menggunakan cosinus. Saya beri mereka segitiga lain dengan nama-nama sudut yang berbeda dibandingkan soal sebelumnya yang menggunakan ABC. Saya beri segitiga PQR. Saya beri segitiga xyz. Juga simbol sudut yang berbeda. Kadang beta, kadang gamma, kadang saya cuma beri tahu bahwa sudut RPQ 30 derajat. Saya mengerti jadinya bahwa perubahan simbol sudut atau nama sudut sangat penting, agar mereka tahu bahwa itu hanya sebatas nama dan konsep trigonometri tetap berlaku untuk segitiga siku-siku mana pun.
Di tengah kami belajar, Bu Dewi mengenalkan Wendy. Seperti nama perempuan yang “diculik” Peter Pan. Tapi yang ini laki-laki, kelas satu SMA di ICB, ambil Tata Boga. Wendy datang sama bapaknya. Mereka tinggal di dekat Wale. Tak berapa lama datang Mbak Anug dan Kak Angga. Menyusul juga anak-anak Mentari, seperti Ipah, Tata, Siti, Yani, Sri, dan satu anak perempuan yang saya lupa namanya, manis dan aktif. Hifna gak datang. Lagi sibuk cari buku katanya. Dia memang sempat sms saya, menanyakan buku Santun Berbahasa dijual dimana. Ke Palasari saja, saya bilang.
Saya sempet ngobrol dengan Sri. Dia bilang, “Sudah delapan bulan, Kak.” Walah, perutnya gak keliatan besar. Seperti hanya terlihat buncit para lelaki tua. Apalagi dia masih loncat sana-sini. Semoga Sri diberkahi, anaknya juga nanti diberkahi. Sehat selalu. Oiya, Kak Angga mesti diingatkan agar ijazah SMP Sri segera diberikan. Tinggal cap jempol. Nanti kalau dia sudah punya bayi, pasti susah lagi cari waktu. Hayo, Kak Angga, semangat!
Karena anak-anak sudah banyak, guru-gurunya sudah lumayan lengkap, saya, Ika, Ita, dan Wendy masuk ke ruang hijau. Saya pinjam spidol Pak Lala. “Saya perlu lagi beli spidol kayaknya,” pikir saya. Anak-anak kecil main sama Mbak Anug. Pak Lala dan Kak Angga sibuk benerin komputer. Maman yang juga ada sibuk menggambar.
Wendy juga baru melihat trigonometri, seperti Ita. Saya jadinya mesti jelaskan dari awal. Tapi main di tataran konsep rumus, tidak mengerjakan soal berangka. Saya gambar segitiga siku-siku, saya tulis bagaimana caranya kita mengetahui rumus sin dan cos. Tan bisa jadi merupakan turunan dari sin dan cos. Saya lalu kenalkan sekalian cosec, sec, dan cotan. Tapi saya tekankan bahwa itu semua hanya turunan dari sin dan cos. “Kalo kalian sudah hafalin sin dan cos, semua rumus trigonometri pasti bisa,” kata saya. Kami coba mengerjakan beberapa soal penyederhanaan trigonometri. Agak rumit bagi mereka karena perlu pula mengetahui cara penyederhanaan trigonometri jika sudutnya melebihi 90 derajat. “Kak, yang kolom rumus ini perlu dihafalin ya?” tanya Ika sambil menunjuk rumus-rumus trigonometri untuk sudut lebih dari 90 derajat, seperti cosec (180 – A), di LKS Ita. “Gak perlu,” kata saya. Ada caranya untuk menghafalkan itu lebih mudah. Saya lalu mengenalkan konsep kuadran I sampai IV. Saya lalu memberitahu kapan sin cos tan bernilai positif, kapan negatif. Saya bilang, “Kalian hanya perlu menghafalkan rumus sin cos tan untuk kuadran I, selebihnya sama saja, yang terjadi di kuadran lain hanya perubahan tanda positif-negatif. Untuk cosec sec dan cotan tidak perlu hafal, itu hanya turunan sin cos tan,” jelas saya.
Setelah saya membantu Wendy menghafalkan nilai sin cos tan untuk sudut-sudut istimewa, yang diilhami oleh Kak Angga, (“Cukup hafalkan nilai sin, itu pun nilainya naik secara teratur seiring besar sudut. Untuk cos kebalikan dari sin. Kalau tan, memang harus dihafalkan,” kata Kak Angga), saya lalu beri lima soal trigonometri untuk sudut-sudut lebih dari 90 derajat tanpa harus melihat daftar rumus di buku. Wendy hanya benar satu, Ita juga. Ika cemerlang, nyaris betul semua. Mereka mengeluh, nyeletuk pengen pulang. “Ih, Kakak mah pikasebeleun,” kata Ita. Saya memang tidak mengijinkan mereka pulang jika soal tidak dikerjakan dulu. Hihihi. Kepala mereka tampaknya sudah panas. Saya akhirnya mengijinkan pulang meski saya yakin mereka belum mengerti. Saya juga salah, memberi mereka materi trigonometri terlalu banyak hari ini. Untuk minggu depan, saya merasa perlu memberi mereka materi yang sama. Saya perlu mengingatkan mereka lagi soal trigonometri sampai saya yakin mereka benar-benar mengerti.
Sehabis Wendy, Ika, dan Ita pulang, saya dan Mbak Anug makan empe-empe buatan Bu Dewi. Terima kasih, Bu! Sesekali Maman ikut ngembat. “Lapar, Kak,” katanya. Hihihi. Maman seringkali mendekati saya jika saya lagi sendiri, minta uang buat makan. Saya merasa tidak boleh memberi dia uang. Saya memilih untuk mengajaknya jajan. Dia beli roti, saya beli keripik. Imot yang belakangan datang, nitip beli pering buat dimakan bersama. Oiya, ada Santi juga datang. Dia dapat oleh-oleh dari Kak Angga bisa memotret-motret. Kak Angga bawa kamera temannya. Sepanjang kami di Mentari, Santi sibuk motret sana-sini. “Saya mau jadi sutradara,” katanya. Mbak Anug merencanakan dia kuliah di perfilman STSI Buah Batu. Biaya SPP di sana Rp 500 ribu. Biaya masuknya tidak sampai Rp 1,5 juta, itu sudah termasuk SPP semester 1. Apalagi, kami dapat info, hampir 90% mahasiswanya dapat beasiswa. “Anis dan Hani ke mana?” tanya Mbak Anug melihat Santi yang tumben datang sendiri. Anis gak tau kemana, kalau Hani lagi sakit kaki, katanya. Mereka lagi deg-degan tunggu hasil UAN. Moga semuanya lulus, lancar. Amin.
Sebelum kami pulang, sekitar jam 4 sore, saya, Mbak Anug, Kak Angga, dan Imot ngumpul ngobrol sama Bu Dewi dan Pak Lala. Bu Dewi cerita soal Hifna yang sekarang jadi guru pujaan anak-anak. Dia mengajar sore, Selasa dan Kamis. Anak-anak senang, dengan syarat mesti bawa bekal tiap kali belajar. Masuk Mentari jam 4 sore, tapi banyakan denger Teh Hifna curhat. Setengah jam sebelum jam enam, baru belajar. Haha. Kadang Teh Hifna bikin kuis-kuisan seperti Missing Lyric, kadang masak mie bareng, walau akhirnya Teh Hifna dapat 4 mangkuk. Jelas anak-anak senang, maen bersama guru. Hahaha. Teh Hifna khusus mengajar Bahasa Indonesia dan IPS. Ika juga pengajar anak-anak. Berbeda dengan Teh Hifna, Teh Ika lebih serius. Dia menangani matematika. Senang, akhirnya Mentari bisa bergenerasi. Semoga terus lanjut. Saat saya dan pengajar pulang, Santi ikut. Dia dan Mbak Anug mau beli bahan-bahan untuk prakarya. Mungkin untuk minggu depan.
Oiya, saya ingin mengajarkan bahasa Prancis. Baik juga untuk saya, untuk terus belajar. Kelasnya dibuka tiap minggu jam 09.00, mulai minggu depan, di Mentari. Saya perlu menyiapkan modul Campus 1 CLE International. Masalahnya modul saya ketinggalan di Tangerang. Saya harus mencarinya lewat internet, nanti di kampus.
Lupa, satu lagi. Dendi datang dengan pacar barunya. Lama gak keliatan, dia jadi tampak keren. Pake bando hitam, rambut gondrong. Dia sudah dapat kerja, jaga warnet depan BIP. Dia datang mau pinjem duit. “Buat bayar cicilan motor,” katanya. Mintanya ke pasangan Kak Angga dan Mbak Anug, karena dia tahu saya dan Imot belum punya penghasilan. Si penagih meminta satu bulan lebih awal pelunasan motor dari yang pernah dia sepakati dengan Dendi. Dendi kelimpungan. Dia mau pinjam limaratus ribu, tambahin gaji jaga warnetnya, buat genapin sejuta untuk bayar cicilan terakhir. Masalahnya, Kak Angga habis kecelakaan. Duit tinggal sisa-sisa, kehisep buat biaya rumah sakit. Bahkan dia sekarang tidak bermotor. Untungnya, Dendi mengerti. Dia akan cari upaya lain. **
Ada yang bilang bahwa hidup dimulai dari langkah pertama manusia di muka bumi. Karena itulah ada budaya di negeri ini dimana seorang bayi akan dilehat untuk menjejakkan kakinya di tanah. Sebuah ritual yang saya temui baik itu di daerah asal Aceh sana, juga di pulau Jawa ini. Mungkin cuma sebuah ritual saja. Bentuk kebahagian karena sang bayi hadir meramaikan keluarga besar.
Bagi saya, selain ritual langkah pertama tersebut, ada juga asesoris lain yang menjadi bekal saya berjalan atau berlari di muka bumi ini. Yaitu jendela. Tidak terlalu filosofis, cuma karena alasan sederhana. Saya pernah terjatuh dari jendela.
Dari semua memori paling awal, istilah kata jika ingatan saya sebuah hardisk komputer, maka file instalasi pertama yang menempel disana adalah kenangan tersebut. Jatuh dari jendela. Entah bagaimana, saya masih jelas mengingat saya merangkak, memanjat sebuah kursi, lalu naik ke atas meja disampingnya. Dan kebetulan sekali meja itu tepat dipinggir jendela samping rumah. Lalu saya melanjutkan rasa penasaran ke tepi jendela, ada apa di balik jendela itu. Sialnya, jendela itu terbuka lebar, dan terlalu lebar untuk anak sekecil saya yang masih limbung. Saya pun tersungkur keluar jendela. Tidak jelas teringat bagian tersungkur ini seperti apa, yang pasti saya menangis.
Pasti ibu atau nenek saya menyadari tangisan saya itu. Saat ini saya cuma bisa membayangkan, kalau saat itu, pastinya dua wanita itu kebingungan mencari saya ada dimana. Tangisannya keras. Tapi makhluknya tak ada. Saya yakin mereka butuh waktu melacak asal suara tangisan itu.
Sekali waktu saya pernah bertanya kepada ibu saya, apakah masih ingat dengan peristiwa itu? Beliau menjawab, “Mamak tidak ingat. Terlalu banyak kecelakaan menimpa dirimu pas kecil dulu.” Ya juga sih. Saya pernah jatuh ke jendela untuk kedua kalinya, juga pernah memecahkan meja kaca dengan tangan saya, juga pernah memasukkan crayon kecil ke hidung saya, dan banyak lagi. Memang terlalu banyak untuk diingat beliau yang punya 3 anak lelaki.
Kisah jendela itu pernah terjadi kedua kali ketika saya sudah lebih besar. Yang kedua itu, sampai meninggalkan bekas memanjang di paha saya, karena dibalik jendela itu sudah dikapling kawat berduri oleh tetangga saya. Uniknya, saat itu saya tidak menangis walau pun terluka. Malah berkolaborasi dengan kakak saya untuk tidak cerita ke ibu. Terlalu takut dimarahi soalnya. Kakak perempuan yang berbeda setahun umurnya dengan saya itu, dengan sigap menjadi suster. Mengendap-ngendap mengambil “obat merah” (dulu belum ada istilah Betadine), air dan kain. Lebih hebat lagi, sempat-sempatnya dia meramu obat luka seperti yang biasa nenek saya ramu (nenek saya punya ramuan obat untuk luka, ilmu yang dia dapat dari sisa zaman Jepang). Alhasil saya bersih dari luka. Berhasil tidak ketahuan oleh ibu, langsung jadi anak baik, tidur siang. Selanjutnya yang saya ingat, malamnya satu rumah panik, saya demam akibat infeksi luka.
Bukan cuma pas kecil, jendela juga sering menghiasi kisah-kisah saya selanjutnya. Dulu, pas SD saya lebih suka duduk paling belakang dekat jendela. Alasannya juga sederhana, lebih adem. Selain itu saya punya fantasi aneh. Saya percaya jendela adalah “pintu darurat” manakala ada gempa, kebakaran, atau ada serangan dari bandit-bandit. Pintu yang cuma satu-satunya di kelas, pasti akan jadi sangat sempit ketika semua murid dan guru berebutan keluar.
Saya juga senang dengan hamparan jendela-jendela di SMP saya dulu. Sebuah bangunan tua zaman Belanda. Sekolah itu memiliki jendela-jendela yang tinggi dan besar. Kayunya kokoh menjulang 3 kali tubuh saya. Kayunya solid, tidak terlihat lapuk, hanya cat-nya saja yang megelupas dan sering berganti warna. Padahal jendela itu sudah ada disana sejak tahun 1922. Keakraban saya dengan bangunan itu berlangsung lebih lama dari semua bangunan yang saya temui hingga saat ini. Karena Ibu saya mengajar disana, jadilah sekolah itu tempat bermain saya sepulang dari SD. Taman bunga di bawah jendela-jendela itu sering jadi tempat saya bermain. Kadang sambil mengganggu murid-murid SMP yang sedang belajar, yang duduk di samping jendela. Justru seringkali mereka yang doyan diganggu oleh saya.
Di jendela-jendela SMP itu pula pernah hati terpaut. Kadangkala ada bidadari manis disamping jendela, yang hanya bisa dilihat ketika saya melewati ruang kelas mereka. Dari jendela-jendela itu pula ada kisah-kisah ribut saling serang antar kelas. Atau sebuah kisah tragis patah hati ketika pak pos tak resmi mengantar surat putus lewat jendela kelabu itu.
Ketika SMU pun sama, lagi-lagi jendela menjadi cerita. Sekolah berasrama, jendela di asrama dan juga di kelas. Dan asrama tanpa banyak jendela tentunya tidak sehat. Sialnya, jendela kadang jadi masalah bagi sebuah asrama. Jika bangun pagi, dan saya lupa membuka jendela sebelum berolahraga pagi, maka bersiaplah mendapat olahraga tambahan. Tetapi jendela-jendela itu juga bisa bersahabat dengan laki-laki muda di dalamnya. Bagaimana dari jendela-jendela itu bisa melihat jalan kecil depan asrama dipenuhi gadis-gadis muda yang manis dari asrama perempuan sedang berjalan kaki. Selain bersahabat, juga bisa mengerikan. Ketika dari batas jendela yang jauh di asrama kakak kelas, bisa terlihat teman yang dimarahi dan dikerjai. Lebih sadis lagi jendela-jendela di ruang makan asrama. Pertempuran batin dan mental tersendiri berada di ruang itu bersama senior, padahal cukup banyak jendela disana bisa dipakai untuk melarikan diri.
Dikehidupan selanjutnya jendela-jendela tidak banyak menghiasi hidup saya. Tetapi mereka masih sering datang dan muncul begitu saja. Kadang merepotkan. Kadang menyenangkan. Misal ketika jendela itu minta untuk dibungkusi tirai, dan saya paling malas berkompromi dengan tirai. Lalu kemudian mulai privasi saya terganggu karena tak ada tirai buat mereka. Seandainya saja jendela-jendela itu mengerti bagaimana membungkus diri mereka sendiri.
Bukan cuma soal bungkus dan tirai, menutup jendela pun bagi saya bukan perkara yang gampang. Kadang saya biarkan jendela terbuka berminggu-minggu, berbulan-bulan. Bukankah tugas mereka untuk terbuka dan tertutup, bukan tugasnya saya. Kompromi ini kadang semakin sulit hari ke hari.
Kisah jendela terakhir yang saya ingat, ketika masa-masa sulit sebelum saya keluar dari kampus saya. Dosen saya yang baik itu memberikan pertanyaan yang entah bagaimana justru lagi-lagi soal jendela. Beliau bertanya, “Kamu silahkan pilih. Keluar dari kampus ini dari pintu? Atau jendela?” Saya tidak menjawab. Tetapi beliau tahu bahwa saya memilih jendela.
Sekian banyak kisah jendela yang saya punya, namun saya yakin itu belum seberapa. Saya cuma bisa menikmati, mengagumi, bersahabat atau bermusuhan dengan mereka. Saya masih merasa iri dengan tukang-tukang kayu dan tukang bangunan. Mereka bisa membuat jendela-jendela itu hadir dikehidupan saya. Walaupun saya tidak pernah kenal seorang pembuat jendela pun di muka bumi ini, anehnya saya hidup dengan karya-karya mereka disekeliling saya. Kurang pasti, apakah tukang-tukang itu juga memikirkan hal remeh temeh jendela ini seperti saya ketika mereka membuatnya? Tentang, bagaimana si jendela buatan mereka hadir membingkai kisah manusia lainnya, bagaimana jendela-jendela itu membatasi penglihatan untuk kisah-kisah manusia yang ada dibaliknya?
Melihat jendela sebagai bingkai, tentunya bingkai yang indah membuat gambar semakin indah. Jendela adalah juga ukiran dan fisika. Dua daun, atau satu daun adalah sama, tidak berbeda bagi sebuah jendela. Ukiran sebagai keindahan, statiska sebagai wujud keseimbangan.
Sebuah rumah bersejarah di Amerika, dikenal dengan nama Robie House, memiliki jendela yang sangat indah. Frank Lloyd Wright pembuatnya adalah arsitek terbaik dalam sejarah Amerika. Jendela buatan Frank Lloyd tidak hanya persoalan ukiran dan fisika arsitektur, tetapi juga trademark sebuah laku budaya. Ada nafas perubahan dalam desainnya yang menggambarkan transisi dalam sejarah arsitektur Amerika. Seperti juga semangat perubahan Amerika untuk maju digdaya di awal abad ke 20.
Jendela mungkin cuma sebuah bingkai dan persinggahan bagi manusia diantara proses kehidupan yang terus melaju dan berubah. Saya mengalaminya sepanjang hari, bulan dan tahun. Tidak mungkin tidak untuk bersama bingkai-bingkai ini sepanjang hidup saya. Entah itu ukirannya yang buruk dengan gambar yang spektakuler, entah menyebabkan sebuah luka karena terjatuh, atau memberi haru biru walaupun bingkainya menawan. Umur hanya sebuah ukiran jendela, dan hidup adalah gambarnya.
“The longer I live the more beautiful life becomes.” – Frank Lloyd Wright
Social media. Wah, saya capek juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? Ah, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. Toh, sampai sekarang saya tidak bisa mengalahkan adik saya dalam kualitas penggunaan Facebook, atau temen cantik saya dalam hal banyaknya berbalas Twitter.
Social media dunia yang tidak adil? Juga bukan demikian. Ini soal berbagi peran. Misal, tidak mungkin anda meminta ibu anda yang biasa menonton sinetron untuk menggantikan kerja kantoran bapak anda. Dan begitu pun sebaliknya. Eh, kok contohnya bias gender? Sayang sekali kalau ada melihat pernyataan “misal” saya sesederhana membedakan vagina dan penis.
Kita tidak bicara fungsi penis atau vagina disini. Walaupun kedua benda ini sangat cocok untuk menjadi metafora penggunaan social media yang banyak hadir di layar komputer anda.
Kembali misal, karena kelaki-lakian saya, saya melihat penis itu menggunakan vagina sebagai alat pemuasnya. Seperti pengguna internet yang menggunakan social media. Tetapi kemudian teman-teman perempuan saya banyak yang protes,
“Siapa bilang kamu yang menjadikan vagina kami alat pemuas penis mu? Justru kami-kami ini yang membutuhkan penis mu itu sebagai mainan kami!”
Begitupun dengan social media, apakah anda pernah berpikir justru anda yang digunakan oleh social media dengan segala kekuatannya?
Urusan siapa menggunakan alat siapa memang bisa menjadi perdebatan panjang. Kita cukupkan disini saja.
Saya cuma bisa berpesan, tidak perlu meributkan hal sederhana di atas. Gunakan saja semaksimal mungkin layanan social media untuk kebutuhan-kebutuhan anda. Luaskan manfaatnya untuk orang-orang sekitar anda. Berpikir besar membangun atau menghancurkan negara dari sebuah aplikasi social media? Itu boleh-boleh saja. Tetapi pikirkan dulu dapur anda dan iuran lingkungan RT anda. Saya yakin di RT anda pun tidak semua orang tahu apa itu IP atau WiFi.
Ohya, satu lagi. Social media juga memiliki resiko. Bersiaplah dengan resiko-resiko kecil dulu. Seperti saya, sekarang harus mengambil resiko karena penggunaan kata vagina dan penis yang terlalu masif disini. Maksud saya resiko dari spam, bukan resiko yang lain.
Cukup lama waktu 2 tahun itu. Silahkan anda menghitung dari seberapa lama anda mandi, seberapa lama anda butuh waktu untuk makan, ngopi, menonton satu episode sinetron, atau sekedar merokok sebatang. Dua tahun ternyata satuan waktu yang relatif lama dibanding aktifitas rutin anda. Akan terasa lebih lama lagi kalau sekarang anda sedang membaca pengumuman yang mengatakan remunerasi anda baru dinaikkan 2 tahun lagi. Atau, sekarang anda menapat jawaban dari pasangan “Dek, tunggu abang 2 tahun lagi ya. I’ll be back.” Terasa lama da mengenaskan.
Tapi dua tahun bisa dirasa sangat singkat pula. Anda boleh merasakannya sekarang juga. Coba bayangkan saja 2 tahun lalu anda sedang apa? Sedang memegang bertumpuk-tumpuk buku kuliah mungkin, atau sedang bernyanyi riang bersama teman di bawah malam, atau sedang menyaksikan Final Champion MU versus Chelsea? Dua tahun lalu yang saya ingat ketika sedang menonton pertandingan final Piala Champion di salah satu televisi warnet di pojok komplek. Lucunya kemarin saya baru menyadari ketika MU dan Chelsea bertanding lagi -walau saya tidak sempat menonton live di TV, saya sempat singgah membeli rokok di warung sebelah warnet itu lagi. Dan saat itulah saya merasakan 2 tahun itu ternyata singkat sekali. Hanya seukuran seberapa lama jarak saya berjalan kaki dari kontrakan menuju warnet itu.
Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menghampiri saya via Messenger. Ngobrol, bercanda dan pastinya membahas hal tidak penting. Bicara seputar kabar si anu dan si una, pacar-pacar mereka, atau pacar-pacar kita. Dan kemudian dia melempar pertanyaan yang sama dengan tulisan ini.
“Perasaan baru dua tahun lalu gue ketemu lu di Jogja.” tulisan terkirim di messenger saya.
Pernyataan yang tidak penting buat saya. Karena toh, baru 2 bulan lalu saya bertemu dia di Bandung. Lalu apa pula maksudnya bicara dua tahun lalu bertemu di Jogja?
“Halah, lu juga sempat ketemu gue setahun lalu di Jogja. Belum juga 2 bulan kita ketemu di Bandung. Kenapa musti mundur jauh bicara seolah melankolia banget, terakhir kali di Jogja bertemu 2 tahun lalu?” jawab saya.
Bukan apa-apa. Ini memang sebuah kebiasaan manusia. Kita lebih suka mengasosiasikan melankolia dengan jauhnya jarak dan lamanya waktu. Saya memilih kata melankolia untuk teman saya itu, karena kata “lebay” justru akan merendahkan dia sebagai lelaki dewasa.
“Hahaha. Lebay ya gw.” kata nya kembali.
Dan ternyata teman saya ini memilih merendahkan dirinya sendiri.
Persoalan lama tidaknya dua tahun memang bisa sangat merepotkan. Misal, pacar anda bicara, “Mana? Janjinya mau ngawinin aku. Itu janji kamu 2 tahun lalu!” Merepotkan. Bukan soal menjawabnya, yang saya yakin gampang keluar dari mulut anda, “Iya. Iya. Aku ini justru sedang berusaha supaya itu segera terwujud, sayang.” See? Gampangkan? Tetapi ini memang bukan persoalan jawabanya. Tapi ini soal seperti apa lamanya 2 tahun itu bagi anda atau pasangan anda.Dia melihat ke belakang sudah lama 2 tahun menunggu kapan akan dilamar. Sedangkan anda melihat 2 tahun itu “cepet juga ya”, dan anda membutuhkan injury time lagi.
Itu jika kita bicara 2 tahun sebagai lama atau tidaknya dalam ukuran waktu.
Sekarang coba tanyakan ke sepasang kakek nenek, apa artinya 2 tahun bagi mereka. Saya yakin, jika anda bertanya “Kek, Nek, apa arti 2 tahun bagi kakek dan nenek?”. Menurut pertimbangan saya, kemungkinan respon yang anda dapat ada dua. Pertama, mereka akan tersenyum, memutarbalik memori mereka ke masa-masa 2 tahun lalu, 12 tahun lalu, bahkan bisa jauh ketika mereka berumur 20 tahun.
Kedua, mereka bisa mengernyitkan dahi, kaget. Seolah-olah anda sedang bertanya kapan mereka akan mati. Lebih parah lagi jika mereka berpikir, “Cucu sialan! Belum apa-apa sudah minta warisan?”
Makna 2 tahun bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Jika sudah bicara makna dan memaknai, saya juga bisa bilang, 2 menit pun bisa berbeda bagi tiap-tiap orang. Karena ukurannya bukan soal lama atau sebentar. Dua tahun atau 20 puluh tahun. Cukup rumit memang mengakui persoalan makna, karena urusannya menjadi sangat “sederhana” jika sudah ditambahi kata “makna”. Coba saja anda menjawab,
“Dua tahun ini anda sudah ngapain aja ?”
Sepersekian detik waktu dan energi otak anda harus mengingat dan berpikir sebuah pertanyaan sederhana ini.
Itulah kenapa sejarah manusia mencatat sejak era Da Vinci sudah mengkhayalkan adanya mesin waktu. Dan lagi-lagi ini aneh, ketika kita merasa 2 tahun itu cukup lama atau singkat untuk dilalui, kita malah berharap adanya mesin waktu yang justru menambah atau mengurangi tahun-tahun kita.
Saya jadi ingat kutipan terakhir dalam surat curhat Gie, “Berbahagialah mereka yang mati muda”. Pikiran saya pun terbayang, apa alasan Gie mengatakan bahagia jika mati muda? Jangan-jangan surat itu cuma anekdot dia saja, karena merasa 2 tahun terlalu lama untuk berjuang. Atau kebalikannya, 2 tahun terlalu singkat untuk berjuang, jadi ya mending mati saja. Sebuah pernyataan bernilai “nihil”, dan Nietzsche yang memperkenalkan kutipan ini pun tidak memilih mati muda.
Dua kemungkinan jawaban diatas bisa menjadi benar rupanya. Tapi syukurlah Gie tidak sempat membuktikan benar salahnya curhat tersebut. Begitu pun saya, tidak berpikir untuk memilih mati muda walau kutipan ini saya pakai berkali-kali. Misal saja Gie menulis, “Bersyukurlah saya jika mati 2 tahun lagi”, mungkin dia juga tidak akan jadi pahlawan seperti sekarang.

Entah sejak kapan saya percaya bahwa ilmu itu cuma ada 3. Berbeda dari om Wonggantenk dengan artikel beliau Politik Pendidikan: “Kemampuan bahasa” first, the rest are commentary, yang memilih 3 juga, -Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, maka bagi saya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masuk di dalam Ilmu bahasa, dan cukup ditambahkan satu lagi yaitu Sejarah. Alasannya karena dengan Bahasa seorang manusia bisa belajar menyampaikan maksud dan mengerti sebuah maksud. Dengan Matematika seorang manusia bisa mempertanggungjawabkan maksud-maksud mereka. Dan dengan sejarah, seseorang bisa belajar menghargai maksud orang lain, pendahulu mereka juga sekaligus diri mereka sendiri dengan mewariskan maksud-maksud mereka pada generasi berikutnya.
Paragraph diatas adalah sebuah pengantar saja. Namun rekan-rekan disini tentu sudah mengerti maksud saya pastinya. Tiga ilmu besar diatas adalah arti kata lain dari nilai pendidikan bagi manusia. Itu berarti bagi adik-adik saya, bagi anak-anak kita, anak-anak Indonesia. Jadi sangatlah heran apabila pemerintah ini masih berkeras dengan pelaksanaan Ujian Nasional yang tidak memenuhi “prinsip 3″ diatas.
Bagaimana pendapat para pelaku pendidikan sendiri, para guru? Mungkin sebagian memilih manut, karena mengajar bagi mereka adalah satu-satunya cara mendapat tunjangan kesehatan, biaya untuk dapur, atau mempermudah urusan kredit rumah sangat sederhana mereka. Tapi saya percaya mereka lebih mengerti persoalan mendasarnya tentang UN ini ketimbang saya sendiri.
Dulu, saya sempat bercerita pertemuan saya dengan Ibu Guru Cantik ketika mewakili teman-teman saya mengurus perwalian adik asuh kami. Dan kebetulan, beberapa hari lalu, teman saya yang lain, kembali menjadi wali untuk urusan yang cukup pelik sebenarnya. Urusan biaya UN. Berikut saya copas tulisan dari rekan saya itu.
Catatan : Teman saya, dan saya berhak untuk merahasiakan nama dan dari sekolah mana si Ibu Guru Cantik ini. Sebelum teman saya menulis cerita ini di Facebooknya, dia sudah terlebih dahulu curhat soal ini. Bukan barang baru memang, tapi bagi dia, cukup membuat shock dan memaki-maki seharian.
—–
Balada Ujian Nasional Kitaa…
04 Maret 2010 jam 13:07
Pertengahan Februari lalu, saya dikejutkan oleh sebuah surat pemberitahuan dari SMA adik-adik asuh saya. Surat pemberitahuan tersebut mengumumkan jadwal Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Praktek mereka mulai 22 Maret-14 April 2010. Pihak sekolah mecantumkan biaya keseluruhan ujian sebesar Rp 300.000/siswa. Wew!Mahal juga, pikir saya saat itu.
Seingat saya, dulu saya tidak pernah mengeluarkan biaya begitu besar untuk mengikuti Ujian Nasional. Lagipula, polemik Ujian Nasional kan sudah sampai tingkat kasasi. Kok masih terus dilangsungkan ya? Sekolah ketiga adik asuh saya tersebut juga termasuk salah satu sekolah swasta di Bandung yang mendapatkan subsidi Sekolah Gratis sejak tahun 2009 lalu. Lantas, kenapa masih dikenai biaya ujian segala?
Berbekal uang 900.000 dan pikiran macam-macam di kepala, saya mendatangi sekolah tersebut tanggal 1 maret lalu. Saya bertemu dengan Ibu wakil sekolah bidang kesiswaan. Beliau ini sebenarnya anak dari kepala sekolah, yang dipercaya untuk mengurus sekolah tersebut sejak awal tahun 2009. Sang kepala sekolah memiliki beberapa sekolah di kota dan kabupaten Bandung, ceritanya. Well, semacam bisnis keluarga mungkin. Karena anak dan kerabatnya diserahi peran penting pada beberapa sekolahnya. Setahu saya sekolah-sekolahnya tergolong kecil dan dibangun di daerah kecil, seperti Majalaya sampai Garut. Tapi dengan banyaknya subsidi pendidikan untuk sekolah-sekolah di masa kini mungkin ini jadi bisnis yang bagus =D
Nah, Ibu muda cantik yang ramah itu menerima saya dengan sangat baik. Saya bayar biaya ujian ketiga adik asuh saya tanpa banyak bicara. Tiba-tiba beliau nyeletuk bilang, “Seharusnya Ujian
Nasional tuh ga usah ada, itu kan cuma proyekan dinas saja.” Senyum saya kulum, mengangguk tanda setuju. Wah, si ibu idealis juga niy. Kelihatannya beliau masih berusia 30-an awal, karena
kalo murni idealis kan biasanya mahasiswa yang berusia 20-an.”Ujian Nasional itu cuma kedok.” Si ibu cantik lantas menjelaskan alasan kenapa biaya ujian bisa semahal 300 ribu rupiah.Dalam UN, para pengawas ujian adalah guru-guru dari luar sekolah dan ada pengawas dari dinas. “Saya bulan lalu habis rapat koordinasi SMA negeri dan swasta se-Bandung Utara. Dalam Materi Rapat disebutkan bahwa sekolah harus memberi uang transpor dan makan bagi para pengawas UN.” Lalu, ia menunjukkan lembar Materi Rapat UN yang ia hadiri di Dinas Pendidikan Kota. Di lembaran itu tertulis kurang lebihnya seperti ini:
1. Uang transpor pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 15.000 per orang per hari.
(“ada 3 orang pengawas dalam 1 ruang dan ada 5 hari ujian untuk 6 mata pelajaran yang diujikan,”terang si ibu)2. Uang makan pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 10.000 per orang per hari.
3. Pengawas soal diberikan uang transpor oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 100.000 per orang per hari.
(pengawas soal ini mungkin maksudnya pengawas/pembawa soal dari Dinas, ada 1-2 orang dan Rp 100.000 dalam rapat diganti oleh Pimpinan Rapat menjadi Rp 150.000 -pimpinan rapat adalah ketua rayon, kalo ga salah-)4. Tiap sekolah yang menyelenggarakan Ujian Nasional wajib menyerahkan Iuran gotong royong yang dikenakan pada tiap siswa sebesar Rp 7.500.
(Si ibu cantik juga tak tahu apa gunanya iuran gotong royong ini)“Mbak lihat sendiri kan, kalo kami hanya memungut uang ujian berdasarkan aturan itu saja. Sisanya untuk operasional UAS dan ujian praktek. Kalo di sekolah lain (uang ujian-red) bisa sampai 500 ribu bahkan 2 juta per siswanya,” terang ibu cantik.Apa?
“Lebih kasihan lagi kalo anaknya ga lulus, mbak. Tahun lalu saja tiap siswa dikenakan biaya 1,5 juta per mata pelajaran yang tidak lulus,” lanjutnya. Waduh, kalo ga lulus 6 pelajaran berarti habis duit 9 juta dong..aih, aih. Satu setengah juta itu aturan dari sekolahnya ato bagaimana, tanya saya. “Aturan dari atas, alasannya soalnya beda dan biaya operasional para pengawasnya kan beda lagi,”jawab si ibu dengan nada makin tinggi.
“Padahal kalo banyak siswa yang tidak lulus, kepala dinas prov-nya juga ditegur sama menteri. Lalu, kepala dinasnya akan meminta bagian pengumpul soal untuk membenarkan semua jawabannya anak-anak. Berarti sama aja kan? Apa artinya ujian nasional kalo begitu?” kata ibu makin berapi-api. Berarti uang 1,5 juta itu bonus ekstra untuk para pegawai dinas sekaligus biaya untuk menghapus jawaban anak-anak dan menggantinya sesuai kunci jawaban, pikir saya.
“Kami, guru-guru,merasa kasihan sama anak-anak. Masa capek-capek mereka sekolah tiga tahun, berhasil tidaknya cuma ditentukan oleh 5 hari ujian. Ga adil kan? Standarnya juga dinaikkan tahun ini, jadi 5,50 untuk 6 pelajaran. Terlalu berat untuk sekolah kecil seperti di sini.” Betul, jawab saya, dengan standar ujian yang sama maka tingkat kelulusan di daerah kota dan desa pasti berbeda. Kualitas pendidikan di negara ini belum terstandarisasi dengan baik sampai saat ini. Mulai dari Sabang sampai Merauke, kualitasnya pasti tak sama. Agh, gitu kok berani-beraninya bikin Sekolah Standar Internasional? imbuh saya dalam hati.
“Kalaupun memang tetap ada UN, mungkin ada baiknya bila anak-anak yang tidak lulus tetap mendapat ijazah. jadi mereka tetap bisa melamar kerja. itu menurut saya lho ya,” ujar si ibu lagi. Aturan sekarang, bagi siswa-siswa yang lulus akan mendapatkan ijazah dan surat tanda lulus. Jika tidak lulus, mereka tidak akan mendapatkan keduanya. Jadi harapan siswa untuk melanjutkan studi atau bekerja tidak terputus begitu saja.
Lalu, kenapa Ujian Nasional tetap diadakan juga Bu? BUkannya kasus UN sudah sampai tingkat kasasi? tanya saya. “Nah, itulah. Bambang Sudibyo, menteri pendidikan tahun lalu sudah keburu bikin Permen. Peraturan Menteri bahwa UN tetap akan dilaksanakan. Menteri Pendidikan yang sekarang ini, M.Nuh, tidak bisa mengubah Permen ini. Bisa sebenarnya, tapi jarang sekali ada Menteri yang mengubah
Permen. Jadilah, Permen manis buat kita semua,”jawab beliau diakhiri senyum simpul yang membuatnya makin cantik. Kalo menurut laki saya, Permen tersebut tidak diubah karena banyaknya protes dari pejabat Dinas Pendidikan. Beban biaya untuk membatalkan UN dianggap terlalu besar karena proses pengadaan UN sudah dimulai sejak tahun lalu! Terlalu besar yang akan hilang dari kantong mereka mungkin, pikir saya.
“Seluruh jajaran Dinas Kota maupun Prov pasti tahu soal ini. UN itu proyek besar. Orang-orang atas pasti dapat bagiannya,” asumsi si ibu cantik sambil tersenyum sinis. Mengingat proyek UN adalah “proyek bersama pejabat pendidikan” maka kepala-kepala sekolah mungkin tidak dapat berontak atau protes. Masalahnya, cap kelulusan anak-anak didik mereka yang pegang. Legalitas sekolah juga ada di tangan mereka. Kalau si ibu cantik ini bersuara sekeras ini pada pejabat di atasnya, bisa-bisa sekolahnya dibubarkan tanpa alasan jelas. Lantas, bagaimana tanggung jawabnya pada orang tua siswa?
Mungkin itulah sebabnya, si ibu cantik ini bertutur begitu semangatnya pada saya. Saya mengaku sebagai mahasiswa. Mungkin beliau ingin melepaskan uneg-unegnya pada saya dan sedikit berharap suara saya bisa berbunyi lebih keras darinya. Bagaimanapun, beliau tahu semua kecurangan dan kebusukan para mafia pendidikan itu tapi tak mampu berbuat banyak, selain bertahan dan pintar-pintar menahan diri. Karena beliau masih berada dalam sistem pendidikan itu sendiri.
Gambaran tentang UN ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Tapi saya masih kaget melihat betapa riilnya kecurangan-kecurangan tersebut terjadi. Lebih kaget lagi, para guru sudah banyak yang tahu soal ini, tapi tidak bisa berbuat banyak. Tapi setidaknya mereka tetap berusaha bertahan dan mendidik murid-muridnya. Lebih mulia jasanya daripada pejabat dinas ataupun anggota dewan terhormat yang masih saja ribut soal duit hilang Century.
—-
Bukan barang baru. Justru barang yang terus diulang-ulang untuk mengingatkan. Bukan juga sebuah klise untuk menolak UN, itu bukan juga jawaban yang diharapkan rasa kesal ini.
Tetapi persoalannya ada pada pengelolaan sistem pendidikan itu sendiri. Entah dari dulu (karena saya masih muda), entah sekarang. Jikalau nanti pun UN menghilang dari tanah republik ini, apakah sistem pendidikan yang rusak begini masih terus bertahan?
Saya cuma berpikir, apalah artinya Sekolah Berstandar Internasional kalau justru memiskinkan yang semakin miskin? Apalah artinya universitas ternama kalau justru mencetak koruptor baru setiap tahun kelulusannya? Apa pula artinya Institut terkemuka jika hanya melahirkan politisi yang pintar berkelit lidah dan egois dengan urusan politik dalam selangkangannya?
Apa pula artinya saya bicara panjang lebar soal ini, sementara kita sendiri sibuk berbasa-basi soal berhak tidaknya seseorang jadi presiden atau pe-dangdut? Sementara berurusan dengan seorang tamu pun, kita sendiri harus sibuk bebersih rumah yang terus menumpahkan darah.
Saya tahu tulisan ini kepanjangan, padahal cuma pengantar sebuah copas. Tapi paling tidak gara-gara cerita ini saya jadi menulis lagi setelah sekian lama. Jadi mengingatkan diri sendiri untuk belajar ber”Bahasa” dan sekaligus menulis “Sejarah” lagi. Kalau Matematika, saya melakukanya hampir setiap bulan dari billing pribadi saya yang angkanya terus naik.
Gambar diambil dari Cover majalah sebuah Unit Pers Mahasiswa. Di Edisi tersebut saya menulis laporan utamanya.
Ini keluhan yang sangat sangat sangat mengganggu.
Kebetulan saya baru kembali dari Bandung. Menumpang 4 hari di rumah teman di sekitar daerah Kanayakan, Dago. Dan saya harus katakan kesal luar biasa.
Saya baru saja tiba dari Bandara Sukarho Hatta waktu itu, dan langsung bergerak menuju Bandung. Berharap sampai di Bandung bisa merasakan segarnya air Bandung menutupi penat nya badan karena udara kotor Jakarta. Tapi apa dinyana. Air di tempat saya tinggal tersebut mati.
Menunggulah saya dan teman-teman di rumah itu, berharap ini cuma giliran pemadaman saja. Seperti biasanya. Tapi, ternyata lebih parah. Sampai kemarin saya kembali ke Yogyakarta, air belum juga mengalir. Info terbaru malah sampai hari ini (berarti hari ke-5) belum juga mengalir. Keluhan serupa datang dari berbagai penjuru kawasan Dago, yang saya baca di twitter, juga dengar dari cerita teman-teman dan tetangga.
Ini bukan cerita aneh buat kota Bandung memang. Tapi sampai 5 hari tanpa informasi jelas atau lewat permintaan maaf dari pihak PDAM Bandung -media massa/atau dimanapun yang bisa dijangkau publik infonya, bagi saya ini berarti sebuah kekeliruan manajemen kota yang serius!
Masyarakat diminta untuk terus membayar. Tapi pelayanan pun semakin menyesakkan dengan bertambahnya hari-hari panas di Bandung. Setahu saya, PDAM bandung sendiri pernah merilis bahwa mereka menyadari semakin kekurangan debit air untuk kebutuhan publik. Tapi di sisi lain, pihak manajemen mengakui juga kalau mereka mengalami kerugian karena berbagai sebab secara berkala, dengan nilai rupiah hingga puluhan miliar pertahunnya (34 miliar terakhir saya baca dari Pikiran Rakyat).
Jika sudah begini Persoalan air kota Bandung bukan lagi urusan PDAM semata. Pemerintah kota, atau bahkan Pemda Jabar harus proaktif turun tangan. Institusi pendidikan teknologi terhebat di Indonesia yang berlokasi di kota yang sama pun mengakui bahwa muka air tanah kota Bandung semakin rendah. Ironisnya, kontribusi institut ini buat permasalahan tata kota mereka sendiri belum bisa diselesaikan secara nyata. Padahal mereka sendiri baru membanggakan diri karena kenaikan peringkat institusi pendidikan tersebut naik menjadi 80 besar di dunia. Terakhir yang saya lihat, sebuah mall disiapkan lagi didepan gedung rektoratnya. Sungguh ironis.
Sebabnya kekuarangan air ini bisa ditebak. Daya serap air tanah semakin rendah, aliran air semakin sedikit dengan kondisi iklim yang sulit ditebak juga karena pengaruh iklim. Sementara disana, bangunan-bangunan gedung yang menggila terus dibangun karena tuntutan sebagai “kota satelitnya orang jakarta”. Dan membludaknya kebutuhan air dari mobilisasi penduduk, plus kebutuhan air untuk gedung-gedung besar ini jelas menyedot air Bandung yang semakin sedikit. Jika sudah begini, akan dibawa kemana tata kota Bandung yang akunya Bermartabat itu?
Jangan-jangan memang martabat kota Bandung harus dipertanyakan kembali. Dulu sempat dipertanyakan karena sampah. Apakah sekarang harus bertaruh nama kembali lantaran permasalahan air?
Sumber :
Research singkat dari google persoalan air dan tata kota Bandung.
http://coretankelambu.wordpress.com/author/yudhaspiza/page/14/