
Tentunya sudah tau kasusnya ibu prita vs RS Omni donks. Klo belum berarti ndesa, karena banyak sekali yang sudah menulis tentang hal ini. dari blog,plurk,facebook dan twitter. Tapi klo beneran tidak tau, saya kasih tau. Ibu prita ditahan oleh polisi karena mengirimkan curhat ke surat pembaca, tentang keluhannya terhadap pelayanan rumah sakit Omni. Keluhannya berjudul
Rs Omni dapatkan pasien dari hasil lab fiktif, sila dibaca-baca.
Kemudian, RS omni tidak terima dan menganggap ibu prita telah mencemarkan nama baik rumah sakit. Dan kemudian memberikan Sanggahan bahwa apa yang dikatakan ibu prita tidak benar.
Sanggahan bisa dibaca dimari. RS omni kemudian mengambil tindakan hukum secara perdata dan pidana. Hingga kini, Ibu Prita ditahan di kantor polisi, meninggalkan anak2nya yang masih kecil.
Saya tidak tau apakah semua fakta yang dibeberkan oleh ibu prita di suara pembaca itu benar adanya, hanya dia dan Omni yang tau. Namun Omni sama sekali tidak (atau saya yang tidak tau) menjelaskan fakta sebenernya tentang kasus ini. Mereka hanya mengatakan bahwa fakta yang dibeberkan ibu prita tidak benar. Entah bagian mana yang tidak benar, dan bagaimana yang sebenarnya.
Tindakan yang diambil ibu prita sebelum ia mengirimkan surat pembaca, menurut saya sudah benar. saya juga akan melakukan hal yang sama.
Jika test darah dengan hasil thrombosit 27.000 itu benar memang ada, tentu mereka tak akan kesulitan untuk memberikan laporannya kepada ibu prita. Semudah mereka memberikan hasil revisi test darah dengan thrombosit 181.000.
Jika Omni memberikan laporan test darah tersebut, Maka kesimpulan yang diambil adalah sekedar bahwa
BAGIAN LAB RS OMNI TIDAK BECUS. test darah kok bedanya bisa jauh banget. Kasus seperti ini masih wajar terjadi di indonesia, mereka juga manusia.
Belum lagi, diagnosa dari dokter yang menyatakan ibu prita terkena demam berdarah, harus rawat inap, diinfus dan disuntik macam2. Tidak cuma bagian lab, tapi
DOKTERNYA JUGA TIDAK BECUS. Efek Samping sesak nafas yang dialami ibu prita setelah mendapat suntikan macam2 tersebut, tentu saja merupakan MALPRAKTEK. Biasanya pasien yang menuntut dokter perihal kasus malpraktek seperti ini.
Dan menurut dokter dirumah sakit lain, Penyakit ibu prita adalah Gondongan, bukan demam berdarah.
Baiklah, selain tentang tidak becus dan malpraktek tersebut, Masih ada satu hal lagi. Omni akhirnya mengirimkan laporan lab sebelum revisi ke alamat ibu prita, diterima oleh rukiah. Padahal tidak ada yang bernama rukiah di rumah ibu prita, dan laporan tersebut tidak pernah sampai.
Kemungkinannya, Ibu prita salah mengisikan alamat. Namun ketika ibu Prita meminta pihak Omni menyebutkan alamat rumahnya, Pihak omni tidak bisa melakukannya. Padahal mereka bisa melakukannya ketika mengirimkan kurir.
Kemungkinan kedua, RS OMNI tidak pernah mengirimkan laporan lab tersebut.
Dari dua kemungkinan diatas kesimpulannya sama,
RS OMNI ADALAH PENIPU.
Pemikiran saya diatas ini adalah dari fakta yang diungkapkan oleh ibu prita saja, karena saya sama sekali belum mengetahui fakta menurut RS Omni.
Wajar saja jika Ibu Prita melakukan apa yang dia bisa lakukan, mengirimkan surat pembaca. Tujuan nya baik, agar tidak ada orang lain yang menjadi korban seperti dirinya. Ia mempunyai hak seperti ini, dan dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Saya setuju dengan siapapun yang mengatakan bahwa tindakan Rs Omni sangat BERLEBIHAN dan TIDAK PERLU.
Meneruskan beberapa Email yang masuk ke email, Saya Meminta agar RS OMNI International tangerang agar:
- Menghentikan segera semua upaya tuntutan hukum Perdata maupun Pidana pada Prita Mulyasari
- Dalam kasus Perdata, karena terlanjur diputuskan: tidak melakukan banding dan tidak melakukan eksekusi hukumnan
- Dalam kasus Pidana, karena sudah terlanjur masuk persidangan, memberikan support pada Prita Mulyasari dan memberikan kesaksian yang meringankan
- Memberikan layanan yang terbaik, sesuai hukum dan kode etik pelayanan kesehatan bagi para pasiennya
- Tidak lagi mengkriminalisasi pasien-pasien dan pelanggan RS Omni International tangerang
Semoga tidak terjadi lagi kasus serupa bagi kita semua. Dan semoga Bagian Lab Dia RS Omni tidak mengalami keadaan thrombosit 27.000 dari normalnya 200.000. Dan semoga dokter2 disana tidak mengalami demam berdarah atau virus udara.
Jika Mereka mengalaminya, semoga mereka memilih rumah sakit bagus dan ditangani dokter yang tepat.
Semoga para calon presiden bisa mengambil kesempatan ini dan memberikan kesan yang baik tentang bagaimana sikap mereka terhadap kebebasan berpendapat.