
Sebagai pendatang di Jakarta, saya sering banget menemukan berbagai keanehan, kekatrokan, dan ke-snobis-an warga Jakarta. Namun saya ndak bisa menggambarkan keadaan itu dengan nyata dan mengungkap sisi kelucuannya.
Buku kumpulan kartun Benny & Mice yang pernah diterbitkan pada Kompas edisi Minggu ini bener-bener bisa mengungkap apa yang ingin saya ceritakan itu dengan nyata. Seolah-olah saya berada di dalam kotak itu dan terlibat langsung di dalamnya.
Kemarin saya membeli buku kumpulan kartun Benny & Mice yang terbaru, yang bertajuk Jakarta Atas Bawah.
Buku setebal 136 halaman yang terbagi atas 10 bagian ini benar-benar layak dibeli untuk melengkapi koleksi buku sebelumnya, Jakarta Luar Dalam, Talk About Hape, 100 ‘Tokoh’ Yang Mewarnai Jakarta, dan Lagak Jakarta.
Selain komik-komik tesebut, pada halaman akhir kita akan menemukan cerita bagaimana proses pembuatan kartun, yang berbentuk komik juga.
Walau mengangkat tema yang sama, soal perilaku orang Jakarta, terutama kelas menengah ke bawah, namun rasanya tak habis-habis. Beberapa di antaranya begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari perilaku snobis di jalan hingga menyentil acara televisi. Kemunculan cameo artis-artis yang tidak asing bagi kita juga menambah meriah cerita yang ada.
Di halaman viii, tepat sebelum bagian pertama, kita temukan pula sebuah peringatan yang menyindir salah satu acara televisi yang menyontek persis cerita Benny & Mice. Bunyinya pun sedikit ngeselin namun jujur.
Peringatan: dilarang keras mengutip, mengadaptasi, meniru, mengalihwujudkan, mencontek ide-ide atau kisah-kisah dalam buku ini ke dalam bentuk sinetron low budget atau tayangan komedi situasi di televisi, yang belum tentu bagus penggarapannya dan belum tentu tinggi ratingnya tanpa seizin kartunis.
Adezig! Nampol banget gak, tuh? 
Memilih kartun favorit dari seluruh kartun di buku ini tentu sangat sulit, karena semuanya lucu, menarik, dan layak difavoritkan.
Belum lagi penggambaran ekspresi wajah dan tingkah laku para tokohnya yang sederhana namun mengena, menambah kekonyolan cerita.
Walau kertas yang digunakan sedikit buram, namun membuat buku ini terasa ringan.
Membaca lembar demi lembar, membuat kita larut dan tak terasa sudah mencapai halaman terakhir. Saya hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam untuk melahap semua kartun yang tersaji, sembari membunuh jenuh selama perjalanan Bogor-Jakarta yang macet tadi pagi.
Sebuah buku yang layak koleksi dan ceritanya tak lekang oleh jaman!
jengjeng matriphe! Viewed 4616 times by 1762 viewers