E… kayaknya judulnya lebay ya? :-P
Masih ingat masa-masa ketika kamu masih anak-anak? Lari-larian sama teman, belajar naik sepeda, atau, main bola terus berantem sama anak lain. Waktu kecil kita banyak mencoba, waktu kecil kita banyak belajar, waktu kecil kita banyak ingin tahu, dan tak jarang pula kita terluka. Saya ingat sekali waktu saya masih TK atau awal SD, lutut saya sering sekali bonyok karena terjatuh dari sepeda. Atau mungkin saya lari-larian sama teman dan kemudian, saya jatuh, berdarah, terus nangis. Itu baru saya, anak cewe penakut yang jarang berantem sama orang lain. Gimana kalau anak cowok yang polahnya hwarakadah? :-P Saya sering sekali melihat bekas luka di tubuh keponakan laki-laki saya. Wajarlah. Dia banyak bergerak, banyak beraktivitas, banyak ngeyel, banyak lari-lari, banyak jatuh, dan mungkin banyak berantem juga. Namanya juga laki-laki :-D
Lalu, bagaimana kalau ada lelaki yang ngga boleh terluka? Hmm… I’m talking about haemophilia. Suatu kelainan darah di mana proses penggumpalan darah seseorang tidak bekerja secara sempurna, sehingga darah lebih sukar membeku. Sebenarnya sih, kalau luka kecil saja, bisa dijahit atau ditutup dengan perban. Tapi yang lebih mengkhawatirkan dari penderita hemofilia ini adalah pendarahan di bagian dalam (sendi, otot, atau jaringan lunak), yang kalau tidak segera ditangani, bakal berakibat fatal. Penderita hemofilia ini hampir semuanya adalah laki-laki. Kenapa? Ya karena gen pembawa hemofil dibawa oleh kromosom X. Nah, kalau ada seorang perempuan terkena hemofil, pasti dia lahir dari ayah yang penderita hemofil, dan ibu yang karier hemofil. Tapi kalau dinalar, tentu saja seorang lelaki penderita hemofil akan cenderung memilih perempuan yang garis keturunannya bersih dari hemofil. Dan lagi, penderita hemofilia perempuan bersifat letal. Alias, sudah hampir bisa dipastikan akan meninggal saat mendapatkan menstruasi pertamanya. Itu kenapa, hampir tidak ada penderita hemofil yang cewe.
Lalu, saya baru saja menyatakan diri mau membantu seorang dokter untuk melakukan penelitian terhadap anak-anak hemofil. Saya dan 3 orang teman saya akan terjun ke lapangan, ke rumah 45 anak penderita hemofil. Kesemuanya laki-laki, dari umur 5-18 tahun, tinggal di sekitar DIY-Jateng. Tugas kami sebenarnya hanya memberi kuesioner pediatrik. Tapi karena kami anak psikologi, kami berniat untuk memberikan beberapa tes kepribadian untuk anak-anak itu. Yah, itung-itung buat nyicil skripsi, yang baru bakal kami ambil 2 semester lagi. (Masih lama ya?) :-D
Kenapa belum turun ke lapangan aja udah ditulis di sini?
Hmm, sebenarnya saya sudah tidak sabar. Saya penasaran. Saya ingin segera turun ke lapangan. Saya ingin tahu. Saya ingin bertemu. Bukan hanya dengan anak penderita hemofil, tapi juga dengan keluarganya. Saya ingin menjawab pertanyaan yang ada di pikiran saya: Bagaimana mengasuh seorang anak yang tak boleh terluka? Bagaimana menjaga anak tanpa membuat dirinya lemah? Dan bagaimana membuat anak mengerti bahwa kecemasan orang tua (yang mungkin berlebih) adalah demi kebaikan anak sendiri?
(4 unread)

