Dalam salah satu wawancara terakhir sebelum ajalnya, Pramoedya Ananta Toer pernah berujar tentang ketidakpercayaannya kepada penguasa, “Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenangnya.”

Rasa pesimis Pram mungkin beralasan karena ia berkali-kali harus dikerangkeng penguasa dengan tuduhan yang sangat samar-samar, bahkan tidak jelas. Buku-buku dibakar, naskah diberangus. Kekuasaan cenderung disalahgunakan, dan kekuasaan absolut pasti disalahgunakan. Paling tidak begitu kutipan surat Lord Acton kepada Uskup Creighton, ketika membicarakan kekuasaan para Paus dan Raja.
Di Indonesia dekade 80-an, sosok Petrus–singkatan dari penembak misterius–menjadi momok yang menakutkan di masyarakat. Di pasar, sawah, gang sempit, bahkan di trotoar saat itu saban hari ditemukan mayat-mayat bertato dengan luka tembak. Semasa hidup mayat-mayat itu bisa dibilang sebagai para preman, garong, atau kaum kecu. Para Petrus merajalela, penjahat tunggang langgang bersembunyi. Begitu serius dan kerasnya tekanan penguasa terhadap kaum kriminal saat itu, walau secara taktis juga mereka sering menjadi objek pemanfaatan.
Dar der dor suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan
Semakin lupa daratan
Maka lahirlah sebuah lagu bertema kritik sosial dari Iwan Fals pada tahun 1984, Sugali. Sugali, gambaran penjahat yang nekat dan pemberani, menjadi buronan polisi namun tak takut dengan letusan senapan. Congkak karena ilmu kebal senapan yang dimilikinya. Kerap kali diburu Petrus dan menjadikan lokalisasi pelacuran sebagai tempat pelarian. Nama Sugali berasal dari kata Gali, berarti orang yang melawan hukum dan hidup liar di jalanan.
Lagu Sugali hadir pada masa di mana kejahatan–yang menurut penguasa saat itu–serius dan menjijikkan diberantas tanpa ampun di jalanan, tanpa pengadilan, basa-basi maupun peringatan. Bertato bisa jadi dor–mati! Kesimpulan mudahnya saat itu berarti: kekerasan dilawan dengan kekerasan. Tapi tetap saja masih banyak peristiwa salah sasaran yang terjadi. Salah seorang paman saya pernah bercerita kalau dulu beliau pernah mati-matian menghapus tatonya karena takut menjadi korban salah sasaran Petrus.
Melihat apa yang terjadi terhadap mereka yang terpinggirkan itu, bisa dikatakan betapa seriusnya penguasa masa itu dalam menjalankan upaya shock therapy terhadap gerombolan Kapak Merah dan kawan-kawan sejenisnya. Sayangnya para tikus lihai dalam bangunan pemerintah yang diam-diam menggerogoti pondasi keuangan negara dibiarkan berpesta pora. Toh para tikus sudi membagi hasil curiannya dengan kucing-kucing yang seharusnya memburu mereka.
Iwan Fals ~ Sugali (Album Sugali, 1984)
Sua sua sua suara berita
Tertulis dalam koran
Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui
Jadi buronan polisiDar der dor suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan
Semakin lupa daratanLihat sugali menari
Di lokasi WTS kelas teri
Asik lembur sampai pagi
Usai garong hambur uang peduli setanDi di du Di du da di du
Di di du di du du
Di di du Di du da di du
Di du da di du di da di du di da duRamai gunjing tentang dirimu
Yang tak juga hinggap rasa jemu
Suram hari depanmuRasa was was mata beringas
Menunggu datang peluru yang panas
Di waktu hari naasOh bisik jangkrik ditengah malam
Tenggelam dalam suara letusan
Kata berita di mana mana
Tentang Sugali tak tenang lagi dan lari sembunyiTar ter tor suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan
Sugali makin keranjinganLihat sugali menari
Di lokasi WTS kelas teri
Asik joget sampai lecet
Genit gelitik cewek binal paling busyetDi di du Di du da di du
Di di du di du du
Di di du Di du da di du
Di du da di du di da di du di da du
Apakah kita hanya bisa menunggu ketika para aparat bawahan penguasa kita mengejar para tikus pencuri uang rakyat seperti bagaimana dulu gencarnya Sugali-Sugali lainnya dibrondong senapan Petrus? Contohlah keseriusan dan terapi goncangannya, tapi bukan tanpa pengadilan, tentunya. Seperti Sugali, keseriusan seperti dulu ketika memburu Sugali.
“Yah, menuju 2009 ini kita lihat saja siapa lagi yang bakal diberi modal oleh orang seperti Ical. Rasa-rasanya para penyidik dari Rasuna Said itu bakal tetap kesulitan,” celetuk lelaki paruh baya di samping saya sembari menyeruput kopi pahitnya.
* foto Leksa hasil jepretan Antobilang, Leksa walau seram tapi bukan preman lho.
(4 unread)
