Saya baru menyadari saat itu adalah tanggal 17 Agustus ketika saya turun dari kereta api Lodaya di stasiun Tugu Yogyakarta. “Dasar pemuda zaman sekarang, mana rasa nasionalismu, nak,” mungkin begitu tegur engkong saya jika beliau membaca kalimat pembuka tulisan ini.

Mengingat kemerdekaan dan negeri tercinta ini, mendadak saya teringat tentang seberkas tulisan saya di masa silam mengenai eksistensi. Kira-kira begini cuplikan kalimat-kalimatnya.
Jalan yang panjang dan berliku… Ketika kata-kata orang lain menyayat ganas perasaanmu, dan identitas berada di ambang-ambang, itu memang jalan yang benar-benar panjang untuk membuat orang mengerti bagaimana perasaanmu tentang hidup di suatu tempat dimana kebanyakan dari mereka menganggap bahwa dirimu bukan bagian dari mereka. Dibiarkan atau tidak, jalan untuk mengeksiskan diri ada pada dirimu. Ada banyak rasa sakit yang tak terdengar. Akhirnya, bunyi dan keheningan pun tak bisa dibedakan.
Ya, ketika cintamu terhadap negerimu lebih dalam daripada mereka.
…dalam raungan sebuah eksistensi yang tergesa-gesa.
Cuma berupa curahan hati cengeng dari anak kecil yang berupaya mencari jati dirinya, berusaha mempertanyakan eksistensinya di saat orang-orang menilai dirinya bukan bagian dari mereka. Eksiskah anak itu sekarang? Entah, jawaban itu disimpan dalam-dalam di lubuk hatinya. Tak usahlah dipertanyakan lagi mengenai eksistensinya di negeri ini, karena ia kini mungkin berkiblat pada pepatah kuno, dadi luhur iku ora gampang, sebab wong luhur iku wong sing asor. Menjadi eksis toh tidak seperti memotret diri sendiri lewat cermin.
Menyadari bahwa negeri ini sangat-sangat kaya akan keberagaman, yang menghantarkan pada sebuah persatuan yang berujung pada proklamasi kemerdekaan 63 tahun silam, membuat saya hanya tersenyum miris ketika masih saja melihat pengkotak-kotakan di masyarakat negeri ini. Bukan salah siapa-siapa, entah karena faktor sejarah atau sosial-budaya. Saya sudah tidak peduli cap eksis atau tidak, hati saya sudah tidak terkoyak-koyak lagi seperti dulu. Semuanya saya awali dari diri saya sendiri, yang dengan penuh ketulusan mencintai Indonesia. Momen saya berteriak merdeka dan bangga menjadi Orang Indonesia adalah setiap saat, tak hanya pada hari ini, 17 Agustus. Tersenyum dan selalu berbanga lah untuk negeri ini, tak hanya ketika kebudayaan yang kita punya direbut negeri lain, tak hanya ketika olahragawan kita menggondol kemenangan dari sebuah perhelatan dunia. Misuh-misuh mengutuk yang buruk tanpa mencoba berusaha apakah bukti dari cinta?
Lalu ada seorang teman yang sedikit iseng bertanya, apa saja yang dilakukan di malam 17-an tahun ini. Ada yang bekerja, hingga ada yang cuma tidur–yang kadang mengaku lajang walau punya anak istri di kampung. Tapi terkaget-kaget juga saya mendapati ada juga yang khusyuk berdoa karena malam itu katanya bertepatan dengan nisfu sya’ban. Puji tuhan, negeri ini memang membutuhkan doa, namun juga usaha yang riil dari segenap momongan yang terikat dengannya, tak peduli dianggap orang lain eksis atau tidak.
Meskipun begitu, ada juga orang aneh yang menghabiskan malam pitulasan bersama kekasihnya–bahkan tak rela melepas satu sama lain tatkala salam perpisahan mereka terucap di penghujung dua belas jam romantika itu. Duh, Gusti Allah.
(8 unread)


