Kenapa gundah, nona? Toh kurasa engkau pasti bisa. Ya sanggup untuk menaklukkan gulita agar fajar merekah di ufuk timur nantinya. Engkau memang peduli pada suara sesama, namun sifatmu yang punya penilaian sendiri itulah yang pasti membuatmu bisa melewati kepuspasan itu.

Sendika dhawuh, sinuwun. Hamba akan meluruskan apa yang ingin hamba sampaikan.
“Ingatkah kalau kala itu kukatakan waktu memang tak bersahabat saat aku ada di sisimu? Tapi kurasa engkau tahu betapa keras kepalanya diriku, toh waktu akan melunak juga.”
Dan selamat untuk malam itu. Selamat untuk keyakinan dan keberanianmu. Terima kasih untuk semua yang telah terjadi sebelum ini. Dan hei, jangan malu-malu seperti itu! Kadang tidak hanya lelaki yang cukup diam mendengarkan perempuan berkeluh kesah. Kini tiada lagi puspas. Kita telah…
…resmi jadian ya?
Ternyata memang ada perempuan yang seleranya aneh. Tapi itu bukan engkau kok, Lensa.
(4 unread)
