2286 items (1581 unread) in 65 feeds
(11 unread)


Kekuatan kepentingan golongan sangat dominan dalam dunia politik Indonesia, begitu yang saya tangkap sampai saat ini menjelang turunnya pemerintahan SBY-JK. Ini bukan masalah politik yang sehat lagi cerdas. Tetapi memang tarik ulur dalam kebijakan pemerintah terlihat berjalan plin plan, tentu karena kurang tegasnya SBY memanfaatkan hak eksekutif lembaganya dalam kebijakan sehingga membuka ruang politikus “cerdas” untuk menjejalkan isu kepentingan golongan mereka yang cadas.
SBY memang terkesan sangat menjaga stabilitas politik di dalam pemerintahannya. Apakah salah jika menimbang stabilitas politik nasional dalam kebijakan pemerintah? Jelas itu penting. Tetapi bagaimana mengemasnya sehingga memiliki keadilan dari top lovel partai hingga ke level masyarakat kelas bawah? Di sanalah seninya seorang pemimpin yang cerdas. Bukan bermaksud mengatakan SBY-JK tidak cerdas. Tetapi ketegasan memang menjadi PR tersendiri bagi seorang pemimpin dalam resiko negara di era persiapan globalisasi ini .
Misal, isu sederhana seputar BBM bersubsidi yang akan naik harganya. Menyikapi kondisi ini saja, pemerintah sudah pernah mempercepat Perubahan APBN yang harusnya berjalan Juli 2008 nanti menjadi Februari 2008 lalu. Kini ada usul untuk kembali merevisi APBN mengingat harga minyak dunia yang terus melambung tinggi hingga titik USD125.
Jika berbicara penenetuan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut, tentunya pemerintah berkolaborasi dengan banyak ahli, pengusaha multinasional, dan pastinya tidak terlepas dari unsur-unsur partai politik. Seingat saya memang itu isinya partai-partai politik. Lalu apa sinerginya dengan kepentingan golongan? Toh partai politik memang sudah menjadi bagian absolut dari sebuah sistem demokrasi.
Begini alur berpikir yang sangat sederhana dari kepala saya. Dalam perubahan APBN 2008 sudah ditetapkan subsidi BBM sebesar Rp. 126,8 triliun. Sementara itu penghasilan Migas termasuk Minyak Bumi dan Gas Bumi ditetapkan sebesar Rp. 182,9 triliun. Silahkan berhitung sendiri, apakah itu keuntungan atau malah kerugian? Dengan membagi beban anggaran post to post saja, subsidi masih tertutupi, bahkan surplus.
Dengan kondisi demikian, logisnya pemerintah masih mampu mensubsidisilangkan profit dari PMB dan PPH penjualan Minyak Bumi terhadap ketidakmampuan masyarakat akan harga BBM yang terus naik. Lalu kenapa pemerintah lebih memilih untuk pelan-pelan menyesuaikan harga BBM lokal dengan harga pasar dunia?
Jawaban dari pandangan saya ya jelas karena efek dari kepentingan pelaku ekonomi pasar bebas yang mencari keuntungan sepihak. Konglomerasi multinasional dan perusahaan asing sangat tidak bersahabat dengan apa yang dinamakan subsidi. Segala bentuk campur tangan pemerintah terhadap harga pasar, adalah musuh bagi pelaku ekonomi pasar. Contoh saja, pelaku distributor BBM eceran dari negeri tetangga jelas enggan berinvestasi di Indonesia, yang kini cuma baru berani beroperasi di Jakarta dan Jawa Barat. Contoh lain lagi, produsen Minyak dan Gas Bumi asing sulit menerima kondisi dimana mereka tidak bisa memperoleh keuntungan maksimal dalam penjualan, karena masih terikat kompensasi mensuplai kebutuhan lokal dengan harga bersubsidi tentunya.
Keterkaitan dalam usaha-usaha neokolonialisme berbalut globalisasi ini terlihat dari 3 kalinya ada judical review terhadap 3 Undang-undang negara perihal kebijakan SDA yaitu UU No.20 /2003 tentang Ketenagalistrikan Nomor 001-021-022/PUU-I/2003, UU No.22 /2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Nomor 002/PUU-I/2003, dan Putusan Uji materi UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Nomor 058-059-060-063/PUU-II/2004. Keputusan MK ini berdasarkan pertimbangan bahwa segala sesuatu sumber kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak, harus dikuasai oleh negara. Khusus untuk UU No.22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, MK membatalkan poin-poin yang memberi akses lebih kepada perusahaan asing dalam penguasaan sumber daya migas. Dalam putusan tersebut MK berketetapan bahwa alasan yang dimaksud dengan “hak menguasai negara” mencakup lima pengertian. Negara merumuskan kebijakan (beleid), termasuk melakukan pengaturan (regelen daad), melakukan pengurusan (bestuurdaad), mengelakukan pengelolaan (beheer daad) dan melakukan pengawasan (toezicht houden daad) untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Namun, segala bentuk kegiatan politik, hukum dan ekonomi tentunya masih berada dalam satu lingkaran yang sama. Dan pelaku-pelaku neokolonialisme global ini tidak serta merta berhenti. Masih ada jalur-jalur yang bisa terus dirong-rong. Sialnya celah paling bebas adalah lewat jalur politik. Karena politikus negeri ini mudah untuk bermanuver sesuai kebutuhan dan kepentingan golongannya, jika boleh saya berkata kasar dalam perumpamaan pendek adalah “busuk”.
Itu hanya pertimbangan sederhana saya yang kurang ilmu dalam melihat kondisi ini. Mungkin bapak playboy muda satu ini masih bisa memberikan cerita lebih dekat soal regulasi BBM negara kita, karena memang lahan buruhnya di area tersebut.
Tetapi perlu diingat bahwa yang saya sampaikan diatas terlepas dari pertimbangan-pertimbangan lainnya, seperti perhitungan ekonomis dalam hubungan multilateral negara-negara dunia, tanpa pertimbangan unsur politik internasional dan konsekuensi kerja sama ekonomi, dan terutama soal stabilitas keamanan dalam hubungan antar negara.
Untuk alasan pertimbangan di atas, saya sendiri hanya bisa menjawab, “kenapa kita harus berpikir siap bersaing dengan negara-negara dunia? Toh, negara ini dicipta untuk mensejahterakan warganya. Bukan untuk bersaing mencari nama di mata dunia”.
Alasan lain yang patut dilihat adalah kemampuan negara ini dalam manajemen pengelolaan Migas yang carut marut, rawan oleh korupsi dan budaya rente hingga ke level produksi.
Ribet ya? Sebenarnya segala kisruh-kisruh ini bermula dari kekhawatiran defisitnya APBN. Dan buat saya jawaban permasalahan juga bisa berkembang hingga menilik kembali soal penghematan belanja negara terutama untuk pos-pos yang berurusan dengan penyelenggaraan negara. Mungkin saran saya bisa dicoba, semua pejabat bersepeda kalau menuju gedung-gedung ber-AC mereka. Bosnya saja naik sepeda, saya yakin bawahannya ndak sok-sok-an ngegaya dengan mobil ber-cc besar. Apalagi sampai mengemis dibelikan mobil dinas baru ke dalam anggaran .
Pemilu? sudahlah. Lupakan saja pemilu hura-hura dengan goyangan panas artis dangdut. Ndak perlu iring-iringan kendaraan yang menguras BBM dan bikin produsen kendaraan bermotor menaikkan produksi motornya. Lagian setelah terpilih, semua pemimpin itu tidak akan ingat dengan muka-muka anda yang ditemui pas kampanye. Sibuk ngurusi modalnya yang tekor buat kampanye. Jadi mending tidak usah ada kampanye sekalian saja.
Ohya, kelupaan. Kita masih punya hutang bertumpuk-tumpuk. Dan ini menjadi salah satu agenda pemerintah untuk membayar dengan keuntungan dari penjualan minyak dan gas bumi. Utang memang harus dibayar, seperti juga utang saya untuk pulang kampung lebaran nanti setelah 2 tahun tidak soan ke pusara ayahanda. Sayangnya Juni harga BBM sudah naik, dan pasti harga tiket pesawat juga naik.
Hmm.. mungkin pilihan mengulang masa-masa dulu naik kapal laut bisa jadi alternatif. Hitung-hitung mencoba mengendarai ombak-ombak global warming yang makin liar akibat tingginya angka karbon dari pembakaran BBM.
UPDATE :
Menjawab pertanyaan Yudhis di komentar, saya rasa perlu memperjelas data yang saya punya. Dalam APBN 2008, harga minyak mentah dipatok sebesar 60 dolar Amerika per barel. Dengan asumsi seperti itu, beban subsidi BBM berjumlah Rp 45,8 triliun, sedangkan Penerimaan Minyak Bumi (PMB) berjumlah Rp 84,3 triliun. Selanjutnya, dalam APBN-P 2008, harga minyak mentah dipatok sebesar 95 dolar Amerika per barel. Dengan asumsi baru ini, beban subsidi BBM meningkat menjadi Rp 126,8 triliun, sedangkan PMB meningkat menjadi Rp 149,1 triliun (diluar Gas Bumi).
Tentunya meningkatnya harga minyak dunia, juga mendukung penerimaan BBM yang berimbang. Itu secara sederhana. Tetapi tentunya ada mekanisasi harga tersendiri untuk mempertimbangkan balancing yang baik dalam APBN kita.
Perhitungan diatas berdasar pada kemampuan produksi minyak negara ini. Misal dalam APBN 2008 tersebut, angka PMB diperoleh dengan target lifting 1.034 bph. Sementara kenyataannya target tidak tercapai. Dalam 3 bulan terakhir saja lifting minyak berada dikisaran 917 bph dan cenderung menurun. Lalu dalam P-APBN 2008 lalu target yang dikejar adalah 927 bph.
Tambah lagi OPEC sendiri sudah menegaskan, tidak akan menaikkan produksi minyak sampai September 2008. karena produksi minyak dunia masih dalam kondisi aman, mencukupi. Bahkan cukup untuk persediaan selama Olimpiade Beijing dan tidak dalam rentang musim dingin. Harga yang melambung beberapa saat lalu jelas karena ulah spekulan dan akibat pukulan telak pada resesi ekonomi di AS akibat krisis subprime mortgage. Ngutang mulu sih. Ngutangnya make kertas lagi.
Dhis, mungkin masih ingat kata pak Kurtubi ahli kita itu, seandainya saja Indonesia bisa memproduksi minyak pada angka 1,3 jt barel saja, maka balancing dalam pemenuhan BBM lokal dan kekuatan APBN akan terjaga. Loe juga pasti tahu bagaimana hukum alam pemenuhan energi dunia dari minyak seperti cerita teori paradoks. Sejak abad 20, permintaan akan minyak bumi semakin tinggi, tetapi ketersediaan dan penemuan minyak (discoveries) justru menurun. Terkadang ketakutan akan kekurangan suplai masa depan inilah yang membuat ekspektasi pelaku pasar melakukan future trading, yaitu berani membeli harga ekspektasi masa depan dengan ketersediaan masa sekarang. Permainan yang indah dari spekulan neolib.
Dari sekian gelintir temen sayah, ada satu pria bernama Tuan SerasaBeken.
Dulu, dia adalah anak gaul. Berotak cerdas. Berpribadi menyenangkan. Setiap tempat nongkrong di Jogja, ndak luput dari peredarannya. Setiap perhelatan acara akbar, dimana musik-musik dari segala band diusung, dia nampak. Temen-temennya segudang. Tiap pergi kemanapun dia ndak pernah minus suplay sapaan dan jabat tangan persahabatan. Berasa artis bener. Artis lokal. Ndak perlu maen pilem. Apalagi bikin pilem sendiri, trus diedarin dengan judul Kosku Lautan Asmara.
Kuliahnya terlunta-lunta, karena jadwal gaul yang ndak kira-kira. Untung dia punya kerjaan. Lumayan menghidupi gaya hidup yang terlanjur tinggi gara-gara harus ngopi sana-sini tiap malem. Wisata kuliner yang berganti tempat tiap minggu.
Dugem? Ndak pernah dia bayar. Tuan SerasaBeken selalu masuk dalam guestlist. Tinggal lenggang kangkung ajah dia masuk, menyapa GRO yang kinyis-kinyis ber-rok pendek bahkan kadang ndak pake bra. Mabok? Apalagi ituh. Temen-temennya yang kaya raya, yang berasa bersin aja bisa keluar duit selalu ada buwat mengaliri tenggorokannya. Kalo kata lirik lagu ShaggyDog sih, air kedamaian begituh.
Dua Tiga tahun berlalu. Dan dia masih bergaya hidup serupa. Tapi badan mulai keropos. Teman yang dulu berserakan dmana-mana mulai menghilang dari kota habitatnya berada. Mencari sesuap dua suap berlian di ibukota atau malah menyeberangi pulau dan melintasi negara.
Badannya mulai ndak mampu mengikuti ritme isi kepala yang masih ingin bergerak. Perut mulai membuncit gara-gara menampung air kedamaian tiap malam. Kerjaan ndak ada peningkatan gara-gara dia lakukan hanya untuk menyedot uang tiap bulannya.
Dia mulai bosan. Tapi ndak bisa lepas.
Dia mulai jenuh. Tapi ndak tau apa yang harus dilakukan.
Dia mulai iri. Beberapa temannya yang sukses merubah pakaian gaul celana skinny ketat di bawah menjadi pakaian kantor perlente abis.
Dia mulai gerah. Beberapa temannya (yang dulunya dia anggap remeh) bertemu dengannya mengabarkan akan menempuh gelar Doktor di luar negeri. Dan beberapa lainnya datang dengan sejumlah kartu kredit yang tebalnya memenuhi isi dompet mereka.
Dia mulai ketakutan. Karena sekolompok temannya sepertinya akan berakhir mengecewakan menjadi pecundang ndak tertolong di sisa hidupnya. Dia berpikir, jangan-jangan dia juga salah satu bagian kelompok ini.
Tapi, otak si Tuan SerasaBeken seperti tumpul. Kerjaannya tiap hari hanya cek daftar nama di buku alamat hape dia. Mencari siapa saja yang bisa diajak sekedar ngopi. Sekedar berkumpul seperti dulu. Atau malah cuma buang waktu buwat curhat ndak mutu tentang memori masa lalu.
Kuliahnya semakin ndak jelas. Dosennya ndak peduli padanya. Sejumlah teman berteriak-teriak prihatin tiap hari. Dan orangtua pun tampak menyerah menghadapinya. Dia merasa terpuruk. Ndak tau mau kemana. Ndak tau mau gimana. Ndak tau harus mencari kemana sisa-sisa cerdasnya yang dulu pernah dia banggakan.
Tuan SerasaBeken ingin berubah. Ingin meraih citanya. Ingin meraih hidupnya. Perihal cinta? Ah, dia tak peduli. Terlalu banyak wanita datang dan pergi katanya. Dia trauma. Dia pesimis. Dan dia sinis. Dia ndak mau sakit lagi. Ealah, ternyata gaul-gaul, sensi juga ini cowok. Dia yakin Tuhan pasti mengirim satu wanita yang tepat padanya suatu hari. (Hah??!! Masih percaya Tuhan tho, Tuan…??)
Yang pertama dia lakukan, adalah mengumpulkan sisa kenekatannya. Muka badaknya. Mencari sisi tak punya malu dalam dirinya. Buat apa jeh?
Buat balik ke kampus. Oh, percayalah sodara-sodara. Nginjak kaki ke kampus di waktu orang-orang yang kita kenal sudah menghilang ituh perjuangan berat. Sayah tau perasaan si Tuan inih.
Menghubungi dosen yang cuma melirik sebelah mata melihat mahasiswa super tua, ndak ada petir ndak ada gempa kok tiba-tiba muncul di hadapannya. Meremehkan niatan si Tuan untuk lulus dengan segera dari kampus. Tapi dia berkeras hati. Pokoknya yang penting dia pengen lulus. Yang penting nekat. Yang lulus tapi nekat. Hidup nekat..!!!!
Dia berkeras hati untuk ndak tergoda berbagai undangan sana-sini yang masih terus mengalir, gara-gara dia terlanjur punya cap sebagai THE TOP TEN GAULWAN IN THE WORLD. World mana? Ya pokoknya dunianya dia. Yang sebenernya cuma seupil ituh.
Pelan-pelan mulai membaca artikel-artikel motivasi yang beredar. Sekedar memacu dirinya. Dulu? Ahh, apa ituh tulisan motivasi. Bullshit.
Jangan salah. Koleksi bacaannya cukup mencengangkan untuk socialite seperti si Tuan inih. Dari tema Marxisme sampai Di Bawah Bendera Revolusi ada di rak bukunya. Dari Trend Bisnis MegaCosmopolitan sampai Komunikasi Massa dia baca. Tapi ya itu. Si Tuan mengaku otaknya sudah menumpul.
Lalu si Tuan bingung. Abis lulus, mau kemana? Mau ngapain? Kerja apa? Dia merasa ndak punya modal. Kuliah lulus pun telat. Indeks prestasi pun syukur-syukur masih di atas 2. Fresh graduate? Halah, fresh gendengnya kalo dia.
Dan ketika sayah duduk di sofa empuk bersebelahan dengannya, menikmati seseruput kopi panas, sayah termangu lama. Dan pelan-pelan, cuma bisa bilang :
“Well, punya hidup ajah, ituh udah modal, Tuan..”
Tiba-tiba, sayah rindu SiMbah Ed..
Betewe, ituh bukan kata-kata sayah. Ituh sayah dapet pencerahan abis baca tulisan mbak Jennie S. Bev disini.
Siang ini aku dan Mas Adi (mewakili Loenpia.net) akan diwawancara di acara Indonesia Siesta, yang dipandu Shahnaz Haque. Jadi siarannya semacam teleconference gitu, hostnya di Jakarta, narasumbernya kali ini di Semarang di Radio Female. Jam 13.00 sampai 14.00.
Acara ini sendiri selain live di Female juga di beberapa radio lain di Jawa dan Sumatera. Di Internet ada streaming-nya, tapi kok dari tadi isinya lagu2 doank ya, gak ada siaran??
(update: emang gak ada streaming live ternyata!).
Dari rundown draftnya sih selain ttg Loenpia jg ttg blogger secara umum kok. Kalo ada yg dengerin dan bisa ngrekam, tolong direkamin yah..
*Ini postingan ketularan Anto, posting dulu sebelum acara jalan, tinggal lanjutin nanti.
Jadi komennya aku tutup dulu ya..
Kalo mo nyampein pesen2, ya langsung aja ikutin acaranya dan SMS (nanti ada nomornya).
Lanjutan:
Jadi begitulah acaranya. Suara saya masih tetep lemah lembut dan jelek, jadinya sampe skrg gak pernah mau ikut karaokean. ![]()
Acaranya tadi dari jam 13.00-13.30. Bisa dengerin sendiri file audionya di akhir postingan ini. ![]()

Btw, ternyata Mbak Shahnaz tuh gak tau kalo dia punya blog! Ini pembicaraan pas lagu2 lagi diputer: (more…)
addthis_url = 'http%3A%2F%2Fblog.faniez.net%2F2008%2F05%2F13%2Fat-indonesia-siesta%2F'; addthis_title = 'At+Indonesia+Siesta'; addthis_pub = '';
semalem, saya nonton Speed Racer. tadinya sih bingung berat. antara nonton Iron Man (untuk yang kedua kalinya. hehehehe KEREN!
), Forbidden Kingdom, atau Speed Racer.
akhirnya, diputuskan nonton film ini.
Pertama-tama, saya sarankan utnuk menonton film ini bersama keluarga. walaupun badan sensor bilangnya film ini bergenre Remaja, ga ada salahnya kok anak-anak nonton asal masih didampingi orang tua.
sinopsisnya bisa diliat di sana. males ah, kalo cerita banyak-banyak ntar ga seru lagi 
jadi, overall, film ini isinya campur aduk!
mulai dari ketawa-ketiwi karna ulah adeknya Speed, Spritle bersama si monyet geblek piarannya, Chim, balapan yang seru dan bener-bener bikin saya ga berkedip (halah), berantem-beranteman ala Kungfu (sumpah ini bagian paling kocak!), konflik antar keluarga, saing-saingan kekuasaan dan kekayaan, pentingnya kerja tim, dan tentunya bertaburan COWOK-COWOK CAKEP! (termasuk si Rain itu loooohhh) 
ada cinta-cintaan juga, walaupun ga banyak dan yang bikin lucu, tiap ada adegan mau kissing antara Speed sama Trixie, pasti digagalkan oleh Spritle dan Chim 
di tambah lagi, film ini juga ngasih pesan moral, yang namanya curang ga pernah guna!
paling ga, dari sini, saya bisa tau, kalo yang namanya arena balapan bisa curang banget, karna mau menang aja pake direncanakan dan ditentukan. sotoy.
secara grafis sih mantap, dan mengingatkan saya sama film Spy Kids, atau Charlie & The Chocolate Factory cuman yang ini lebih canggih. full warna! gila, NEON BANGET! edan, bikin saya kliyeng-kliyeng waktu nonton adegan-adegan balapnya
balapannya oke, walaupun masih kalah sama Tokyo Drift. yah gimana yah, namanya juga film anak-anak 
hihihihihihi, yang lucu, habis nonton film ini, saya terkontaminasi. jadinya pulang nonton, bawa motornya udah berasa kayak pembalap! gyahahahahahahahaha 
gambar dicolong dari sana tanpa ijin yang punya.
postingan ini terinspirasi oleh perbincanganku dengan seorang teman, katanya dia lagi di plototin si bosnya karena dia sendiri sedang chating dan browsing. memang dasar si bos ga mau liat pegawainya seneng dikit, kerja kan butuh refreshing dikit setelah puyeng seharian kerja. memang ada beberapa kantor yang melarang para pegawainya untuk chating dan browsing demi penghematan dan agar tidak mengganggu konsentrasi pada saat bekerja. dan untuk larangan itu dikantorku juga salah satu penganut aturan itu …..
tapi ada yang bilang kalo aturan itu dibuat untuk dilanggar
….
Kepada yang mulia abdi negara dan atau petinggi perusahaan, satu hal yang menjadi pertanyaan kami untuk dipikirkan sebelum tidur. Mengapa ketika melihat film Ayat-ayat cinta sampai meneteskan air mata sedangkan tidak ketika melihat rakyat dan atau bawahan menderita?

Ketika kata tak lagi bermakna, mengapa tidak mencoba diam saja. Paling tidak untuk sejenak menahan untaian janji palsu (menjelang pemilu).
PS: Terkhusus untuk Jawa Tengah, Indonesia dan saya sendiri