Sertifikat adalah hal yang biasa kita dapat setelah mengikuti sebuah seminar, apalagi jika seminar tersebut berbayar. Masalah mengerti materi yang disampaikan atau tidak, tetap saja kita akan mendapat nama kita tertera pada secarik kertas yang disebut sertifikat tersebut.
Alkisah tersebutlah empat orang pemuda yang diundang seorang teman, bloger serius yang menjadi pembicara pada sebuah seminar. Sial benar nasib mereka, sudah harus melewati birokrasi yang berbelit-belit di meja resepsionis untuk mendapatkan free pass yang dijanjikan oleh sang teman, ditambah lagi harus menjadi model bloger di slideshow seminar tersebut.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, daftar absen dibagikan juga kepada mereka berempat yang jelas-jelas cuma undangan yang tidak membayar. Akhir acara mungkin mereka menyesal mengapa tidak menuliskan nama asli yang lengkap pada daftar absen tersebut. Alhasil sertifikat atas nama Prasetyo, Ekowanz, Goenawan Lee, dan Anto keluar. Seperti contoh yang tertera di bawah ini.

Tapi paling tidak itu tidak begitu memalukan. Bayangkan jika yang keluar adalah nama samaran yang lebih parah lagi semisal Funkshit, Ekowanz, Rozenesia, dan Antobilang. Mau dikemanakan muka bloger serius yang sudah susah-susah mengundang mereka? Walaupun begitu, nama Ekowanz seperti yang dilampirkan dalam contoh scan sertifikat saja sudah cukup memalukan, kok.
Pelajaran yang saya dapat hari itu adalah, bijaklah dalam menggunakan nama samaran dalam acara formal seperti ini. Semuanya kembali kepada kita, di mana kita harus menempatkan anonimitas dengan sewajarnya.
…tapi, tulisan ini sekadar buat lucu-lucuan saja. Meskipun benar-benar terjadi.
RelatedPosts
- EffendiSeseorang memang perlu sebuah nama untuk memperkenalkan diri dengan orang lain, terlepas apakah ia memakai nama lengkap atau nama panggilan. Bagi saya, nama panggilan sudah cukup untuk memperkenalkan ...
