“Saya sendiri yakin sepenuhnya 1000 wakil rakyat yang bakal hilir mudik di gedung UFO itu adalah orang-orang yang sangat capable: membaca buku-buku berat, mengenal pemikiran para negarawan, ahli sejarah, dan ahli filsafat tentang negara. Yang paling penting: memahami penderitaan rakyat, meski berangkali memang belum pernah ke Natuna, Talaud dan Sangihe. Saya percaya sepenuh-penuhnya kepada mereka. Masalahnya, anda percaya atau tidak kepada saya? Hahahaha…”
Demikian kutipan dari salah satu artikel Seno (haha, Seno lagi..) di Majalah Jakarta Jakarta berjudul “Wakil Rakyat” (2 Oktober 1997). Isinya cuma sekedar imajinasi Seno tentang percakapannya dengan seorang wakil rakyat yang sedang ngangkring di warung bajigur pinggir TIM. Seorang Seno yang dikenal sebagai jurnalis dan sastrawan mbeling di masa orde baru, bisa memiliki kepercayaan sebesar itu terhadap wakil rakyat. Sikap yang tidak biasa di masa itu. Entah kalau di masa kini.
Mungkin anda ingat trilogi bukunya yang dibredel di zaman itu. Kumpulan Cerpen “Saksi Mata” (Eyewitness - Dinny O’’’Hearn Prize for Literary), Roman “Jazz, Parfum dan Insiden”, dan kumpulan esai “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (KJDSHB)”. Trilogi karya ini lebih banyak mengupas kritik dari sudut pandang Seno terhadap penguasa Orba mengenai ketidakberesan dalam kasus Dili dan otoriter koorporasi para elit di Jakarta. Kritik-kritik pedas berbau sastra bebas itu sudah jarang terdengar, mungkin Seno sangat sibuk dengan kelas mengajarnya di IKJ saat-saat ini.
Saya bukan mau bicara tentang Seno disini. Cuma entah mengapa setiap saya melihat dagelan budaya-politik yang terjadi sekarang ini, selalu terbayang cerita-cerita yang pernah saya baca dari karyanya. Padahal konsep kritik budaya-politik-nya itu terjadi sebelum masa orde baru runtuh. Saya jadi terpikir bahwa konsep budaya - sebagai sesuatu yang berulang, repetitif sampai ada keseimbangan moral dan nilai baru untuk merubahnya - itu terbukti.
Misal soal stabilitas kemananan nasional. Di masa dulu saya masih bercelana biru pendek, ketakutan akan penguasa itu sangat terasa sekali. Saya masih teringat ketika masih di Aceh sana, segala sesuatu yang bersifat ekstrim dari sudut pandang penguasa dan militer adalah tabu. Hawa ketakutan itu luar biasa terasa, terutama oleh saudara-saudara saya di kampung yang rajin disambangi pakaian ijo-ijo. Dulu saya cuma meng-amini sebagai jatah hidup saya terlahir di daerah konflik, atau lebih luas lagi memang beginilah aturan hidup sejatinya berlaku di pelosok negeri dagelan ini. Kemudian SMU saya berpindah badan ke Jawa, kota segala mimpi kemakmuran - bagi perantauan Sumatra. Bukan cuma badan, karena otak dan hati saya juga berpindah. Bersyukur terlahir dengan jalan hidup begini karena saya bisa melihat ternyata kenyamanan dan kemanan sangat tergantung situasi dan kondisi penguasa.
Itu dulu. Dulu sekali. Saya bahkan hampir lupa kalau dulu saya pernah harus mendadak tiarap karena ada konflik senjata di tengah kota. Atau kisah-kisah lucu ketika saya pertama kali bertatap muka dengan warga Jawa, melihat saya dengan rasa penasaran, pertanyaan anekdot yang menjurus seolah-olah saya adalah mata-mata residivis bersenjata atau pengedar ganja. Hahahaha…
Dan Seno membahasakan dagelan stabilitas nasional itu dengan lugas dalam karya-karyanya. Membawa kita pada pemahaman yang mungkin berkesimpulan kalau dia hanya ganjelan demokrasi versi orde baru. Sama halnya dengan suara-suara sumbang seperti Arief Budiman atau Goenawan Muhammad. Bahkan kelas genjrengan gitar fals khas bang Iwan saja adalah musuh penguasa di masa itu.
Sekali lagi itu dulu…Dan saya bersyukur sekarang menghirup udara reformasi. Bebas belajar, bebas membaca buku apa saja, bebas mendengar musik apa saja, bebas menonton film apa saja, dan alhasil saya bisa kritik sana sini yang saya rasa tidak benar dengan otak dan hati saya. Kajian saya, pemahaman saya. Dan medianya ya BLOG ini, atau artikel-artikel yang saya tulis dan sempat terpajang di sana-sini. Soal tanggung jawab? Mari kita duduk bersama bicara apa yang benar bagi anda dan salah bagi saya. Dan tanggung jawab menjadi kulminasi ekspresi kesepakatan. Istilah dalam pancasila adalah musyawarah.
Sayangnya, kemudian saya kembali tersadar bahwa budaya dan politik adalah repetitif dan selalu mencari keseimbangan. Dan atas nama keseimbangan yang ukurannya evolusi, bukan revolusi. 10 tahun reformasi terlalu pendek dibandingkan evolusi menunggu dinosaurus punah.
Sekarang, saat ini, bermusik pedas dan cadas adalah gangguan stabilitas yang diplintir menjadi gangguan kehormatan nama baik penguasa. Menonton film digaungkan sebagai konflik SARA, yang sebenarnya malah membuktikan impotensi konsep berbudaya dan berpolitik penguasa. Membaca buku harus pilih-pilih jika tidak mau dianggap pendukung pembelokkan sejarah, padahal justru itu membuat sejarah menjadi sempit dalam persepsi penguasa.
Mengeluh? mengejan? berteriak? Ya wajar!.. Karena bekal otak dan hati sebagai manusia menuntut demikian. Seperti melihat Seno yang dulu juga begitu. Tulisannya dibungkam, dia coba berteriak lewat media sastra. Musik kritis bang Iwan diberangus, dia berganti dalam lirik cinta dan duka menggambarkan budaya yang pedih. Pemikir dan budayawan ditendang keluar negeri, tetapi mereka malah menulis lebih banyak lagi. Mereka cukup pintar di masanya.
Jika para saudagar media bicara, bahwa mereka adalah reformis pers yang menyuarakan suara rakyat untuk perubahan, berbudaya dan segala tetek bengeknya, kok saya tidak percaya. Saya sekedar membaca reportase kejadian yang mereka liput. Tetapi untuk analisa? Bagi saya itu hanya sekedar framing jurnalisme mereka dalam upaya menyesuaikan kejaran oplah dan titipan pesan “si Bos” saja.
Saya jadi bermimpi seandainya nanti ada satu babak otoriter baru muncul. Yang akhirnya memaksa saya mengisi titik-titik kosong ini :
Ketika Blog Dibungkam, …. Harus Bicara.
NB :
Tribute to freedom speech (santai mbak, santai.. kita cuma berkeluh kesah seperti Seno dan sejawat-jawatnya yang tetap menulis dan berjuang. Toh mereka masih tetap eksis sampai sekarang). Nih, saya kirimkan satu lagu andalan saya buat mbak, sebagai obat gundah gulana. “Juwita Malam - Blues version”, satu album dengan “Gosip Jalanan” itu, Album Slank “PLUR” - Peace, Love, Unity, Respect (2004).
Engkau gemilang malam cemerlang
bagaikan bintang timur sedang mengembang
tak jemu2 … mata memandang
aku namakan dikau juwita malam
sinar matamu menari-nari
masuk menembus ke dalam jantung kalbu
aku terpikat masuk perangkap
apa daya asmara sudah melekat
Juwita malam … siapakah gerangan tuan
Juwita malam … dari bulankah tuan
Kereta kita segera tiba
di jatinegara kita kan berpisah
berilah nama alamat serta
esok lusa boleh kita jumpa pula
Related Posts
- Oh My-Indonesia … Oh My-God
Ngga habis pikir. Masih aja ada yang kejam dengan kondisi Bangsa yang semakin sulit.
Pantaskah situs ini berbudget 17.5 Miliar ?
Ratna Suranti, Kasubdit Promosi Elektronik Direktorat Sarana Promosi Depbudpar mengatakan dana untuk pengembangan sit...
- Adopsi Nilai KebenaranSeberapa besar kita Cinta Tanah Air Indonesia ? :D
Pertanyaan retorika dan klasik pula. Tetapi jika dilemparkan pertanyaan tersebut, apa yang akan akan saya jawab? Saya Tidak Tahu. Karena muncul kembali sebuah pertanyaan di hati kecil, Apakah benar ada yang namanya I...
- Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme
Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 - 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga...
- Intermezzo Kelulusan
Sebelum melanjutkan cerita part two dari cerita "Menara Gading", pendek saja sebagai pengantar tentang hari kelulusan dan wisuda. Supaya nantinya ga terlalu sensitif buat para penganut skripsi ra rampung-rampung.
Ada sebuah candaan lama saya dan teman-teman dulu : "k...
- Bulan Mei adalah Bulan Penting? Meibi yes,..Meibi No!Entah kenapa gue merasa bulan Mei menjadi bulan yang penting, mendadak terkenal dalam benak gue. Sepertinya bakal ada hal-hal menarik di bulan Mei ini bagi gue. Itu sudah gue rasakan dari pertengahan April lalu.
Mungkin karena bulan Mei adalah bulan akhir dari masa k...