Penjaga sekolah itu kira-kira berumur 40 tahun. Namun ketika berbicara padanya, semua orang berlagak seperti berbicara kepada anak balita. Ini bukan guyonan, bukan juga ejekan. Mungkin memang inilah cara kebanyakan orang berbicara dengan penjaga sekolah ini, juga dengan seluruh murid di sekolah ini. Tuna grahita, atau juga disebut dengan Retardasi Mental/Mental Retardation (MR), adalah suatu keadaan di mana kemampuan intelektual seseorang berada di bawah rata-rata atau berkaitan dengan kerusakan dalam perilaku adaptif dan terlihat selama periode perkembangan. Jadi, penderita MR ini mengalami gangguan perilaku, baik sosial, fisik dan biologis, yang dipengaruhi oleh rendahnya IQ mereka.
Yup, IQ matters. Skor IQ kita berasal dari hasil perhitungan tes intelegensi yang kita kerjakan. Skor yang didapat saat kita mengerjakan tes tersebut disebut Mental Age. Saya belum begitu banyak mempelajari tentang tes -tes ini (so CMIIW), tapi sejauh yang saya tahu, Mental Age adalah ukuran kemampuan kognitif seseorang. Variabel lain di tes ini, yaitu Chronological Age, merupakan umur kronologis seseorang, atau umur secara nyata. Misal, umur seorang anak 10 tahun 3 bulan. Nah, saat skor Mental Age dibandingkan dengan Chronological Age, didapatlah skor IQ. Jika Mental Age dan Chronological Age sebanding, IQ yang didapat yaitu 100. Jika Mental Age lebih tinggi, maka nilai IQ berada di atas 100, dan bila sebaliknya, maka IQ di bawah 100. Rata-rata orang yang bersekolah hingga sekolah tinggi mempunyai IQ 110-130, anak-anak kelas akselerasi, dan juga peserta olimpiade sains biasanya mempunyai IQ di atas 140, sedangkan anak-anak penderita MR mempunyai IQ di bawah 70 bahkan sebagian mempunyai IQ di bawah 20.
Dari situlah didapat kata retardasi mental, karena usia mental anak-anak ini berada jauh di belakang usia kronologis mereka. Beberapa anak yang saya temui di Sekolah Luar Biasa yang saya kunjungi sudah berumur 20 tahun, tapi mereka berbicara seperti anak kecil. Mereka susah mengerti apa yang dikatakan orang lain. “Ya gini ni mbak, hari ini dibilangin, besok lupa lagi,” begitu kata Guru mereka di kelas memasak. Ternyata tak perlu menunggu besok, baru beberapa menit ibu guru memberi contoh cara memotong kubis, murid-muridnya yang dari tadi terlihat memperhatikan ternyata sudah lupa bagaimana cara memotong kubis.
Menghadapi para penderita MR memang diperlukan kesabaran ekstra. Ini dikarenakan memori penderita MR ini memang sangat terbatas, jadi kemampuan belajarnya juga jauh lebih lambat dari orang normal. Hal-hal seperti mengurus diri kadang merupakan hal yang susah bagi penderita MR. Salah seorang anak yang saya observasi berusia 16 tahun dan mengalami kesulitan saat menalikan sepatunya. Hmm, bayangkan bagaimana rasanya jika anda setiap hari harus menghadapi seseorang yang sangat susah mengurus dirinya sendiri. Saya pikir hanya guru-guru yang benar-benar sabar yang bisa mengajar di sekolah ini. Seperti kata dosen saya, “Gaji guru SLB seharusnya lebih besar dari gaji dosen. Bagaimana tidak? Mereka harus mengajar anak-anaknya dengan penuh kesabaran, dan mengawasinya setiap saat. Beda dengan saya, saya tinggal kasih handout dan besok ujian saja.”
Ya, guru-guru SLB ini memang sangat sabar. Saya kagum melihat dua orang guru di kelas menari. Mereka memutarkan video sebuah pertunjukan tari yang sangat sederhana, kemudian mengajak anak-anak untuk menirukan gerakan-gerakan tersebut. Walau gerakan-gerakan anak-anak itu sangat jauh dari gerakan tari yang sesungguhnya, tapi guru-guru mereka sangat sabar dan tetap memotivasi mereka, “Kalau latihan lagi, kamu pasti bisa nari lebih bagus lagi,” begitu kata salah seorang guru pada muridnya yang bahkan sulit untuk menggerakkan badan. Setelah anak-anak selesai menari, guru-guru menyempatkan untuk mengobrol dengan mereka, “Biarpun mereka kesulitan bicara, tapi sebenernya mereka pengin didengarkan. Makanya kadang kami ajak cerita, Mbak.”
Mengobrol bersama anak-anak ini memang susah-susah menyenangkan. Mereka kadang mengalami kesulitan dalam berbicara. Mereka juga selalu menunjukkan tampang polos mereka. Pembicaraan dengan mereka pun tak jarang berujung tawa.
“Nak, rumahmu itu yang di Bantul itu kan?”
“Bukan, Bu! Sekarang rumahku di Pathuk, Bu!”
“Loh, udah pindah ke Pathuk? Bapak ibu sekarang juga pindah ke Pathuk?”
“Engga, Bu!”
“Lha, kamu di Pathuk sama siapa? Sama simbah?”
“Engga…”
“Sama pakde?”
“Engga…”
“Terus, sama siapa?”
“Sama… sama… sama temenku!”
*Si Ibu Guru mengernyitkan dahi* “Sama temenmu? Lah ibumu sekarang di mana?”
“Ibu di rumah, nonton TV.”
Ya, ya, ya… Berkunjung ke SLB ini dan berbaur dengan mereka yang tanpa dosa ini sungguh merupakan pengalaman menyenangkan bagi saya. Menyenangkan, sekaligus menantang. Dan karena tugas mata kuliah Psikologi Anak dan Remaja Khusus masih belum selesai, maka saya masih akan mengunjungi mereka beberapa kali lagi. So next time, I’ll write another story about them again
All images are Royalty-Free images from gettyimages.com.
(1 unread)