eh tadi pas aq lagi buka buka di webnya jateng aq nemuin halah maksudnya baca artikel yaaaaa………….aga’ lumayan lah ne dy artikel nya
23 Agustus,2007
Sosok Ratu Adil bagi Jawa Tengah,Oleh H.Mardiyanto
JIWA kemandirian dan kemerdekaan, pada dasarnya menjadi bagian pola kepribadian masyarakat Indonesia sejak zaman nenek moyang. Hal ini tercermin pada berbagai kerajaan yang berdiri di wilayah Nusantara, yang pada umumnya berpangkal dari semangat kewangsaan.
Dalam konteks ini, setiap wangsa kerajaan memiliki harkat kedaulatannya masing-masing, sehingga setiap intervensi penguasaan wangsa lain akan dirasakan sebagai tekanan penjajahan atas kedaulatan tersebut, dan lebih lanjut menumbuhkan gerakan perjuangan kemerdekaan melalui usaha perlawanan.
Dalam dinamika seperti itu, eksistensi dan kelangsungan setiap kerajaan kewangsaan sangat ditentukan oleh faktor legitimasi dan dukungan rakyat. Sedangkan tumbuh dan berkembangnya legitimasi dan dukungan rakyat, sangat tergantung pada faktor kearifan dan keberpihakan wangsa kerajaan (pemimpin) terhadap kepentingan rakyat.
Pada kehidupan sosial seperti itu, setiap keberadaan kerajaan kewangsaan selain berkedudukan sebagai pusat pemerintahan juga berfungsi sebagai pusat pengembangan kebudayaan. Lokasi di mana bangunan keraton didirikan akan berkembang menjadi kota raja, yang oleh rakyat disebut sebagai nagari.
Berbagai kearifan nilai dan tradisi budaya serta kesenian yang berhasil dikembangkan di lingkungan keraton, lebih lanjut menjadi kiblat yang diteladani masyarakat dalam berbagai manifestasi tradisi budaya rakyat, kendati dalam bentuk yang kurang sempurna. Aktualisasinya telah menimbulkan dikotomi perwujudan warna tradisi kebudayaan, yakni tradisi budaya nagari di satu sisi dan tradisi budaya rakyat pada sisi yang lain, dengan perbedaan khususnya terletak pada faktor kualitas.
Pada konteks keberadaan keraton sebagai nagari, maka kedudukan raja atau wangsa pemimpin tidak dirasakan lagi sebagai penguasa, melainkan sebagai pengayom dan figur panutan yang perlu dijunjung dan dihormati (sinuhun) serta dibela keselamatannya oleh masyarakat.
Adapun dukungan legitimasi serta kelangsungannya lebih tergantung pada kearifan dan konsistensi wangsa penguasa kerajaan dalam mengemban amanat penderitaan rakyat'’. Dengan demikian dapat terjalin sinergi kepentingan yang harmonis dan kondusif; darma kehidupan raja/sosok junjungan di satu sisi dengan kesetiaan bakti rakyat pada sisi yang lain (manunggaling kawula lan gusti).
Manunggaling kawula lan gusti dalam lingkungan kerajaan, ibarat hubungan yang harmonis dan sinergis antara ratu dengan rakyatnya. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, fenomena itu diekspresikan dalam bentuk hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antara pemerintah dengan rakyatnya.
Mitos Ratu Adil
Dinamika kesejarahan kemasyarakatan seperti itu tercermin pada mitos Ratu Adil dalam budaya Nusantara. Hakikat Ratu Adil merupakan karakteristik figur pemimpin yang keberadaannya senantiasa diidolakan dan didambakan oleh rakyat karena kearifan, kebijaksanaan, dan darmanya dipastikan membawa kemaslahatan kehidupan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Karena itu, ketika karakteristik kewangsaan kerajaan dipandang telah melenceng dan bertentangan dengan nilai-nilai Ratu Adil tersebut, tentulah akan memicu keresahan dan pergolakan rakyat, ibarat bom waktu yang pada saatnya tentu akan meledak.
Pada iklim sumbu pendek tersebut, rakyat senantiasa menanti-nanti waktu (tibaning mangsa kala) atas munculnya figur raja/pemimpin baru yang pantas menerima legitimasi memegang tampuk kekuasaan kerajaan, yang pada dasarnya berfungsi sebagai pengayom rakyat (songsong agung).
Kemunculan figur raja atau pemimpin baru yang dinantikan dan diharapkan mampu mengubah kondisi yang kurang sempurna menjadi meningkat dan memberi kemaslahatan yang lebih menyejahterakan, yang lazim dikenal sebagai Satria Piningit.
Mitos Ratu Adil dan Satria Piningit bersifat universal, sehingga sampai sekarang tetap hidup dan mengakar sebagai bagian pola psiko-kepribadian masyarakat Indonesia. Setidaknya harapan atas Ratu Adil pernah melembaga menjadi etos perjuangan rakyat dalam sejarah pergerakan nasional merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonialisme Belanda.
Begitu pula harapan figur Satria Piningit, sering mengedepan sebagai isu yang disebut-sebut pada setiap momentum prosesi pergantian pemimpin. Manunggaling kawula lan gusti termanifestasikan lewat perhatian yang besar dari pemimpin untuk dapat mengemban dan melaksanakan amanat penderitaan rakyat.
Pilgub 2008
Tahun 2008 masyarakat Jawa Tengah akan punya gawe besar, yaitu memilih gubernur dan wakil gubernur masa bakti 2008-2013 yang dilakukan secara langsung oleh masyarakat.
Dengan demikian, tahun 2008 merupakan fase yang menentukan kelangsungan hidup dan masa depan Jawa Tengah di tangan masyarakatnya sendiri. Siapa pun yang nanti akan terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur, sepanjang telah melalui proses, prosedur serta mekanisme yang benar, harus dijadikan Ratu Adil yang patut mendapatkan dukungan dari semua pihak, khususnya rakyat Jawa Tengah.
Untuk memperoleh kesempurnaan sebagai Ratu Adil yang mampu menjalankan amanat rakyat, maka kontrol sosial yang konstruktif dan bersifat membangun dari rakyatnya tetap diperlukan. Dengan kontrol sosial tersebut, diharapkan dari waktu ke waktu tugas kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat di Jawa Tengah semakin bertambah baik. Yang masih kurang perlu dibenahi agar menjadi baik dan sempurna. Sedangkan yang sudah baik perlu terus ditingkatkan agar menjadi semakin baik.
Satria Piningit dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, terekspresikan sebagai seorang figur yang diharapkan mumpuni, arif, dan bijaksana dalam menjalankan tugas kepemimpinan, yang semata-mata demi kepentingan rakyat.
Satria Piningit bukan figur yang sengaja dipingit, digadang-gadang, dan kemudian dimunculkan untuk tampil sebagai pemimpin pengganti atau penerus. Satria Piningit dalam koteks ini lebih banyak ditentukan oleh pribadi pemimpin itu sendiri dan rakyat yang akan dipimpinnya. Satria Piningit yang dimaksud adalah pemimpin yang kemunculannya bersifat alami, dengan kapasitas kemampuan berdasarkan pengalamannya sendiri, yang digali berdasarkan situasi dan kondisi sosial-budaya yang melingkupi proses kehidupannya.
Dalam implementasi manunggaling kawula lan gusti, Satria Piningit yang kemudian tampil menjadi pemimpin adalah mereka yang memiliki jiwa, kepribadian, serta sikap hidup yang menyatu dan berpihak kepada kepentingan rakyat dan wilayah yang dipimpinnya.
Antara pemimpin dan rakyatnya terjalin interaksi yang saling handarbeni, hangrukebi dan murakabi. Pemimpin dan rakyatnya tidak saling bergantung, tetapi saling memberi support, seiring-sejalan, dan saling melengkapi dalam memajukan wilayah serta menyejahterakan seluruh masyarakat.
Dalam era demokrasi dan persaingan global seperti sekarang ini, semangat kebersamaan antara pemimpin dan rakyatnya dalam membawa kemajuan mengisi kemerdekaan, pada hakikatnya sama dengan semangat dalam memperjuangkan, merebut, dan mempertahankan kedaulatan negara dari berbagai macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.
Dengan demikian, munculnya Ratu Adil dan Satria Piningit dan mekanisme manunggaling kawula lan gusti akan menjadi kekuatan dahsyat sebagai manifestasi munculnya pemimpin yang adil-bijaksana dan memiliki kemampuan yang memadai, serta mampu mengemban dan melaksanakan amanat penderitaan rakyat menuju terciptanya kehidupan yang tata tentrem kerta raharja - gemah ripah loh jinawi.
Jadi, jangan coba-coba menjadi pemimpin yang tidak berpikir dan berpihak untuk kepentingan rakyat dan wilayah yang dipimpinnya. Cyber
- H Mardiyanto, Gubernur Jawa Tengah