Tepat sebulan yang lalu Cah Andong mendapat undangan dari Oxfam untuk melihat-lihat tempat kerjanya di wilayah Sumatera Barat. Diwakili oleh Alle dan Memeth, sebagian rekaman perjalanan terburai di twitter dengan hashtag #CA_GoWest.
Siang itu (15/3) kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau tepat saat adzan dzuhur berkumandang dari pengeras suara di setiap sudut ruangan. Kekhasan Minangkabau terasa sejak menginjakkan kaki di bandara yang tergolong megah ini, wanita berbaju kurung dan ukiran-ukiran khas Minang serta atap berbentuk runcing. Semua terkesan kokoh di bandara modern ini, tidak terlihat jejak-jejak bencana besar dari akhir September 2009 lalu.
Di luar pintu kedatangan supir dari Oxfam menyambut kami dengan ramah. Buya, panggilan supir kami, sambil menyetir bercerita pengalamannya saat gempa. Beliau memang tidak kehilangan anggota keluarganya, namun dampak bencana ini sungguh besar baginya.
“Bumi Minang menangis, namun kami tidak bisa menangis lagi karena begitu pedihnya derita yang ditanggung,” ungkap Buya.
Awalnya Buya terkesan hiperbolis karena kerusakan parah tidak terlihat sepanjang perjalanan kami. Namun ketika kendaraan mendekati Kodya Padang, gempa berkekuatan 7,9 SR tahun lalu itu mulai terlihat cabikannya. Banyak gedung, terutama kantor pemerintah, tidak hanya retak-retak namun roboh. Kantor Samsat, Dispenda, Bappeda, Telkom, Pengadilan Tinggi, Bank Mandiri, dan BCA mengalami kerusakan yang sangat parah. Ada juga pusat perbelanjaan berlantai empat di pinggir kota Padang mengalami rusak parah padahal baru saja soft opening selama seminggu.
Kunjungan Ke Lokasi Rawan Gempa
Setelah beristirahat semalam di hotel yang dikelola oleh sebuah SMK, di hari kedua kami menuju Kabupaten Padang Pariaman. Kabupaten ini merupakan wilayah yang kondisinya paling parah, karena merupakan jalur pergerakan gempa. Sebagian wilayahnya yang di pesisir pantai dan sebagian lagi di perbukitan membuat Padang Pariaman sulit dijangkau.
Setelah dua jam perjalanan tibalah kami di Nagari Gunung Padang Alai, sebuah perkampungan kecil yang terletak di Kecamatan V Koto Timur. Kondisi yang mengenaskan terlihat di sini. Rumah-rumah roboh dibiarkan belum dibangun, tenda-tenda darurat masih banyak berdiri walaupun sudah agak rapuh karena diterjang cuaca yang berganti-ganti. Beberapa ruas jalan yang terputus masih tertimbun tanah longsor dan terbelah karena gempa.
Menurut Nasir, tokoh masyarakat wilayah Ambacang Gadang Teluk Bayur, mereka terpaksa mengungsi ke beberapa daerah yang lebih datar dan tergolong aman karena daerah perbukitan tempat mereka berasal telah luluh lantah oleh gempa dan tanah longsor. 50 rumah dari wilayahnya rusak berat dan 5 bangunan tertimbun tanah serta 12 orang meninggal dunia.
Selama ini mereka masih bertahan di tenda-tenda darurat. Belum ada kunjungan dan bantuan dari pemerintah keluh Nasir. Dua minggu setelah gempa memang ada bantuan pangan yang dilemparkan dari helikopter. Pada masa darurat beberapa NGO berdatangan, tenda-tenda dibangun, jalan yang terputus oleh longsor mulai dibangun dan pencarian korban dimulai. Beberapa NGO memberikan penawaran bantuan untuk membangun kembali kampung mereka. Tetapi agak sulit diwujudkan karena sesuai prosedur beberapa NGO dan ketentuan pemerintah, hanya dapat dilakukan di kampung asal mereka sedangkan kampung asal mereka sudah tertimbun longsor. Mereka berinisiatif untuk membeli kavling tanah di daerah yang lebih datar dan dekat dengan sumber ladang dan kebun namun masih terkendala oleh biaya.
Pelatihan Rumah Tahan Gempa
Banyak pelajaran dari peristiwa gempa ini. Tidak hanya daerah aman yang mesti diperhatikan dalam membangun rumah, juga bentuk rumah aman gempa. Ini terkendala dengan persepsi bahwa rumah aman gempa membutuhkan biaya pembangunan yang tinggi. Kendala lain adalah terbatasanya pengetahuan tukang tentang pembangunan rumah aman gempa.
Untuk itu Oxfam bekerjasama dengan Build Change mengadakan pelatihan cuma-cuma rumah aman gempa dengan biaya ringan kepada para tukang dan mandor.
Cah Andong berkesempatan melihat secara langsung praktik lapangan tukang dalam membangun rumah aman gempa di Nagari Campago Kecamatan V Koto Kampung Dalam. Menurut Moslem, kordinator dari Build Change, pelatihan lebih banyak ditekankan pada praktik lapangan. Pemilihan material bangunan banyak menggunakan yang sudah banyak dikenal para tukang, murah dan bersifat ringan namun kokoh seperti seng, bambu dan kawat. Teknik-teknik yang diajarkan kepada para tukang kebanyakan bukan merupakan teknik yang baru di Indonesia. Sebagian tukang sudah mengetahui teknik-teknik tersebut namun tidak digunakan karena ketidaktauan fungsi dan kegunaannya.
Ali, tukang dari Campago, mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat sekali baginya. Sebelum membangun rumah harus memperhitungkan biaya, tidak asal bangun. Perhitungan sudut-sudut juga menggunakan rumus tertentu yang ia dapatkan dari pelatihan ini sehingga rumah yang akan dibangun benar-benar kokoh.
Menurut Ali, pemerintah sebenarnya sudah ada niatan untuk membantu membangun kembali rumah-rumah yang rusak karena gempa, tetapi warga agak sedikit kecewa karena ketidakjelasan penggolongan “rusak” oleh pemerintah. Selain itu juga karena penyamarataan tanggungan yang diberikan kepada warga, misalnya rumah rusak berat akan dibuat rumah baru dengan fasilitas 2 buah kamar tidur padahal tidak semua warga yang rumahnya rusak berat membutuhkan 2 kamar tidur, bisa kurang bisa lebih. Mereka lebih memilih menginginkan uang sepenuhnya diberikan kepada warga, sehingga mereka bisa membangun sesuai dengan kebutuhan.
Skeptisme dilontarkan Mahmud, pemerintah seakan tidak peka terhadap kondisi mengenaskan dari warga mereka hanya memikirkan urusannya masing-masing. Di reruntuhan rumah malah terlihat baliho besar wajah para cagub untuk pemilihan bulan Juni nanti.
Banyaknya keluh kesah penduduk setelah gempa berlalu satu tahun menandakan masih banyak PR yang belum diselesaikan pemerintah. Pemerintah seharusnya lebih banyak berdiskusi dengan masyarakat dalam mengambil keputusan penanggulangan gempa. Kunjungan kami ke Sumatera Barat menyadarkan lagi bahwa kondisi di Sumatra Barat tidak ‘aman-aman saja’.
16 April 2010 11:46:38 pakai
gempa padang, hampir terlupakan.
16 April 2010 20:39:39 pakai
semoga padang segera pulih
18 April 2010 11:13:06 pakai
aduh kampung halaman mamaku…
19 April 2010 09:53:05 pakai
Manfaatkan mereka yang mencalonkan sebagai gubernur, jangan pilih kalau tidak ada kepedulian terhadap dampak gempa! Mana teriakan parpol demi rakyat! Mana teriakan wakil rakyat demi rakyat!
19 April 2010 09:54:04 pakai
Semoga gempa padang segera teratasi! Amin!
4 May 2010 02:01:17 pakai
Mbak, mungkin “Kecamatan V Koto ” maksudnya adalah “Kecamatan Lima Koto” ya?
5 May 2010 03:05:50 pakai
@sandalian

yg nulis aku ndal. Sudah benar yg ditulis. malah ada nama kecamatan lebih ribet lagi nulis dan bacanya: Kecamatan II x XI VI Lingkung
5 May 2010 03:30:45 pakai
Woh kirain yang nulis Mbak Memed.
Sori aku sudah suudzon Le….
5 May 2010 08:32:16 pakai
sudah setengah tahun lebih
masih banyak bangunan yang masih rusak yang belum diperbaiki ya..
smoga kondisi padang bisa kembali seperti semula
13 May 2010 06:57:34 pakai
hallo cah andong..salam kenal. saya rencana tgl 28 mei mau jalan2 ke yog. adakah referensi tempat mana saja yang harus dikunjungi selain malioboro?…tempat makan favorit jg boleh..hehe
18 May 2010 15:36:29 pakai
halo @sahabat blogger : Jogja banyak banget yang bisa dikunjungi. tapi dirimu mau nyari tempat kayak apa? kan banyak jenisnya. *gak menjawab*
7 June 2010 14:29:48 pakai
hallo cah andong, salam kenal dari blogger boyolali, yang masi newbie dan kurang terkenal heee
27 June 2010 14:04:30 pakai
5 July 2010 08:40:31 pakai
Wedding dresses are literally the icing on the cake on every bridal wedding day. Browse from our fabulous Bridal Dresses Collections and Sale Outlet, get more price details and suggestions before buying, we help you making right desicions and saving your money.
23 August 2010 12:21:51 pakai
Untuk gempa jogja yang kemaren petang ada yang mengalami kerusakan nggak…????