Anak muda nonton pentas wayang? Boleh jadi reaksinya akan bermacam, kebanyakan akan mencibir. Kesan kuno dan ketinggalan jaman melekat pada karya peninggalan budaya yang diakui sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity versi UNESCO sejak tahun 2003 itu. Meski begitu, sebenarnya tak sedikit generasi muda yang menggemari cerita pewayangan.

Menurut Wikipedia, wayang sudah dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi ketika masyarakat nusantara memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
Dari jenisnya saja bisa disebutkan Wayang Kulit (Wayang Kulit, Wayang Sasak), Wayang Kayu (Wayang Golek), Wayang Beber, Wayang Orang, dan Wayang Suket. Dari berbagai jenis tersebut memang tidak semuanya bisa berkembang secara seiring sejalan, karena zaman akan menentukan pilihannya. Wayang Kulit dan Wayang Golek yang memiliki kemampuan bertahan di tengah gempuran hiburan masyarakat sebagai tuntutan perubahan zaman.
Pada perkembangannya, wayang kulit di nusantara sangat beragam walaupun cukup berkembang pesat di pulau Jawa-Bali. Di antara jenis wayang kulit yang ada di tanah air antara lain Wayang Jawa Yogyakarta, Wayang Jawa Surakarta, Wayang Kulit Gagrag Banyumasan, Wayang Bali, Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan), Wayang Palembang (Sumatera Selatan), Wayang Betawi (Jakarta), Wayang Cirebon (Jawa Barat), Wayang Madura (sudah punah), Wayang Sasak Lombok, Wayang Purwa Bali dan Wayang Siam.

Ragam jenis wayang dari seluruh nusantara itu akan ditampilkan di Festival Wayang Indonesia II pada tanggal 13 hingga 16 Desember 2009 di Taman Budaya Yogyakarta. Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) menggelar festival tiga tahunan ini yang merupakan puncak dari festival tingkat kabupaten hingga provinsi dan kemudian nasional.
Bagi yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya (yang gemar nonton wayang, tentunya) pasti tidak asing lagi dengan Wayang Kulit Gaya Solo dan Yogya karena boleh disebut keduanya memiliki eksistensi cukup baik. Tapi bagi yang ingin merasakan sensasi dari pakeliran wayang lain bisa mengamati jadwal untuk menyaksikan misalnya Wayang Sasak Lombok, Wayang Palembang, Wayang Banjar atau Wayang Golek.
Mari datang ke sana, tak perlu malu untuk mencari tahu tentang khazanah budaya adiluhung bangsa. Cuma ada waktu 4 hari saja untuk itu. Bumi gonjang ganjing… langit kelap kelip!
13 December 2008 11:37:57 pakai
waktu aku SD, suka bgt dg cerita2 wayang *imbas gara2 kakakku ber cita2 jadi dalang*
aku lahap mpe abis tuh, novel wayang spt arjuna sasrabahu dan srikandi belajar memanah, dan aku bisa bener2 hanyut dalam ceritanya. padahal tebelnya minimal 200an halaman.
aku yo mpe apal, tokoh2 wayang.
tp smp sekarang, belum pernah nonton pertunjukan wayang live show
13 December 2008 12:22:59 pakai
edun baru tau info ini mepet dan bosok lagi badan ga isa diajak kluyuran jauh..sial…itu wayang dengan cerita bagus semua bok…buset jadi ngiler pengen nongton…!!!!



13 December 2008 13:11:24 pakai
sip..sip..sip..
lestarikan budaya lokal
13 December 2008 13:57:41 pakai
13 December 2008 15:07:36 pakai
Pas aku kecil dulu sering diajak ayah nonton wayang. Masih keinget pas tengah malem jam 12.oo-an. Nunggu “Goro-Goro”nya saja … Mungkin disitu intinya. Sampai sekarang pun aku tak tahu seluk beluk waang secara deatail. Walau aku orang Jogja. Mungkin harus ada pelajaran yang mempelajari khusus tentang wayang. Atau ke Festival wayang kali ini ?
*Buat Planning*
13 December 2008 16:26:43 pakai
siaaaaaaaaaaaappppppppppp!!!
saya bakal meluncur! ada gadis yang mau nemani saya?
13 December 2008 20:03:34 pakai
Acaranya keren lho.
Ayo datang, jangan kuatir kehabisan tempat duduk 
13 December 2008 22:36:54 pakai
waktu sma
disuruh hapalin
100 kurawa
sekarang udah lupa semua
15 December 2008 10:11:47 pakai
indah nian budaya kita ya,dan cukup beragam, gimana bentuk “semar” nya ya apa semua jenis wayang tetap sama, memunculkan semar dalam bentuk gendut dan begitu rupanya.
16 December 2008 01:29:29 pakai
wah kira - kira goro-goro mulai jam berapa ya
16 December 2008 10:56:24 pakai
ada yg mw traktir saya ke sana gak??
16 December 2008 20:26:38 pakai
pengen meluuuuu……
tapi dak bakalan bisa kesana….
17 December 2008 00:06:47 pakai
woooooooooooo………….
jindal!
jadwale salah kuwi. mau aku lagi ndono. lagi sempet, sih, soale…
eee…jebule wis do kukut2 ket winginane. bul mung tekan tanggal 15, john.
cen info yang menyesatkan!
“
17 December 2008 09:04:38 pakai
saya selalu suka pertunjukan wayang. dulu, saat masih di jogja, tiap malam minggu nonton wayang bareng bapak kos sampai subuh di televisi. tiap ada wayang di UGM, saya pasti nonton.
tapi setelah di jakarta rasanya fitalitas saya ndak sebagus dulu. ndak sanggup lagi nonton sampai pagi.
17 December 2008 12:07:02 pakai
setanmipaselatan aka joesatch
makane, dadi sarjana iku kudu kritis, digoleki infone ning website e acara. ora langsung percoyo, telan mentah2
tapi ya memang acaranya sampai tanggal 16 kok, semalam kami nonton rame2. tempatnya untuk exhibisi ada di baparda (samping inna hotel).
21 December 2008 17:06:55 pakai
yaaaak siplah.
jangan lupakan pewayangan klasik ya, ki.
21 December 2008 18:04:30 pakai
aahhh…. udah selesai yah??
21 December 2008 18:05:57 pakai
oh. 2009. haha. salah baca saya. :”>
(malu banget)
12 January 2009 14:34:29 pakai
wah berarti masih cukup banyak waktu untuk bersiap-siap ki…..
Sopo ae dalang sing arep tampil?
25 January 2009 13:23:56 pakai
wah ada perwakilan dari Nihon Wayang Kyokai ngga ya?
saya pernah jadi narator untuk pagelaran wayang oleh pedalang Jepang Matsumoto Ryo.
EM
30 January 2009 10:01:56 pakai
Ini baru info yang menarik, ternyata masih banyak juga yg suka wayang tak kirain saya sendirian. Tiap mlm saya denger wayang di radio sampai2 radio yang memutar ulang saya hapal, sekarang saatnya liat asli nya.