Film buatan tahun 1951 ini menceriterakan tentang penyerbuan para laskar rakyat ke kota Jogja, dan mendudukinya selama enam jam, kemudian dikenal dengan peristiwa “Serangan Oemoem 1 Maret 1949″ atau juga “Enam Jam di Yogyakarta/Enam Djam di Djokja”.
Awalnya, kami mengira film ini akan membawa ke sebuah kisah tentang seorang bocah bernama Temon yang ikut dalam euforia laskar rakyat yang berperang. Tapi ternyata bukan, karena film yang menceritakan Temon itu berjudul “Serangan Fajar (1981)”. Perbedaan tahun pembuatan kedua film ini akan memberikan citarasa berbeda. Karena di film “Serangan Fajar” banyak sekali kemunculan Pak Harto. Hihihihi.

Film yang disutradari oleh Usmar Ismail ini memang produk lama, bunyi kemresek suara film cukup mengganggu pendengaran. Jika tidak memusatkan perhatian, maka akan banyak dialog yang lepas. Ditambah lagi dengan logat para pemainnya yang menurut saya dan teman-teman yang menyaksikannya, terdengar ’sedikit aneh’. Logat bicara tidak njawani dan medhok seperti halnya film-film bersetting kota Jogja, tapi justru lebih mirip logat ala sumatera (luar Jawa).
Film ini banyak menceritakan suasana perang di tingkat arus bawah, karena sering kali ada berita dari “pusat”. Siapa yang mereka sebut “pusat” ini? Ngarso Dalem (Sri Sultan HB IX), atau Pak Harto? Hihihihi. Kemudian beberapa scene menampilkan icon-icon kota Jogja yang hingga kini masih bisa di lihat, antara lain Benteng Vredeburg, Alun-alun Utara, Plengkung Gading, bahkan Jam di pertigaan samping Mirota Batik yang ternyata sudah ada sejak jaman dahulu. Dan bumbu percintaan pun ada diselipkan dalam potongan cerita antar tokoh dalam film tersebut.

Beberapa hal yang diperhatikan dalam film tersebut adalah penceritaan yang berusaha menyampaikan bahwa saat itu kondisi kepercayaan rakyat kepada TNI sangat lemah. Rakyat yang selalu menjadi korban dalam setiap drama penyerangan oleh TNI. TNI menyerang kemudian menyingkir pergi ke persembunyian, lalu rakyatlah yang menerima pembalasan dari Belanda. Kemudian juga beberapa putra pribumi yang menjadi antek-antek penjajah yang menyatakan bahwa mereka juga memperjuangkan nasionalisme kapada tanah air dengan cara berbeda.
Beberapa hal lainnya yang bisa diperhatikan adalah soal gaya berpakaian yang sedang gaul pada saat itu. Belum lagi gaya bicara dan idiom-idiom yang muncul, beberapa menggelitik dan masih teringat oleh para penonton. Senang sekali, dengan biaya Lima Ribu Rupiah kita bisa dibawa ke dalam euforia masa lalu, dan menyaksikan heroisme pemuda-pemuda Indonesia memperjuangkan dan mempertahankan keutuhan Negara Republik Indonesia.
Yang disayangkan, ruangan audio visual Gedung F Vredeburg sore itu cuma terisi 14 orang dari sekitar 100-an tempat duduk yang tersedia. Bagi yang tertarik menyaksikan film ini, bisa mengunjungi arena Pasar Raya FKY XX 2008, tepatnya di Ruang F/Ruang Pamer Audio Visual Benteng Vredeburg pada hari Rabu 11 Juni 2008 pukul 19. 00, dan Sabtu 14 Juni 2008 pukul 19. 00.
Blog
Dari Jelata
9 June 2008 23:56:41 pakai
Ah, kamu Antobilang tau apa…
10 June 2008 00:16:17 pakai
Kalau kamu ditangkap, maka rumah ini akan menjadi neraka bagiku.
10 June 2008 02:21:30 pakai
Ah, mana punya kau kehormatan, Ntok…
10 June 2008 02:33:38 pakai
saya gak dijak…
10 June 2008 02:35:06 pakai
@ wenny : loh, kata ekowanz kamu gak bisa ikut? piye sih eko
10 June 2008 02:48:53 pakai
weh, kapan dia bilang nak CA mo ke acara ini?
“
*ngompor…
10 June 2008 04:37:48 pakai
Ayuk Wenny nonton ama aku aja
10 June 2008 05:05:47 pakai
Wenny kalau mau kopdar hubungi menkopul yaa…
jangan mau dengan ajakan kopdar gelap lainya
10 June 2008 09:02:01 pakai
kangen jogja!
10 June 2008 10:40:19 pakai
yoe..marie disoesoen djadwalnja soepaya biesa nonton rame-rame

MERDEKA!!!
10 June 2008 11:11:44 pakai
saya telat baca milis
lewat SMS keq!! -gabung Mr Domz-
10 June 2008 12:04:25 pakai
owh iya, menkopul tenang aja..saya ndak akan kopdar gelap ama mas sandal kok
”
saya kan ndak mgkn ngrebut dia dari sampeyan..
btw, jadinya liat pantomim hari apa?
10 June 2008 12:06:58 pakai
eh itu mksdnya icon siul2..
10 June 2008 14:25:24 pakai
santai teman2, yang kemarin itu tim perintis, dan kami sudah menghasilkan beberapa temuan.
parameternya bagusnya sebuah acara FKY yang layak ditonton oleh jelata adalah, berapa banyak gadis2 belia yang datang dalam acara tersebut.
10 June 2008 16:43:51 pakai
10 June 2008 21:46:34 pakai
@wenny bukannya katanya ujian
11 June 2008 10:41:53 pakai
Yoek marie. .Jang beloem nonton film, nonton bersama ndebakoelsempak.Soalnja saya beloem nonton joega..Monggo diejaprie
*toemat aja lho*
11 June 2008 14:24:04 pakai
ini filem yang dulu diputer di tvri bukan ya?
11 June 2008 14:33:11 pakai
tengkyuh atas inponya.. nonton ach…
12 June 2008 09:57:48 pakai
wah pengin juga nih nonton tuh film
12 June 2008 11:54:33 pakai
ikutan ahhhh
/
12 June 2008 12:06:37 pakai
kangen jogja..
12 June 2008 12:28:13 pakai
12 June 2008 13:23:32 pakai
Wah..yang ngepost perlu dikasih bonus ma panitia FKY neh..
liat aja malem minggu cuma isi 14 orang lg apa enggak…
12 June 2008 13:41:37 pakai
Waaah, Rabu dan Sabtu… Rabu telat… Sabtu besok mau ke Lawu..
ok ok
Ntar kalo ada acara lagi aku diajak yaa
12 June 2008 13:56:01 pakai
agenda paling dekat :
1. Jumat : Pantomim Le Mime Bizot
2. Senin : Ballet dari Rotterdam Belande
hayoook? sapa mau ikuudh?
13 June 2008 10:29:25 pakai
sayah nonton dari jauh..
*membaca reportase di blog kalian saja*
26 June 2008 14:41:56 pakai
sayang sudah lwt waktunya padahal bulan depan mau ke jogja ke tanah airku hik sedih !
29 June 2008 12:59:34 pakai
pengen pulang