23 August 2017 • Selamat Sore

kegiatan - keluyuran

Petualangan Jelata di Bukit Thuk Stumbu dan Waisak Borobudur

Petualangan jelata untuk menyaksikan pagelaran Waisak 2552 BE di Candi Borobudur juga disertai dengan perburuan Sunrise dari bukit Thuk Stumbu.

Jelata Petualang

Tim ekspedisi menuju Magelang dengan menggunakan sepeda motor, ada 4 pasang pengendara (Antobilang, Leksa, pengki, Goen, Alle, Pangsit, Sandal dan Sandal satunya lagi) yang ikut serta ditambah 2 orang tukang Loenpia (Kopril dan Lowo) serta 1 orang yang tidak jelas asal-usulnya (Pepeng). Sebelumnya ada Trojan dan Celo yang bergabung, namun di tengah ekspedisi keduanya harus pulang ke rumah Trojan yang ada di sekitar Borobudur.

Pagelaran waisak tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Penyelenggaraan peringatan Waisak yang biasanya dipegang oleh Walubi, namun khusus untuk tahun ini dilakukan oleh KASI. Sebagaimana peringatan yang diselenggarakan oleh KASI, peringatan tahun ini sifatnya ’sedikit tertutup’ untuk umum. Fotografer hanya diperbolehkan meliput berjalannya upacara Waisak pada malam sebelum Waisak sampai jam 11-12 malam saja. Informasi ini pun kami peroleh keesokan harinya, karena sebelumnya kami hanya memperoleh informasi dari pedagang dan security di parkiran B Candi Borobudur.

Karena tim mengetahui malam ini tidak mungkin masuk ke Candi, maka kemudian kami mencari penginapan di sekitar lokasi candi. Setelah beberapa lainnya bersih-bersih diri dan istirahat, beberapa jelata lainnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Candi dengan tujuan untuk mencari informasi soal lokasi perburuan sunrise keesokan paginya. Termasuk juga Pangsit yang pingsan karena kaos kakinya Pepeng, juga Gun yang menjalankan jurus Tisesa (Tidur setiap saat).

Sebelumnya kami sudah meminta petunjuk Sultan di Jancukarta, namun karena yang bersangkutan rupanya tidak mau memberi petunjuk. Kami memutuskan untuk mencari informasi sendiri. Mungkin sultan membiarkan kami bimbang tanpa petunjuk seperti ini karena beliau ingin kami menikmati sensasi ndoyok yang penuh ke-soktau-an dan ketersesatan. Dari seorang penjaga keamanan di pintu masuk Hotel Manohara kami beroleh informasi soal Thuk Stumbu ini. Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan tentang lokasi bukit ini, namun si penjaga keamanan menyatakan ada suatu tempat di sebelah barat Candi yang biasa digunakan untuk melihat matahari terbit.

Lokasi bukit yang sering dijadikan tempat perburuan sunrise ini ada di desa Kurahan. Nama bukit tersebut adalah Thuk Stumbu. Pengejaan nama ‘thuk’ ini mengartikan sebuah gundukan, bukan seperti yang selama ini tertulis yaitu ‘tuk’ yaitu berarti sumber mata air. Begitulah kira-kira analisa sesat yang dikeluarkan oleh Sandalian.

Selain Thuk Stumbu, para pemburu sunrise juga bisa menikmati matahari terbit dari suatu tempat yang jauh lebih datar, yaitu Klipoh. Letak tempat Klipoh ini masih di desa yang sama. Dari Klipoh ini kita bisa menyaksikan matahari terbit dari balik stupa-stupa Candi Borobudur dengan pandangan mata sejajar horizontal. Tim memutuskan bahwa lokasi ini terlalu mudah dijangkau, terlalu mudah ditaklukkan, maka kemudian jiwa ndoyok kami memilih Thuk Stumbu yang jalurnya lebih menantang. Dari Klipoh yang berada sekitar 5 km dari Candi Borobudurm kami meneruskan perjalanan menuju bukit Thuk Stumbu yang ditempuh dengan menyusuri jalan sempit, gelap dan sesekali menanjak.

Kami sudah sampai di rumah penduduk paling atas di kaki bukit Thuk Stumbu, sebelum matahari benar-benar muncul. Beberepa penduduk kampung sudah bangun dan mempersilahkan kami menitipkan kendaraan kami yang sudah kembang-kempis menaklukkan jalan perbukitan dengan masing-masing tiga orang dewasa di atasnya.

Salah satu penduduk berbaik hati mengantar kami ke atas bukit, menyusuri jalan setapak yang lama-kelamaan semakin berat saja untuk dilalui. Di pagi-pagi buta begini kami dipaksa untuk menaklukkan medan seberat itu, namun kemudian memang terbayar dengan pemandangan menakjubkan dari atas bukit. Puncak Candi Borobudur terlihat lamat-lamat di kejauhan dalam kepungan halimun kabut-kabut pagi.

Beberapa fotografer sudah berapa di lokasi tersebut disusul dengan beberapa lusin lainnya. Kami yang berada di lokasi dalam jumlah kelompok paling banyak tentu saja menguasai petak tanah sempit itu dengan gojekan kere yang cyada henci. Persetan dengan mereka yang merasa terganggu dengan tawa menggelegar yang keluar dari mulut jelata akibat kelucuan Funkshit, anggap saja itu ujian konsentrasi bagi para fotografer. Mengherankan sekali bahwa informasi tentang lokasi ini yang cukup minim di google, tapi cukup banyak juga rupanya yang mengetahui tempat semenarik ini.

Sayangnya pagi itu kabut cukup tebal meyelimuti lembah. Borobudur melalui stupa tertingginya mengintip dari kabut-kabut tebal, selain itu pucuk-pucuk pepohonan berlomba paling tinggi. Sejurus kemudian, dari ufuk timur muncul berkas sinar berpendar kemerahan. Si raja hari pun muncul dengan gagahnya, mengintip lalu perlahan cahayanya sangat kuat untuk dilihat begitu saja dengan mata telanjang.

(Catatan : Saya menulis ini sambil melihat matahari yang sama terangnya di seberang meja, memakai jaket merah namun matahari ini tampaknya tampil terlalu dini. Ahahaha)

Sebentar kami menikmati penampilan menakjubkan matahari dari atas bukit, di kejauhan suara pujabakti para Biksu di Candi Borobudur memecah keheningan pagi ke seluruh penjuru. Leksa sempat mengutarakan ide, alangkah menyenangkannya jika kita bisa berlebaran dari atas bukit. Ide gila yang patut dipertimbangkan suatu saat nanti. Hahahaha.

Saat matahari sudah terlalu tinggi, kami memutuskan untuk menuruni bukit terjal itu dan kembali ke rumah penduduk di mana kami menitipkan kendaraan. Suasana pagi di desa itu sangat tenang, bahkan lebih cenderung kepada kesepian. Tapi saya yakin sekali, menikmati pagi bersama orang-orang desa di daerah pegunungan semacam ini merupakan pengalaman bathin yang baik jika anda sudah terlalu muak dengan kehidupan kota yang menjemukan. Berkas sinar matahari pagi yang mengintip dari celah dedaun bambu mengantar kepulangan kami kembali.

Di sebuah rumah milik Pak Dasuki yag kami gunakan meningap semalam, kami beristirahat sambil menunggu upacara utama waisak yang digelar di Candi Borobudur siang nanti. Seluruh pasukan dinyatakan dalam kondisi terkapar setelah menyantap sarapan pagi berupa nasi pecel dan teh hangat.

Arak-arakan upacara waisak yang dimulai sejak beberapa hari sebelumnya, diantaranya pengambilan air suci di Jumprit-Temanggung dan api suci dari Mrapen-Grobogan. Pada hari Waisak, rombongan bhiksu akan berjalan kaki dari Candi Mendut kemudian dilanjutkan Candi Pawon dan terakhir di Candi Borobudur. Karena kendala fisik yang cukup capai dan jumlah pasukan yang terlalu banyak, kami tidak berminat untuk mengikuti iring-iringan pawai.

Sebelum pasukan pawai tiba di Candi Borobudur melalui pintu 7, sempat terjadi insiden kehilangan handphone milik Goen. Awalnya kami menyadari Goen yang hilang dari barisan kami, dari kejauhan terlihat Goen berwajah bingung dan linglung. Sempat kami kira dia bingung karena merasa kehilangan kami, tapi ternyata yang bersangkutan baru saja kehilangan handphone. Iya, harga sebuah handphone tentu saja tak mahal, tapi nomor kontak yang ada di dalam simcard tersebut yang sangat berharga. Semoga Goen mendapatkan berkah lain dari kehilangan hape ini.

Selanjutnya, rombongan pawai sudah tiba dipintu 7, rombongan fotografer beserta bongkahan-bongkahan paralon sepanjang belalai gajah langsung bersiap mengambil momen-momen terbaik. Barisan bhiksu beriringan menuju candi diselingi dengan rombongan fotografer yang saling berlarian memutar lensa bidik. Acara memotret waisak bahkan sepertinya sudah menjadi ritual khusus para fotografer untuk menambah koleksi foto atau sekedar latihan mengabadikan momen.

Ceramah waisak yang dibawakan menjelang petang itu terasa begitu sejuk. Rasa lelah yang menghimpit badan, membuat kami duduk-duduk bersama-sama dengan umat Buddha yang setia mendengarkan ceramah. Hampir semua fotografer yang tadinya berkerumun di samping kiri kanan podium, duduk leyeh-leyeh di lapangan luas di salah satu sisi Candi.

Acara terakhir, ketika para bhiksu berkeliling menebarkan air suci waisak, menandai perhelatan melelahkan itu harus pungkas. Menyenangkan bisa menikmati suasana waisak ditengah bayang-bayang akan semakin beratnya hidup yang menunggu di depan sana.

KOLEKSI FOTO LAINNYA BISA DISIMAK DI LINK INI


20 Komentar

  1. Menkopul

    Wah, panjang juga ya :D

  2. Goen

    Tumben report di blog CA sekarang-sekarang ini bisa sepanjang ini…. :-\

  3. leksa

    makanya nulisnya lama… =))

    panjang doelll…

    kebayang kalo kita on the trips 3 hari,.. 8-|
    bakal sepanjang apa??? :)>-

  4. leksa

    sedikit photo dari sisi Utara ketika Upacara Waisak … ;))

  5. leksa
  6. Yahya Kurniawan

    Wah, asyik ya. Tapi dengar-dengar sempat terjadi sebuah sandal skandal yang … ah sudahlah

  7. zam

    selamat™!

  8. geblek

    wahhhh pengen ikuuuuuttt:((

  9. ekowanz

    apik….lengkap reportnya

  10. sandal

    @Zam
    ngasih selamatnya jangan sambil prembak-prembik nahan nangis gitu doong :-\

  11. pengki

    iya juga ya. padahal disini gun udah ngga keliatan lho, kok bisa pada ngga sadar kemarin itu.

    jadi kapan kita kemana lagi ? :d

  12. bakulsempak

    sip….sampai-sampai keluar produk baru dari cahandong karena acara itu :-\

  13. escoret

    [...] serta 1 orang yang tidak jelas asal-usulnya (Pepeng). [...]

    GAPLOK ANTO DNEGAN GOBANG..!!!!!

  14. nico

    @pepeng: gobangg baaang!
    ntar-ntar.
    goban bang?
    goyang bang?
    go bang bang?
    goba ngbang?
    lobang ban g?
    ah sudahlah..

  15. annots

    :)

  16. antobilang

    atasku ini annots atau mr doms sih?

  17. arya

    mister doms!

  18. gondes

    :x

  19. wawankibc

    wah rame. kl kabar burung dari kutilang..http://kibchome.multiply.com/journal/item/9

  20. lowo nge-bleu

    ahahahha..

    manteb fotonyah… biruuwww ;)

    kapan berburu sunrise lagi ???

    *siap2 kehilangan sendal


Silakan Berkomentar

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

gondomanan