28 March 2017 • Selamat Malam

kegiatan

ScreenDocs! Traveling 2007

ScreenDocs! Traveling 2007

Tanggal 8-10 Juni 2007 lalu, Jogja menjadi tuan rumah even ScreenDocs! Traveling 2007. Even ini adalah pemutaran film-film dokumenter yang setiap tahun diadakan oleh In-Docs. Acara yang diselenggarakan di Jogja ini merupakan hasil kerja sama dengan Rumah Sinema Yogyakarta.

Even ini digelar di Kinoki, Jl. Suroto No. 20, kotabaru, Yogyakarta. Lokasi yang dipilih cukup nyaman, dengan konsep kafe semi outdoor, membuat suasana menjadi lebih rileks.

Even ini digelar secara bertahap di 14 kota. Ada 21 film yang akan diputar. Film yang dibawa pada even ini merupakan film finalis dan pemenang berbagai kompetisi film dokumenter semacam AMI Youth Films, Kick Start 2006, dan Eagle Awards 2006, dan juga film-film dokumenter lainnya.

Berhubung CahAndong baru berkunjung pada hari terakhir, maka yang ditulis di sini adalah film-film di hari terakhir yang diputar.

  1. Nyanyian Negeri Sejuta Matahari
    Film produksi Miles Production yang bekerja sama dengan UNICEF ini mengangkat kisah anak-anak di Aceh. Syuting dilakukan secara berpindah, mulai dari Banda Aceh hingga Meulaboh. Film ini mengangkat kisah anak-anak Aceh dengan konsep video diary. Jadi anak-anak Aceh ini diberi sebuah camcorder kemudian dia dibebaskan mendokumentasikan apa saja, mulai dari kegiatannya sehari-hari, hingga eksperimen kecil-kecilan yang mereka lakukan.
  2. Mengejar Fatamorgana
    Film peserta Kick Start 2006 ini berkisah tentang Asri, gadis Bali yang karena kulturnya, dia harus bisa menari Bali, padahal dia bercita-cita ingin menjadi model. Cita-cita Asri ini ternyata ditentang oleh ibunya. Bahkan piala-piala yang diperoleh Asri dari lomba modelling pun dibuang dan dibakar. Di satu sisi, prestasi Asri sebagai penari Bali justru membuatnya masuk sekolah favorit dan bisa berkeliling dunia.
  3. Banjo Pickin’ Girl
    Film peserta AMI Youth Films ini berkisah tentang Stacey Sexton, gadis Amerika yang dituntut untuk menguasai tradisi keluarganya, bermain banjo, meskipun dia tidak berminat. Tuntutan ini semakin besar, ketika sang ayah berharap putrinya itu bisa menguasai banjo sebelum dia meninggal.
  4. Sang Penggali Fosil
    Film peserta Eagle Awards 2006 ini berkisah tentang 2 orang petani di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah yang bekerja sampingan sebagai penggali fosil. Asmorejo, yang sering dipanggil dengan “Insinyur” lebih memilih menjual fosil temuannya secara ilegal demi mengejar keuntungan. Sedangkan Sudikromo harus pasrah menyerahkan fosil temuannya kepada museum meski dengan kompensasi yang tak sebanding dengan usahanya. Sebuah ekspresi kekecewaan atas apresiasi pemerintah terhadap para penggali fosil.
  5. Di Atas Rel Mati
    Film pememang best editing di ajang Eagle Awards 2006 ini menceritakan 3 orang anak yang bekerja sebagai pendorong lori, angkutan alternatif dengan memanfaatkan rel kereta yang tidak digunakan lagi, di Kampung Dao Atas, Ancol, Jakarta. Film ini mengangkat kehidupan dan cita-cita anak-anak yang karena kemiskinan harus putus sekolah dan menjadi “anak lori”.
  6. Perjuangan Tak Pernah Surut
    Film karya Candra Tanzil ini mendokumentasikan perjuangan melawan WTO (World Trading Organization) ketika akan menggelar pertemuan di Hongkong, 18 Desember 2005. Dokumentasi dilakukan mulai dari rapat-rapat persiapan aksi hingga pada hari puncak aksi demo.
  7. Amtenar: Sahaja Yang Terabaikan
    Film peserta Eagle Awards 2006 ini menceritakan kisah dr. Diana Bancin, tenaga medis yang ditempatkan di daerah terpencil di Kalimantan. Daerah ini sudah 9 tahun tidak memilki tenaga medis, sehingga masayarakat di sana lebih mempercayai dukun daripada dokter. Film ini menceritakan kisah perjuangan dr. Diana bertahan di tempat tersebut.
  8. Leila Khaled The Hijacker
    Film ini menceritakan kisah Laela Khaled, pejuang wanita Palestina yang berhasil membajak 2 pesawat di awal tahun 1970. Di balik keperkasaan dan prinsipnya sebagai pejuang, ternyata Laela memiliki sisi humanisame dan feminisme yang tinggi. Di film ini pula kita bisa mengetahui maksud dan tujuan aksi Laela dengan gerakan perlawanannya yang kerap dicap terorisme oleh negara barat.

Sayang sekali informasi yang diterima telat sekali, sehingga even bagus semacam ini hampir terlewatkan. ;)

Semoga tahun depan ada lagi, dengan film-film yang lebih menarik, publikasi yang lebih banyak, dan durasi kegiatan yang lebih panjang.

Sukses terus film dokumenter Indonesia!

Catatan terkait:


7 Komentar

  1. kenz

    wah.. udah telat ya ?

  2. kai

    wah… sayang kmrn ak ga ikut >:)
    coba kalo ak ikut pasti disana rusuh…… ono eblizz™ teko
    :)

  3. mysyam

    si penggali fosil, kayaknya seru nih. bisa di download di internet nggak yah.. xixixix…;))

    *wah keycode ku pas, blimbingsari, tempat kost ku di jogja dulu, jadi ingetn blimbingsari nih… hiks.. *

  4. zam

    la itu dadakan.com..

    nek ngasih info, selak netek film-e

  5. amma

    tgl 28 juni ada acara loh di bentara budaya..siap2 nonton film lagi aja yaks :D. kebetulan saya punya jadwalnya :Dntar tak kasih kabar.

    sory nih..daku lama menghilang…lagi dipingit :D

  6. Nav Online

    informasi yang menarik, Trims.

  7. iwan

    Boleh minta linknya video diatas rel mati . Ni saya para pemeran dah pada dewasa sekarang pengen lihat video nya lagi .. kangen kenangan masa lalu:):(


Silakan Berkomentar

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

pathuk