Ruwatan bumi/kebangsaan yang dijadikan agenda utama pada malam kamis (2 Mei 2007) bertepatan dengan hari pendidikan nasional di Pendopo Tamansiswa ternyata tidak sepenuhnya berkaitan dengan HARDIKNAS tersebut.
Ruwatan pada dasarnya adalah usaha spiritual untuk menghilangkan “SUKERTO” yang bias terdapat pada diri perorangan, keluarga maupun organisasi/lembaga. Dan pada kesempatan tersebut majelis luhur persatuan taman siswa mengadakan ruwatan bumi untuk organisasi taman siswa dan bangsa Indonesia agar terhindar dari “SUKERTO”.
Sukerto yang dimaksud adalah Tantangan, Ancaman, Hambatan dan Gangguan didalam organisasi Taman Siswa pada khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya.
Diselenggarakannya Ruwatan Bumi ini untuk memohon ridho Tuhan YME agar organisasi Taman Siswa / Bangsa Indonesia terhindar dari TAHG dan mendapatkan tuntunan, petunjuk dan kemudahan untuk mencapai “Kejayaan” dari Nya. Taman siswa dapat mencorong kembali ke ajaran-ajaran yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara, sedang bangsa Indonesia terhindar dari segala bencana/musibah juga agar bumi Indonesia kembali Lestari.
Ruwatan Bumi dilaksanakan oleh dalang Ki Sutedjo yang merupakan alumni Taman Siswa dengan pagelaran wayang semalam suntuk dengan lakon Dew Ruci. Sebelum pagelaran wayang dimulai, terlebih dahulu dilakukan serah terima Wayang antara pihak pengurus majelis Taman siswa dengan Ki Sutedjo sebagai pertanda Ki Dalang yang memimpin acara ruwatan bumi tersebut.
Pagelaran wayang terbagi atas tiga babak. Babak pertama adalah babak pembukaan, babak kedua adalah acara inti dari ruwatan bumi dan babak ketiga adalah penutup. Setelah itu pagelaran wayang akan dilanjutkan kembali.
Pada babak kedua, Ki dalang akan membaca “mantra” dan melakukan Pathok Bumi. Pathok bumi disini yaitu, ki dalang akan menanam kayu (sebagai pathok) ke dalam tanah di lima penjuru (barat, timur, utara, selatan dan ditengah). Kayu yang digunakan sebagai pathok adalah kayu wali kukun yang didapatkan dari imogiri. Kayu tersebut menjadi pilihan karena kuat, dan diharapkan setelah bumi dipathok organisasi Taman Siswa dan bangsa Indonesia menjadi lebih kuat dalam menghadapi TAHG (Tantangan, Ancaman, Hambatan dan Gangguan) serta dalam bertindak dan berniat untuk kebaikan pun menjadi kuat, tidak mudah menyerah. Seperti dalam kalimat bahasa jawa “a teteken tekun tumuli bakan tekan” yang artinya dengan ketekunan, semangat yang kuat dan pengorbanan semua niat/tujuan akan kita dapatkan”.
Sedang cerita yang dilakonkan yaitu “MURWOKOLO”. Satu cerita yang biasa dilakonkan pada saat ruawatan. Berisi kebaikan melawan kejakatan. Hal ini dimaksudkan agar segala kejahatan, kejelekan dapat dihapus dan kesengsaraan dapat dihilangkan sehingga yang muncul adalah sikap yang baik, seperti budi pekerti, pengabdian, bijaksana dan lain sebagainya. Lama tidaknya acara ruwatan berlangsung merupakan hak Prerogatif dari sang dalang.
Kaitannya dengan HARDIKNAS
Sekarang banyak yang mempertanyakan kebijakan pendidikan nasional seperti ujian nasional (UNAS), Standar sekolah internasional (SSI), Standar sekolah nasional (SSN), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), dll yang lebih menonjolkan profesionalisme, kompetisi dan kompeten. Sehingga menghasilkan orang pintar namun egois, tidak bijak, tidak sopan dan mementingkan diri sendiri.
Hal tersebut jauh dari pendidikan ala Ki Hajar Dewantara yang lebih menonjolkan sikap pengabdian, kesederhanaan, kerja sama, budi pekerti, toleransi, dan kejujuran. Pendidikan yang sederhana namun mampu menghasilkan orang-orang bijak, sopan, nasionalisme dan patriotisme.
Dan dengan ruwatan bumi ini, diharapkan pendidikan di Taman Siswa khususnya dan pendidikan nasinal pada umumnya dapat kembali ke ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara yang selama ini diabaikan dan dilupakan.
Blog
Dari Jelata
16 May 2007 15:24:24 pakai
yuwk!!
kok lama postingannya…….
16 May 2007 19:41:57 pakai
Hai Om-Om/ Tante-Tante…, numpang mampir… ngabisin bandwith

lagi nyari orang djogja buat ditumpangin rumahnya antara kamis-jumat-sabtu-minggu ini…
pengin ke djogjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
jawabanna tolong langsung ajah ke shoutboxna Kai…
OksD.
tenQ
*cari calon tumpangan lagi
*
yuhuu…
(selamat hari rabu)
17 May 2007 00:04:20 pakai
aku meragukan hal ini…. masih banyak banjiran soal pas UN.. so, mungkin :
ah.. tetap saja, tidak semua siswa nakal2 seperti itu…
*kabuurrrr*
18 May 2007 02:14:23 pakai
dari dulu saya kagum dengan Ki Hajar Dewantara, beliau memang tokoh pendidikan Indonesia yang memang patut diteladani.
saya tidak setuju dengan UN atau sejenisnya, banyak persaingan tidak sehat, orang yang jujur kadang malah kalah sama orang-orang yang curang
siswa hanya mengejar nilai.. bukan penguasaan atas pelajaran itu sendiri… makanya mental siswa sekarang sampai jadi pejabat diragukan kejujurannya.
HAPUSKAN PEMBODOHAN UJIAN NASIONAL !!!