Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya. Salah satu cara kita untuk menghargai sejarah dan kebudayaan kita adalah dengan mengunjungi museum. Ada berbagai jenis museum, tetapi tahukah kamu museum tertua di Indonesia?
Museum Radya Pustaka adalah museum tertua di Indonesia. Museum ini terletak di Jalan Slamet Riyadi, Kompleks Sriwedari, Kota Surakarta (Solo). Tak banyak orang yang mengetahui tentang museum yang menyimpan benda-benda peninggalan sejarah Kraton Surakarta dan kebudayaan Jawa ini.
Museum yang berdiri pada tanggal 28 Oktober 1890 Masehi atau pada hari Selasa Kliwon tanggal 15 Maulud 1820 Ehe (tahun Jawa)ini menyimpan berbagai koleksi dari R.T.H. Djojohadiningrat II, sang pemrakarsa Perkumpulan Paheman Radya Pustaka ini, didirikan oleh K.R.A. Sosrodiningrat IV yang saat itu menjabat sebagai patih pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana IX.
Awalnya museum ini berada di salah satu ruang di kediaman KRA Sosrodiningrat IV di Kepatihan yang bernama Panti Wobowo. Kemudian atas prakarsa Paku Buwana X, museum lantas dipindahkan ke Loji Kadipolo pada tanggal 1 Januari 1913. Gedung Loji Kadipolo yang menjadi lokasi museum sekarang ini tanahnya dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwana X dari seorang Belanda bernama Johannes Buselaar seharga 65 ribu gulden Belanda dengan akta noktaris 13/VII tahun 1877 nomor 10 tanah eigendom.

Di depan gedung, kita akan menjumpai patung Ranggawarsito, salah satu pujangga terkenal yang cukup disegani di Jawa. Patung ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 11 November 1953.

Begitu masuk dengan membayar biaya Rp. 2500,00 per orang, di teras gedung kita akan menemukan koleksi arca dan meriam serta beberapa batu peringatan ulang tahun museum ini. Ada 3 ruang utama pada gedung ini. Di ruang pertama kita akan menemukan patung Sosrodiningrat IV sang pendiri museum tepat berada di depan pintu masuk. Di ruang utama ini kita akan menemukan berbagai macam koleksi wayang. Ada wayang gedhog, wayang purwo, wayang krucil, wayang golek, topeng, dan koleksi senjata.


Menyusuri lorong yang menghubungkan ruang pertama dengan ruang kedua, pada ruang sisi kiri kita akan menemukan ruangan dengan berbagai koleksi piring, gerabah, dan sebuah piala porselen yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Sri Susuhunan Paku Buwana IV.


Pada ruang di seberangnya, kita akan menemukan berbagai koleksi senjata pusaka berupa tombak dan keris, serta almari penyimpan keris. Di ruangan ini kita juga akan menemukan miniatur rumah-rumah penduduk pada jaman dahulu kala, mulai dari rumah rakyat biasa yang terbuat dari gedhek (anyaman bambu) hingga rumah pejabat berbentuk joglo.

Masuk lebih dalam kita akan menemukan ruang perpustakaan yang menyimpan berbagai koleksi buku sejarah dan di seberangnya terdapat ruangan yang ditutup di mana di dalamnya terdapat koleksi Relung Rambut Budha yang terbuat dari perunggu.
Memasuki ruang kedua, kita akan disuguhi koleksi gamelan lengkap untuk sebuah pagelaran wayang kulit lengkap. Menengok ke kanan, kita akan mencium bau kemenyan dan dupa yang sangat tajam. Ternyata di sudut ruang terdapat benda paling sakral yang ada di museum ini, yaitu sebuah cantik (hiasan pada kapal) bernama Kyai Rajamala.

Konon, Kyai Rajamala ini merupakan “penunggu” dari museum ini. Pada hari-hari tertentu, benda ini harus diberi sesaji guna mencegah hal-hal aneh yang mungkin terjadi. Hal yang paling sering terjadi jika penjaga lupa memberi sesaji adalah akan muncul bau busuk menyebar pada seluruh ruang museum. Kyai Rajamala juga sering “berulah” jika ada sesuatu yang menyalahi aturan, salah satunya adalah ketika diadakan wilujengan (peringatan ulang tahun) Museum Radya Pustaka yang ke-116 pada tanggal 31 Oktober 2006 lalu. Karena peringatannya “telat” 3 hari, Kyai Rajamala berulah dengan membuat suara-suara gaduh tepat pada acara peringatan museum ini berdiri.

Di seberang ruang tempat Kyai Rajamala berada, ada sebuah ruang memorial kantor K.G. Panembahan Hadiwijdaja. Ruangan ini juga tak kalah suasana mistisnya dengan ruang Kyai Rajamala, terbukti dengan ditemukannya sesaji di dalam ruangan ini.

Di ruang kedua ini, selain gamelan kita akan menemukan berbagai benda-benda khas kraton. Ada tandu untuk mengangkut sesaji, alat transportasi tradisional, koleksi uang kuno, koleksi songkok raja dan para pejabat kraton, dan berbagai benda peninggalan lainnya.


Memasuki ruangan terakhir, kita akan menemukan miniatur Menara Sangga Buana yang terletak di Kraton Surakarta dan dianggap sakral tepat di pintu masuk ruangan ini. Di sisi kiri kita akan menemukan miniatur Astana Imogiri, yaitu kompleks makam raja-raja Mataram, yaitu dari Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta. Di sebelah kanan kita akan menemukan miniatur masjid agung Demak. Di bagian belakang ruang ini kita juga akan menemukan berbagai koleksi arca peninggalan Hindu. Bila kita keluar ruangan, kita akan mendapati kantor pengurus museum ini serta beberapa sisa-sisa arca.




Secara umum museum ini cukup menarik untuk dikunjungi. Walau terkesan sepi dan “singup” tetapi museum ini bisa menjadi alternatif bagi anda yang menyukai wisata budaya dan kesenian. Walau gedungnya merupakan gedung tua dan terletak di antara kemegahan gedung-gedung lain di kompleks ini, tetapi gedung ini terlihat cukup dirawat dengan baik.
Tertarik mengunjungi?
Blog
Dari Jelata
29 January 2007 10:46:26 pakai
huh ra ajak ajak
29 January 2007 12:19:33 pakai
aduh museum gmn ya?? klo disuruh milih makan makan ma pegi ke museum mending makan makan… ga ngarti sih soalnya
29 January 2007 12:45:46 pakai
wah, nights in the museum.. sereem
29 January 2007 15:00:02 pakai
hooh ki…ra ngejak2
29 January 2007 15:43:51 pakai
dengaren ra ono acara narsis bersama-ne?? opo wedi dianggep properti museum nek sampe poto2 narsis??
29 January 2007 19:34:06 pakai
wedi kualat kui mulane ra do narsis …
30 January 2007 01:31:17 pakai
ke solo kan lewat klaten tuh.. nah di klaten itu ada duren gede2… hehehe… kemaren malam kukira kalian mabok duren.. ternyata merencanakan berpergian ke museum tooo…
30 January 2007 08:25:54 pakai
hmm,,, klasik… klasiknya indonesia
30 January 2007 13:56:31 pakai
iyoh….menarik! lebih menarik jika ada pemandunya…sayang arca dan keterangan sejarah lain kurang begitu ditampilkan oleh pengelola…
btw, nice experince on solo
30 January 2007 15:26:47 pakai
Kapan2 melu yo? *nek ndi to?*
Museum sek nek YK urung yo? hehe..
keycode: mantrijeron ?!?
31 January 2007 00:48:48 pakai
museum….? boleh juga sih, kapan kapan deh.. !!
1 February 2007 11:24:35 pakai
tumben ra ono sing narsis, malahan Pak Ranggawarsito sing narsis dewe.. hehehe…
7 February 2007 21:31:42 pakai
Meluuuuuuuuuuuuuuuuuuu
8 February 2007 05:15:34 pakai
Boleh gabung gak?
7 November 2007 21:23:14 pakai
Radya Pustaka, asyik sii, pegawainya ramah2, kecuali..
tp sayang ya, nggak dirawat bener2, dulu pernah tanya, kl ada yg ilang dicari apa nggak? Jawabnya nggak.. katanya nggak punya dana. Ini kan bukan museum pemerintah ya.. tapi PemKot Surakarta juga care koq. Trus.. ya datang sendiri ajalah sana..
21 November 2007 09:18:23 pakai
Saiki padha kepingin mrana ora? patung-patunge wis diijoli sing palsu… Mbah Hadi ( KRH Darmodipuro - Kepala Museum Radya Pustaka Solo) ditankep… Piye?!
Baca Kompas
#prihatin=mode “on”
24 November 2007 22:11:56 pakai
aq ra trimo dadi wong solo umpomo peninggalan nenek moyang Q dimaling, ironise sing maling wong jero musium.
25 January 2008 12:03:13 pakai
EH besok minggu qt2 mw ksna neh,,,,,,


/


qt blh kmntarkan meskipun blm mngunjungi?
qt sbg generasi muda kota solo sangat buangga buangetzzzz punya banyak budaya di banding yang lain,,,
orang yang ngejek budaya sendiri adalah orang yang g bisa menghargai dirinya sendiri.WARNING
19 February 2008 14:43:17 pakai
wah koq bekas ruang kerja eyangku dikasih sesajen yah
17 June 2008 13:40:17 pakai
Main ke Museum Radyapustaka jadi tau Kraton tempo doeloe
13 July 2008 14:34:30 pakai
jadoel bgt sih