Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home1/andong/public_html/wp-includes/cache.php on line 105
Malam Satu Suro : Parangkusumo dan Puro Pakualaman » CAHANDONG.ORG


20 December 2014 • Selamat Pagi

dolan - kegiatan - keluyuran - umum

Malam Satu Suro : Parangkusumo dan Puro Pakualaman

Malam Satu Suro

Belajar menelusuri sejarah, tradisi dan budaya yang masih melekat erat di kalangan rakyat Ngayogyokarto Hadiningrat. Sembari jalan-jalan menelusuri Yogyakarta di waktu malam, malam satu Suro, menjadi momen yang tepat. Malam satu Suro, bagi sebagian orang jawa dikaitkan dengan hal-hal mistis dan berfilosofis. Sebenarnya, diluar liputan, ada banyak latar belakang historis peristiwa penting yang terjadi di bulan Suro, khususnya penganut agama Islam, yang tentu saja berafiliasi dengan kebudayaan Mataram Jawa-Hindu.

Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, seorang khalifah Islam di jaman setelah Nabi Muhammad wafat. Awal dari afiliasi ini, konon untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa. Maka tahun 931 H atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu.

Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa.” Oleh karena itu, dia ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan keyakinan agama. Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Pada setiap hari Jumat legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut diluar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul. Lebih detail tentang riwayat malam Satu Suro bisa dibaca disini.

Tradisi Jawa

Malam hari, tanggal 19 Januari 2007, banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya, Sabtu Pahing, dengan caranya sendiri-sendiri. Tidak sedikit, untuk dapat dikatakan demikian, warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng, hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. Dengan Tapa Bisu, atau mengunci mulut, tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya. Kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta, yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi, adalah Tirakatan dan Pagelaran Wayang Kulit. Begitu pula di Pantai Parangkusumo, kawasan Parangtritis, Kretek, Bantul Yogyakarta.

Pantai Parangkusumo

Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta, Kawasan pantai Parangtrisits, khususnya Parangkusumo, memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. Labuhan, menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. Namun, perkiraan saya salah. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar.

Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo, menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Meski begitu, pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang, makanan, dan berbagai jasa lainnya. Tukang obat tradisional, pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan- “wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung.

Wayang Kulit Semalam Suntuk

Tradisi dan warisan budaya jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting, khususnya adat, di Yogyakarta. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya.

Wayang Kulit

Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu.

Cepuri Parangkusumo

Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul, yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk.

tempat aiarah dua batu yang dikeramtkan

Kembang, dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. Apalagi di malam satu Suro, tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini, ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung.

prosesi ziarah di watu Kyai Panembahan Senopati

watu Kyai Nyai Roro Kidul

Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri, ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian jawa lengkap. Awalnya, saya, dan mungkin pengunjung lain, mengira beliau adalah juru kunci. Namun, sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa, sebelum menabur bunga dan berdoa.

peziarah yang antri

Kyai Panembahan batu keramat Parangkusumo

Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo, begitu informasi dari penduduk sekitar. Mereka menggunakan pakaian jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau, duduk bersila disamping dua batu tersebut.

peziarah -konon- dari Kraton Solo

Puro Pakualaman

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo, di Puro Pakualaman ini, warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda. Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit.

Bahkan, warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya, dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk. Begitu pula dengan penarik becak. Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu.

Pegelaran Wayang Kulit di Puro Pakualaman

sajian hiburan rakyat wayang kulit


23 Komentar

  1. mbak ayu

    wuih pancen keren tenan iki adi-ku sing siji iki, eh foto sing nang benteng ndi???

  2. Jeki

    The FIRST bukan kie? EHm … asik liputane kang, sayang ra ajak2 dirimu, emang enak po sendirian :D

    btw, aku kok mrinding ndelok watune kuwi ….

  3. Jeki

    we, ternyata wis kedisikan mbakyu gita, kekeke hiksssss …

  4. kenz

    hmm…. iya, saya pernah naek gunung lawu.. rame betul seperti pasar… ternyata pas banget malam itu malam satu suro, jadi naek gunung aja sampai ngantri.. ;))

  5. e-one

    wah postinge keyenn… sayang yg posting kok ndak keyenn… ngertio wingi aku melu ya.. malam 1 suro aku cuma turu2 nang hotel… arep mlaku2 ra ono koncone :)

  6. chocoluv

    hmm,,, satu tradisi yg harus dilestarikan :)

  7. PriyayiSae

    @chocoluv : halah.. padune sing turunan kraton. RADEN RORO. kekeke.!

  8. briant

    ini dia salah satu yang keren dari cahandong. liputannya yg jogja banget.

  9. bebek

    wahhh akeh biangeed acara suronan neng YK… dadi ngileeer… hiks.. pengen dolan rono maneh

  10. mohd bazrul

    aha..tak paham loo

  11. dajeng

    hmm a nice blog about jogja

  12. aprizal

    apakah pada malam satu suro itu sering terjadi penampakan mahluk-mahluk halus di sekitar areal pemakaman cepuri??? apakah pernah ada orang yang kemasukan arwah-arwah penasaran yang ada di areal cepuri??? satu lagi mohon maaf kalau kata-kata saya ada yang salah pada pertanyaan tadi!!! SEKIAN TERIMA KASIH…….

  13. NIZAR

    [-( astagfirullah…… ajaran agama apa ini?kejawen mungkin ya?
    sangat jauh dari norma2 agama islam.

  14. nabil

    bagi w………
    tempat itu mungkin tempat untuk mencari kekayaan x yah…soalx wktu w ksana w d critain sma org snah, katax kl org tua qt mw kaya kita d jadiin tumbal MONKEY.bner gg seh ????
    :-?

  15. Key_Run d_jombang

    aquh kangen sama ngayogyokarto ngunu……
    b-)

  16. Key_Run d_jombang

    my prend kuhg…..????

    Dejay Gey’z ,Dejay Danielle,B-Boy Cellenk,Rezza,Vipous,RenDiy,PepphY,gEy_gUk,siNyo,nDas BaJuL,iYa GombLoh,masssss……..Yooooooonnnnn,,,,……
    b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-) b-)

  17. Key_Run d_jombang

    nanti malam tunggu kabar selanjutnya….?????
    MALAM SATU SURO
    hihihihih…….
    hahahahaha…….
    hehehehehe……..

  18. choko

    asik tu ceritane…http://cahandong.org/smilies/yahoo_think.gif
    yaw kapan2 kalau malem 1suro tak nyoba ksana bos…
    aku jg seneng banget tentang ilmu2 kejawen..
    mudah difahami,,
    dan sebagai masyarakat jawa kita wajib nguri-uri kabudayan jawa.
    http://cahandong.org/smilies/yahoo_dance.gif

  19. WIJOYO CHONDRO WIGUNO

    to: NIZAR

    BELAJAR DULU MAS AJARAN ISLAM YANG BENER… ITU BUDAYA BUKAN AGAMA…
    YAH… PASTINYA NIZAR ITU RAKYAT JELATA YANG NDAK BERBUDAYA… JAUH DARI LINGKUP KRATON.. KASIHAN NIZAR TERLALU FANATIK [-([-(

  20. gerenimo cayenne

    Pemandangan ini mengingatkan umat sebelum nabi muhammad di kota mekah yang menyembah berhala-berhala, padahal orang tua mereka sebelumnya sdh diberi petunjuk oleh nabi-nabi sebelum muhammad diutus kepada mereka… Dengan berbagai dalil kegiatan atau kepercayaan itu dibuat ceritanya dan alasan-alasannya agar apa yg dilakukan menjadi sebagai sesuatu yg wajar… Capee deeh:((

  21. meysha

    Budaya jika di gabung dgn agama
    hasilnya…. ???? :(

  22. ghandhuz

    lestarikan budaya jawa qt
    =p~:o:|

  23. h a

    ASTAGHFIRULLOHAL ADZIIMM…
    SEMOGA MEREKA DIAMPUNI.
    SANGAT MENYEDIHKAN TINGKAH UMAT ISLAM SEKARANG. DAH KEMBALI KE JAMAN JAHILIYAH DAN MALAH LEBIH PARAH….

    TOBAT… AYO PADA TOBAT SEBELUM PADA DI LAKNAT ALLOH TA’ALA


Silakan Berkomentar

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

tamansari