Jogja sempat diguyur hujan pada pukul 16.30. Waktu yang telah disepakati oleh anggota cahandong untuk berkumpul di selasar MIPA dalam rancangan nonton bareng Festival Film Dokumenter. Hanya ada Monik, Zam, Alex, dan saya, Lawni, yang berkumpul pada saat itu. Sempat ragu apakah “Nonton Bareng Ceria” di V-art Gallery untuk menonton film Banana in a Nutshell jadi dilanjutkan sesuai rencana ato harus berakhir seiring turunnya hujan. Tetapi kesepakatan telah bulat untuk nekat menembus hujan rintik-rintik menuju tempat pemutaran film di bilangan Jalan Adisutjipto.
Kalau kami datang tepat waktu sebelum waktu pemutaran seperti yang tertera pada jadwal acara pada brosur, tidak begitu dengan panitia. Kami harus menganggur 15 menit sebelum Alex mengeluarkan ide cemerlang untuk berfoto ria di dalam kafe. Maka beraksilah cahandong untuk bernarsis ria di depan kamera. Karena gak ada yg ngalah untuk memegang kamera, dipakailah cara memakai shutter otomatis buat memotret 4 manusia narsis tersebut. Untunglah tamu di seberang meja memahami kerepotan saya yang sedang berusaha memasang timer pada kamera. Adalah Chad dan Trish yang berbaik hati membantu kami berfoto ria. Sebagai imbalannya, kami mengajak mereka untuk berfoto bersama dalam sesi pemotretan narsis selanjutnya.

Chad, Trish, Zam, Mon n Lex

Brosur Festival Film Dokumenter
Chad dan Trish adalah pasangan suami istri berkebangsaan Amerika yang sedang belajar budaya Indonesia. Keduanya adalah wartawan. Chad seorang penyiar radio dan Trish adalah editor untuk The Jakarta Post. Acara menunggu pemutaran film mejadi sedikit menyenangkan karena Chad dan Trish bergabung dalam perbincangan hangat tanpa teh dan kopi karena harga yg tertera pada menu bisa bikin kantong bolong. Sampai pada akhirnya mbak-mbak waitress memberitahukan bahwa film Banana in a Nutshell akan diputar sebentar lagi di lantai 2 galeri.
Banana in a Nutshell bercerita tentang kisah cinta Roseanne Liang. Roseanne Liang dididik oleh Ayah dan ibunya untuk menjadi perempuan China yang sebenarnya. Roseanne belajar piano, balet, drama dan melakukan semua yang diinginkan kedua orang tuanya sampai dia jatuh cinta pada seorang pria New Zealand bernama Stephen. Film ini merekam dua perjuangan cinta Roseanne. Memperjuangkan cinta pada pria kulit putihnya dan cinta pada kedua orang tuanya.

Pemutaran Banana in a Nutshell
Banana in a Nutshell memenangkan penghargaan Best Director of Documentary Award pada Festival Film Asia 01 di Singapura. Film yang berdurasi hampir satu jam ini sayangnya tidak ditonton penuh oleh sebagian temen cahandong yang harus menunaikan solat maghrib.
Ketika film ini diputar, anggota cahandong sedikit2 mulai berkumpul. Ada Aad dan Didit (yg datang setelah sesi pemotretan bersama Chad n Trish), serta Mas Jaka dan Mbak Amma yang menyusul belakangan.
Film kedua yang diputar adalah Little Surabaya. Film yang bercerita tentang kehidupan orang2 Indonesia di Philadelphia. Tetapi sepertinya energi dan perhatian kami sudah habis ketika film ketiga, Antipodes, diputar. Mungkin karena film ini bertutur secara abstrak, kami enggak begitu paham dengan apa yang akan disampaikan oleh Antipodes. Sayang sekali Monika harus cabut ketika Little Surabaya tengah diputar.

Little Monika

Bergaya Setelah Nonton
Setelah itu, kami bersembilan; Zam, Mas Jaka, Mbak Ama, Didit, Aad, Alex, Chad, Trish dan Saya, melanjutkan perjalanan ke Ambarukmo Plaza untuk makan malam dengan jalan kaki. Trish yang mempunyai blog di www.kopisusu2.blogspot.com ini ternyata menyukai makanan Indonesia dan memilih es teler 77 sebagai tempat makan malam kali ini. Sekejap kemudian, dipesanlah es teler, bakso, mie ayam dan otak-otak secara sporadis.

Nunggu Pesanan A La Cahandong

Sedot Oom…
Selama menunggu makanan diantar, perbincangan tentang budaya amerika dan Indonesia yang dimulai sejak sore tadi dilanjutkan kembali. Memang mengejutkan seperti yg terekam pada “Little Surabaya” bahwa bayangan Amerika seperti film-film Holywood ternyata tidak seluruhnya benar. Chad membenarkan bahwa film “American Pie” sebagai “kebenaran secara komedi yang dilebih-lebihkan”. Trish meyayangkan bahwa hanya ada satu perusahaan bioskop yang memasarkan film di Indonesia. Bahwa orang-orang Indonesia kehilangan banyak kesempatan untuk melihat film-film lain yang tidak dipasarkan lewat jaringan 21.
Ketika ditanya tentang film kesukaannya, Chad mengaku menyukai film-film sinetron Indonesia. Dia menyukai keaslian ide, nilai budaya yang ditampilkan, dan scene-scene perkelahian yang ada di dalam sinetron hidayah dan sinetron laga sambil memperagakan beberapa jurus silat dengan tangannya. Cukup mengherankan mengingat sinetron-sinetron ini diklaim oleh banyak masyarakat Indonesia tidak disukai tapi tetap memperoleh rating yang tinggi. Chad mengaku ingin memperlihatkan sinetron laga kepada koleganya di Amerika tetapi dia kesulitan untuk memperoleh kopi CD ato DVD sinetron tersebut. Tidak ada solusi nyata dari kesulitan Chad yang bisa kami tawarkan karena tidak ada dari kami yang benar-benar ngefans dengan sinetron lokal seperti Chad.
Waktu makanan datang adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Es teler mengalir dari ujung meja ke ujung yang satunya. Bakso, mie ayam dan otak-otak seperti menggoda untuk segera dimakan. Tetapi tidak cukup untuk membuat rombongan ini khidmat menikmati sajian. Godaan terberat datang dari luar stan es teler 77. Di mana para muda-mudi (terutama para mudinya) Jogja keluar untuk bermalam minggu di Mall yang diklaim terbesar di Jogja-Jateng ini. Selain mengenyangkan perut juga menyegarkan mata. Benar-benar tempat yang ideal untuk relaksasi.
Setelah makan, Chad dan Trish memutuskan untuk pulang ke penginapan dan kami ingin melanjutkan acara dengan jalan-jalan santai di mall. Perpisahan itu diakhiri dengan kalimat “sampai jumpa di lain waktu”. Baik kopi darat maupun di dunia maya.
Ternyata bagi Zam dan Aad, kesempatan kali ini adalah kali pertamanya mereka menginjakkan kakinya di Ambarukmo Plaza. Maka dari itu kami memutuskan untuk berputar-putar tanpa tujuan yang pasti untuk menjelajahi mall dengan itikad agar Zam dan Aad mempunyai pemetaan kawasan terhadap Ambarukmo Plaza. Perjalanan berakhir di 21 di lantai paling atas Ambarukmo Plaza. Terbersit ide untuk menonton Eragon. Tetapi mengingat motor masih terparkir di V-art Gallery, kami membatalkan niat untuk nonton. Menunda sampai ada kata kesepakatan dari cahandong untuk menonton bareng di kesempatan lain.
Perjalanan pulang menjadi pengalaman yang berbeda dari perjalanan menuju Ambarukmo Plaza. Di setiap kesempatan, kami berfoto-foto dengan keceriaan narsis tingkat tinggi. Adalah Zam, Didit dan Aad yang menegaskan bahwa kedatangan mereka untuk pertama kalinya ini harus didokumentasikan sebagai bukti utama bahwa mereka sudah pernah datang di Ambarukmo Plaza. Penting sekali agar seluruh dunia bisa mengetahui hal ini lewat foto dalam blog.

Foto Bersama di Depan Plaza Ambarukmo
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam 10 menit harus ditempuh lebih lama karena harus berhenti untuk berfoto di bawah lampu jalan, menunggu Didit yang sedang mengulik kameranya, menghindar pedagang kaki lima yg mengangkangi trotoar, mengganggu tukang durian di jembatan Gajahwong, mengganggu mbak-mbak yang lagi nawar durian, berfoto di pinggir jembatan Gajahwong dan berfoto-foto lagi di depan logo V-art Galeri sebagai kenang-kenangan.
Tidak ada yang menyangka bahwa malam itu kami ikut merasakan bagaimana berinteraksi lintas budaya seperti yang ada dalam film Banana in a Nutshell sampai kami berkenalan dengan Chad dan Trish. Mengetahui Amerika lebih jauh dari penduduk “asli” dan melihat perspektif ke-Indonesia-an dari kacamata asing. Semoga hikmah bisa diambil sebagai momentum untuk memajukan cahandong.org dan Ngayogyakarta Hadiningrat pada umumnya.
(law)
Artikel terkait:
Blog
Dari Jelata
19 December 2006 02:45:30 pakai
hehehe,,, senengnya ketemu bule

sayang banget saya ga bisa sampe selesai,,, lagian kan pegel kalo jalan kaki dai v-art mpe amplas,,, *manja mode ON*
19 December 2006 07:08:32 pakai
iyo i monik, yg “menggagas” ide ini malah harus pulang duluan. Padahal acarane asyik, nyenengke pokok`e *hew ukoro iki meneh*. Mas lawni, daku juga baru pertama kok kesitu, dua2nya v-art dan atau ambarukmo plaza
Lhoo, biasane dolane nek sawah kok yo
[21-nya kapan kie?]
19 December 2006 14:53:14 pakai
;ah itu kembar ya si didit sama mas lawni… hohoho ternyata didit punya kakak toh..
19 December 2006 16:49:24 pakai
Hoi!!! somebody please edit these post! Aku dbkn pertama kali kesitu,tapi teteuup ketok ndeso

@ matahari :tengkyu buat mas lawni,esteler bertambah nikmat jika sampeyan yg bayari
@ templank :hmmm…belon ketemu aja kembaran lu do!!
19 December 2006 16:58:55 pakai
keren!!!
LIPUTANNYA HARUS DIACUNGI
CLURITJEMPOL!!!Wakaak.. kui kok poto sing nyedot kok raiku toh? ASyem tenan..
19 December 2006 17:50:52 pakai
wakakaka, maaf dah kalo ada yg salah
pake ralat ajah: didit udah pernah ke amplas sedangkan kmaren itu kesempatan mas jaka yg perdana. heuaheuahueahueahu…
19 December 2006 22:16:42 pakai
wueelokkk tenannnn postingane… tapi kok ndadak dipostingke nek aku lagi pisanan mlebu Amplas.. ketok ndeso
ak juga posting loh di blog-k
19 December 2006 23:16:50 pakai
aku ra melu iks ….. sedih
20 December 2006 03:36:22 pakai
Ada lagi yang mau bayarin Es Teler 77?
20 December 2006 09:16:05 pakai
wahhhhhhhhhhhhh..mantap sekaliiiiii..!!!!!!
20 December 2006 17:27:46 pakai
Hello - it’s Chad - I’m back in Jakarta and missing the atmosphere of Yogya. Glad to have met you guys at V-art. I reviewed the docs on the Aad_Gym website in case you are curious, but here I’ll just post a brief greeting. I hope you will all stay in touch! Who wrote the blog post above?
23 December 2006 19:21:24 pakai
capeeekk nya jalan dari v-art ke amplaz..tapi gpp wes suwe ra mlaku.sisan olah raga ben cilik meneh
ttep semangaaaatt bro!!
merdeka!!
23 December 2006 20:53:41 pakai
1. hwuuuah! kangen banget sama pemutaran2 film di jogja yang murah meriah *hiks hiks* mulai pemutaran film2 box office di aulanya FK dan di aulanya teknik, pemutaran film2 jiffest di vredeburg, film2 eropa di Pusat Kebudayaan Perancis, film2 dokumenter, anime di Societat, kangeeeeen! *hiks*
2. itu nontonnya kok di tipi kecil bangeeet!
3. seperti zam, saya juga gak pernah ke Plaza Ambarukmo, karena saya meninggalkan jogja sebelum tu plaza dibuka
4. haaaaah! Eragon sudah maeeen?????? di banjarmasin tidak ada bioskop *hiks hiks* nagis2 darah….
kesimpulan: berdoa semoga segera bisa ke jogja lagi dalam waktu dekat.