15 November 2018 • Selamat Malam

ngudarasa

Javaholic, Java Branding, City Concept, Rumpun Java

Selamat datang globalisasi! Pada Rumpun Java yang terpanggil untuk sadarkan diri atas panggilan genetika, semesta Java yang membumi dan menjadi napas hidup matinya bangsa ini. Culture yang diturunkan secara genetika akan memanggil siapapun jati diri manusia terhadap asal muasal dan alasan dirinya untuk hidup dan berbudaya.

Percayakah kita, bila lapisan kultur, budaya yang lahir lebih dulu dibandingkan religiusitas, aspek seni visual, tataran pasar, manajemen dan dialektika apapun atas nama peradaban apapun, mampu mengembalikan kita kepada kesadaran masa lalu dan penerangan masa depan. Kita tidak mungkin lupa terhadap asal-usul kita.

Betapapun kita telah melanglang buana mengitari jagat, terbenam dalam lautan materialis dan melakukan fanatisme atas nama agama dan kepercayaan. Relakah kita menyingkirkan kromosom-kromosom, akar budaya yang menjadi mata rantai keberadaan kita di muka bumi?

Buatlah teriakan-teriakan atas nama globalisasi, lakukan branding besar-besaran atas nama iklan dan kepentingan komersial, semua akan sirna dan tidak akan abadi melawan kekuatan budaya itu sendiri.

Tidak percaya? Bahkan saudara terdekat kita yang tinggal di Pulau Bali, adalah masyarakat nusantara pertama yang sadar dan kuat menghadapi arus globalisasi. Mereka membuka mata dan telinga, budaya mereka telah menjadi masterpiece dalam seni dunia. Mereka bertahan hidup dalam luas pulau yang hanya sepersepuluh pulau jawa, namun mereka telah menjadi bagian masyarakat dunia, lahir batin. Masyarakat Bali tidak akan pernah takut tergerus jaman, tidak takut menjadi korban arus kapitalisme, karena mereka telah menjadi kekuatan budaya itu sendiri.

Bagaimana dengan Java? Ah, kita telah berlelah diri mencoba membranding kanan-kiri dengan slogan-slogan atas nama trend, agama, post modernism, marketing, hitungan matematis dan jargon-jargon mentah yang dibawa oleh nabi-nabi marketing yang lupa terhadap budaya java itu sendiri.

Never Ending Asia, Jakarta Bersih manusiawi Wibawa, Go International………… International, Sekolah International dan segala inter-interan untuk membenarkan gerakan, mencoba mencari posisi menjadi masyarakat international, generasi MTV, cyber community yang ternyata hanya permainan para pelaku pasar. Ah betapa malunya kita terhadap saudara-saudara kita di Bali.

Java adalah Brand, Java adalah kekuatan, dan kita tidak sadar?

Apa bunyi slogan hidupmu saat ini? Apa sebenarnya branding yang tepat untuk kita bagikan untuk saya, anda, mereka, teman-teman di menara gading, tukang becak di pinggir jalan, seniman, para pejuang, para pemimpin? Apa yang menyatukan kita terhadap visi bangsa ini? Nasionalisme? Apakah anda yakin untuk tidak mengganti kewarganegaraan anda, Indonesia, suatu saat dengan kewarganegaraan Australia? Apakah anda yakin untuk tidak membeli apartemen di Singapore? Dan memilih tinggal disana atas nama kenyamanan hidup?

Percayalah, kata Indonesia adalah pernyataan politik, Pancasila adalah produk politik dan setiap warganegara berhak untuk tidak atau bermain politik. Maka lapisan kebangsaan adalah bagian yang paling mudah lepas, karena basis akarnya adalah permainan politik itu sendiri.

Bandingkan dengan Suriname, etnis Java yang hidup didaerah Pamaribo hingga saat ini selalu menyebut diri mereka “Orang Java”. Silakan runtuhkan wawasan kebangsaan anda, tapi jangan coba-coba menghilangkan akar budaya anda. Sebab Genetika Java sudah tertanam di tubuh kita, jauh sebelum kaki kita menginjak bumi.

Maka, kembalilah ke Java. Paling tidak, sebut kata Java berkali-kali dalam hidupmu. “Percayalah, Java adalah Brand untuk menyatukan kita semua, dalam tataran apapun, dalam tingkatan apapun.”

Sekuat apakah Java itu sendiri?

Cobalah sandingkan kata Java dengan kata Script. Akan menjadi derivate Java Script, sebuah bahasa pemrograman yang menjadi standar bahasa pemrograman jaringan internet di dunia. Java telah bermetamorfosis dalam alam cyber. Setiap saat kita menyebutnya, mengatakan dalam doa dan mantera dunia cyber. Betapa kita selalu menyebutkan kata Java lebih banyak dari doa-doa harian kita. Menggenggamnya dalam peralatan telekomunikasi handphone, yang lebih lama kita genggam dibandingkan kitab suci agama kita sendiri. Java telah berada setiap hari, bermetamorfosa menjadi alat-alat bantu. Dan sedihnya, kita tidak pernah berterimakasih atas kehadiran Java itu sendiri.
Terima kasih?

Silahkan bertarung wacana atas budaya Java, dan lihatlah kekuatan-kekuatan luar telah mengambil keuntungan dari kata Java itu sendiri. Microsoft, perusahaan software terbesar di dunia terpaksa harus menyerah untuk menyertakan “Code Java” sebagai bahasa utama untuk software browser Internet Explorer sejak tahun 1997. Dan para ahli-ahli pemrograman internet telah lama menggunakan kata Java dan mengumpulkannya dalam proyek riset internet bernama Gamelan Project (Netscape Navigator, 1996). Lalu kita hanya menjadi penonton, ketika karakter Semar dan Petruk menjadi tokoh pembantu dalam serial kartun Sponge Bob. Lalu kapan kita akan mengakuisisi kembali kata Java? Dan mengembalikannnya menjadi Brand bagi kita semua?

Javaholic : Mencintai Java Kembali, Lahir dan Batin!

Ah, biarkan para ahli dan budayawan yang membahas konsep Java secara keseluruhan. Gerakan kami adalah sebuah perlawanan kecil-kecilan, menggerakkan semangat Java lewat musik dan wacana kesadaran yang merakyat. Kami mencoba merebut kata Java kembali menjadi milik Java kembali. Kami yakin, kata Java adalah sebuah gen dari sebuah konsep brand besar yang bisa menjadi jalan dan atmosfer pelindung semesta terhadap tekanan wacana dunia. Maka kami mencoba mengemasnya lewat senandung-senandung kecil yang kami sebarkan ke satu dua sedulur dari seluruh posok negeri. Tiga empat dari negeri seberang, lima enam dari teman-teman pesisiran. Dan jutaan visi yang merindukan kehadiran java kembali dalam jiwa.

Hiduplah Java, brandinglah Java, gunakan visi dan setiap wacana anda untuk menghidupkan Java dalam batinmu. Dan menyublimasi menjadi sebuah kekuatan. Sebuah pola perlawanan, pertahanan dan cinta. Sebuah kehebatan tanpa henti.

Gunakan java, gabungkan dengan berbagai macam ide pikiran, sandingkan dengan kata-kata sederhana. Lihat hasilnya :

  • Java Community : Komunitas Java yang nyata hidup.
  • Java Anniversary : Sebuah perayaan peradaban Java.
  • Java Room : Ruang Java dalam setiap rumah, setiap bilik batin, sebuah dimensi.
  • Java Santri : Masyarakat Java yang bergerak dalam tataran religiusitas, namun terbuka dalam berpikiran dan berwacana. Santri java yang egaliter.
  • Semesta Java : konsep menguatkan budaya Java sebagai budaya semesta yang berposisi dalam wacana budaya global
  • Java Destiny – Culture Destiny : Bahwa Java adalah takdir.
  • ……… is Java : sebuah konsep pengakuan terhadap local content yang membentuk karakter produk sebagai bagian kekuatan budaya (Java).
  • Javaholic : Kepada siapapun, manusia dari segala penjuru bumi, membangkitkan kecintaan terhadap java kembali, lahir dan batin.

Jika wacana industrial digabungkan dengan kata Java itu sendiri, maka terjadilah wacana industrial yang kultural. Dan kultur akan memproteksi, dan budaya dapat menyelamatkan keberadaan mesin industri itu sendiri. Dan semoga Java bisa menjadi payung pelindung atas segenap produk berpikir peradaban manusia java itu sendiri.

Sony Set., & Adipati GK
Bunker Javaholic. GEN-K (genkkobra.blogspot.com)


4 Komentar

  1. matriphe

    kalo boleh komentar, Java yang dipakai dalam bahasa pemrograman diambil dari kata “kopi” yang juga memiliki nama “java” juga. Jadi “Java” yang dimaksud di sini dan “Java” yang ada dalam bahasa pemrograman adalah BERBEDA..

  2. thestoopid

    mungkin karena kita tinggal di jawa…
    coba kalo kita jadi orang batak
    “wuaaah orang batak keren2, ada yg jadi artis, jadi pengacara, bahkan banyak orang batak menduduki Jawa”

    kita mungkin akan berkata sperti itu
    juga berlaku untuk suku laen

    yaaah, mungkin sifat cauvinisme masih terasa kental di hati
    narsisme kedaerahan tepatnya ding

    wah postingnya bagus tuh!
    salut!

  3. triyanto

    Wah, cukup mengugah rasa mas, apalagi jika temanya di perluas. Mungkin lebih ke budaya ketimuran (masih rasialis tapi lebih luas :D).

    Kalau menurut saya, sebenarnya budaya kita itu sudah lebih maju dalam memaknai hidup. Tapi kok generasi2 muda kita lebih tertarik pada budaya barat ya? Budaya kita ini sudah sampai pada taraf spiritual, sedang mereka masih taraf material. Memang kalau soal kemegahan hidup kita terlihat kalah jauh, tapi kalau soal ketenangan hidup saya rasa masyarakat di desa2 masih unggul. Nah kita itu maunya yg tenang atau yang keliatan megah tapi hati gelisah ?

    Memang sulit untuk membandingkan budaya barat dan timur karena keduanya sudah pada level yang berbeda, tapi selama ini kok parameter pembandingnya sama dan lebih cenderung ke materinya. Dan budaya kita itu kalau mau ukur cukup sulit karena sudah ke taraf spiritual yang memang susah di rasionalkan. Bagaimana kita mengukur jiwa seseorang secara obyektif? Bagaimana kita mendalami pagelaran wayang kulit sehingga kita tahu pesan2 apa yang mau di sampaikan bukan hanya sekedar lihat wayang di jajar2?

    Dan kalau di perhatikan sekarang ini, mulai ada orang barat tertarik ke sisi spiritual yang memang susah di rasionalkan. Salah satu contoh nyatanya adalah mulai maraknya YOGA. Inikan juga budaya timur, kita sudah akrab dengan hal seperti ini (semedhi kalau jawanya). Apa ndak kepikiran nanti kita ngikut juga trend ini. Kok rasanya kita ini jadi pengekor terus.

    Kalau kita coba kupas perusahaan2 yang cukup sukses, kita mungkin akan sedikit terkejut karena di dalam perusahaan itu ada budaya kita. Bagaimana perusahaan itu memperlakukan pekerja sebagai manusia bukan mesin pekerja. Bagaimana pemikiran2 mereka di hargai walau statusnya hanya jongos, mereka mengharagi manusai sebagai ciptaaan Tuhan bukan aset perusahaan.

    Ada yang bilang “Kita ini ikan yang mencari air”

  4. masgeger

    javaholic = kecintaan lahir dan batin terhadap jawa / kejawaan
    ini bukan masalah rasialis, ini adalah bagaimana kita bisa paham tentang bagaimana kita bisa paham kekuatan diri dan paham pula bagaimana glokalisasi.
    javaholic sebagai sebuah kesadaran untuk itu.
    bukan untuk menonjolkan diri atau “narsisme”
    ini adalah bagaimana kita bisa menghargai diri kita sendiri dan paha m bahwa semua adalah “Culture Destiny”

    ada harapan suatu ketika ada sundaholic, batakholic tau holic2 yang lain. agar kesadaran kesukuan dan perbedaaan mengembalikan kita pada semangat “bhineka Tunggal Ika”


Silakan Berkomentar

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

karangmalang