22 January 2018 • Selamat Pagi

dolan

Nasibmu kini, Museum Perjuangan

Mungkin banyak yang melupakan keberadaan museum yang satu ini. Wajar memang, karena museum ini sudah tidak dipergunakan lagi dan kalah pamor dengan museum-museum lain yang bertebaran di wilayah kutha Ngayogyokarta Hadiningrat seperti Monjali, Museum Batik, Museum Biologi dan lain sebagainya. Dan sedikit pula yang mengetahui lokasinya, bahkan warga Asli yogya sendiri.

Namanya Museum Perjuangan dan terletak di Jl. Kolonel Sugiyono 24, Yogyakarta. Musium ini berdiri atas inisiatif panitia peringatan “Setengah Abad Kebangkitan Nasional Propinsi DIY” pada tahun 1958 di mana dimaksudkan untuk mengenang Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia. Pembangunan museum ini memakan waktu sekitar 3 tahun.

Pada tanggal 17 Agustus 1959, Sri Paku Alam VII meletakkan batu pertama sebagai tanda dari awal pembangunan museum. Dan baru pada tanggal 29 Juni 1961 pembangunan dapat selesai dengan ditandai dengan peletakkan batu terakhir. Peresmian dan pembukaan museum pun dilakukan oleh Sri Paku Alam VII.

Antara tahun 1961–1963 museum ini dikelola oleh Panitia “Setengah Abad Kebangkitan DIY”. Namun antara tahun 1963–1969, museum yang termasuk dalam jenis Museum Khusus ini mengalami kesulitan dalam pendanaan sehingga akhirnya ditutup untuk umum. Penutupan ini masih terus berlanjut sampai tahun 1974 namun keberadaannya sudah dibawah Pemda DIY, c.q Inspeksi Kebudayaan Dinas P & K Propinsi DIY. Tahun 1974–1980, Museum Perjuangan masih ditutup namun pengelolaannya dilimpahkan ke Kanwil Depdikbud Propinsi DIY.

Akhirnya, pada tahun 1980 – 1997, museum ini disatukan dengan Museum Negeri Sonobudoyo, dan baru dibuka kembali untuk umum. Dan pada tanggal 5 September 1997, Museum Perjuangan disatukan dengan Museum yang seaspek (Museum Sejarah) yaitu Museum Benteng Yogyakarta dan menjadi Museum Benteng Yogyakarta Unit II.

Walaupun begitu, bangunan awal dari museum ini masih berdiri tegak. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kejayaannya dulu. Walau ditutup, museum ini masih ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin bernostalgia sekedar melepas kerinduan, tempat yang asyik juga dijadikan tempat nongkrong, tempat buat pacaran (malam hari), tempat makan, karena kalau malam hari kita bisa menjumpai warung kaki lima yang cita rasa makanannya mampu mengenyangkan perut yang lapar dan tentunya yummy serta hemat (soto, bakmi goreng, bakmi godog, nasi goreng, angkringan, dsb).


7 Komentar

  1. chocoluv

    bukannya habis gempa njuk ambruk, mbak?

  2. matriphe

    loh? wis ambruk to?

    saya penasaran sama tempatnya lo, padahal…

  3. amma

    ambruk opone? wong tak poto tanggal 7 november 2006 kok..isih ngadeg tho tandane :P..
    yuk..kapan2 ketemunya disana..huehue..

  4. say

    weh setuju kapan kita ketemuan trus ambil gambar disana. eh… bukan ambil gambar ding, maksud saya foto². nek ambil gambar bisa² aku celaka mengko…..

  5. yudha

    saya baru kesana kemaren. sedang direnovasi, namun tampaknya kurang pas. banyak aspek dari museum tersebut yang sirna, terutama dari segi arsitekturnya. dari segi desain, museum dan bangunannya unik sekali. perlu promosi dan kreatifitas tingkat tinggi untuk memberdayakan museum ini.

  6. meta

    dibangun lagi ajj pke semen gresik pasti kokoh… hahahah

  7. Maria Retnaningrum

    woh.
    waton nek ambruk 8-|
    wong masih beridir kokoh sampe sekarang kok…
    sekarang juga masih terbuka untuk umum…
    tapi memang, kalah pamor dengan museum lain..
    mungkin karena biro perjalanan wisata nggak pernah mencantumkan ini sebagai salah satu tujuan wisata…
    hehe


Silakan Berkomentar

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

kentungan